Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Bertemu dengan Zaid Lagi


__ADS_3

Ada perasaan tenang saat pasangan suami dan istri itu melakukan rekonsiliasi. Belva pun yang secara usia lebih dewasa juga berusaha untuk menenangkan dan memberikan penjelasan kepada Sara. Lagipula, Belva pun mengatakan hal yang sebenarnya bukan sebatas omong kosong. Belva hanya mencintai Sara, tidak akan terpikat atau terjerat dengan wanita lain.


“Jadi, aku dimaafkan?” tanya Belva lagi.


“Iya,” sahut Sara dengan singkat.


“Akhirnya,” jawab Sara dengan helaan nafas panjang. Ada rasa lega di dadanya saat sang istri yang sangat dia cintai memaafkannya.


Belva berjanji akan menyelesaikan segala sesuatu di kantor. Lagipula, dia sudah tahu siapa dalang yang dengan sengaja memotretnya diam-diam dan membuatnya seolah-olah memiliki affair dengan sekretarisnya sendiri.


“Evan di mana Mas?” tanya Sara kemudian kepada suaminya itu. Sebab, ada yang kurang saat melihat Belva dan tidak melihat Evan.


“Di rumah Amara, menginap di sana. Sebab, aku baru berjuang untuk melembutkan hatimu,” ucap Belva sembari mengusapi puncak kepala Sara.


Sebuah pengakuan jujur dari Belva bahwa dirinya tengah berjuang untuk melembutkan hati Sara. Untung saja tidak membutuhkan waktu berlarut-larut, dan Sara sudah memaafkannya. Perjuangannya berhasil untuk melembutkan hati Sara dan mendapatkan maaf dari istrinya itu.


“Kangen Evan,” ucap Sara dengan terisak.


“Mau tidur di Villaku?” tanya Belva kepada istrinya.


Rupanya Sara dengan cepat menganggukkan kepalanya, dia menyetujui ajakan Belva untuk menginap di villa miliknya. Lagipula, Sara sudah rindu dengan Evan, sehingga Sara ingin memeluk putranya itu.


Belva pun segera menuntun Sara keluar dari rumahnya, membantunya untuk masuk ke dalam mobil. Kemudian Belva mulai menjalankan mobilnya menuju villa yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Sara. Hari memang sudah malam, tetapi Belva tidak masalah untuk kembali mengajak Sara menuju ke villanya.


Perjalanan hampir lima belas menit, dan sekarang dirinya sudah tiba di halaman depan villa yang begitu indah itu. Belva menggandeng tangan Sara dan membawanya untuk memasuki villanya, “Masuk Sayang,” ucapnya mempersilakan Sara masuk.


Begitu masuk, yang Sara tuju pertama kali adalah kamar Evan. Sara dengan cepat menuju ke tempat tidur di mana Evan sudah terlelap dan segera memberikan kecupan sayang di kening Evan.


“Mama datang, Nak,” ucapnya.

__ADS_1


Belva pun segera merangkul bahu Sara, “Dia sudah tidur. Lagipula, sekarang sudah malam. Sekarang kita juga harus tidur. Sudah malam, kamu juga kecapekan,” ucap Belva.


Belva kemudian menuntun Sara untuk masuk ke dalam kamarnya yang terkoneksi dengan kamar milik Evan. Pria itu segera berbaring di sisi Sara, dan menelisipkan tangannya sebagai tempat bersandar bagi Sara.


“Tidur Sayang … aku akan memelukmu sepanjang malam ini. I Love U,” ucap Belva.


Tertidur di dalam pelukan hangat Belva, sembari menghirupi aroma parfume yang begitu segar merupakan perpaduan yang membuat Sara lebih cepat tertidur. Wanita itu akhirnya, terlelap dalam dekapan Belva.


Hingga pagi menyapa, Sara terbangun. Wajahnya cukup sembab, tetapi wanita itu mengulas senyuman di wajahnya karena melihat Belva yang masih berbaring di sampingnya.


Sara dengan perlahan turun dari ranjangnya, dan kemudian menuju ke kamar Evan terlebih dahulu. Sara rasanya ingin membangunkan putranya itu. Sara tersenyum melihat Evan yang masih terlelap. Kemudian mencium kening putranya itu.


“Pagi putranya Mama,” ucap Sara.


Evan yang mendengarkan suara Mamanya pun perlahan mengerjap. Anak itu terbangun dan mengembangkan senyuman di wajahnya.


Ya Tuhan, hati Sara benar-benar membuncah mendengarkan sapaan manis dan begitu hangat dari putranya itu, Sara pun segera memeluk Evan dengan penuh sayang.


Setelahnya, rupanya Belva terbangun. Pria itu juga menyusul Sara dan juga Evan. Ketiganya berada dalam satu ranjang, dengan Evan yang berada di tengah-tengahnya.


“Hari ini Evan mau main sama Jerome ya Pa … mau jalan-jalan,” pamitnya.


“Iya boleh … hanya saja jadi anak yang baik yah, jangan rewel,” balas Belva.


Terlihat kini Sara bersiap memandikan Evan, sembari melihat pembantu di villa itu membuatkan sarapan. Begitu Evan sudah bersiap, sudah sarapan, dan hendak jalan-jalan dengan Amara. Belva dan Sara juga mengantarkan Evan sampai ke rumah Amara yang berada di belakang villa milik Belva.


“Mas, aku mau ke Coffee Bay boleh?” tanya Sara kepada suaminya itu.


“Boleh. Yuk, aku antar,” jawab Belva.

__ADS_1


Pria itu kemudian mengambil mobilnya dan mengantarkan Sara menuju ke Coffee Bay. Cukup terkejut, rupanya Zaid pun juga sedang memarkirkan mobilnya dan hendak masuk ke dalam Coffee Bay. Melihat sosok Zaid, Sara pun secara refleks menyapanya.


“Zai,” sapa Sara dengan lirih.


“Hei, Sara … kamu sedang di Bogor?” tanyanya. Kemudian Zaid mengarahkan pandangannya ke arah Belva dan menyapa suami dari wanita yang dulu pernah dicintainya itu. “Hei Pak Belva,” sapa Zaid sembari mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Belva.


Belva pun mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Zaid. “Oh, hei,” sapa Belva.


Kemudian ketiganya bersama-sama memasuki Coffee Bay. Ada Nina dan beberapa karyawan yang menyapa mereka. Kemudian Sara, Belva, dan Zaid duduk bersama dan mengobrolkan sesuatu. Terlihat Zaid yang melihat perut Sara yang lebih membuncit. Pria itu sontak bertanya kepada Sara.


“Sara, kamu sudah isi yah?” tanya Zaid tanpa berbasa-basi lagi.


“Iya,” balas Sara.


“Wah, Pak Belva rupanya sangat jago yah … baru beberapa bulan menikah sudah berhasil,” balas Zaid.


Belva hanya tersenyum dan menggenggam tangan Sara. Tidak ada kecemburuan yang ditunjukkan Belva kepada pria yang dulu pernah menaruh hati kepada istrinya itu. Keadaan sudah benar-benar berubah, Belva pun juga mempermasalahkan pertemanan Sara dan Zaid.


“Pak Belva, apa kamu punya sekretaris baru?” tanya Zaid dengan tiba-tiba.


Jujur saja Sara begitu terkejut. Dia ingin menghindari segala sesuatu terkait sekretaris baru suaminya itu, tetapi justru sekarang Zaid pun menanyakan hal yang sama.


“Bagaimana kamu bisa tahu, Zai?” tanya Sara kepada Zaid.


Zaid tampak menghela nafas dan akhirnya menatap Sara, “Aku kenal dia … dia adalah temannya Kak Anthony,” balas Zaid.


Kemudian Zaid menatap Belva, “Sebaiknya, kamu pecat saja dia Pak Belva,” ucap Zaid.


Entah apa yang tidak diketahui Sara dan Belva, tetapi mendengar ucapan Zaid agaknya ada yang tidak beres dengan sosok Annisa. Belva akan mempertimbangkan dan mengorek informasi lebih dalam untuk memutuskan memecat sekretarisnya itu. Tidak terlihat ada bukti yang memberatkan, maka Belva tidak akan segan-segan untuk memecatnya.

__ADS_1


__ADS_2