
“Jawab Sayang … apa pun jawaban yang kamu berikan tidak masalah kok. Yang penting kamu benar-benar sudah sembuh dan tidak palang merah lagi. Tenang saja, aku tidak akan marah. Kamu lupa? Aku kan sudah pernah puasa sampai dua tahun,” balas Belva saat ini.
Kali ini, Belva meyakinkan Sara bahwa apa pun jawaban yang diberikan oleh Sara tidak menjadi masalah bagi Belva. Dia akan menerima apa pun dengan senang hati dan tidak akan marah kepada Sara.
Jika biasanya para suami akan uring-uringan bahkan menjadi marah-marah karena tidak terpenuhi ladang batinnya. Tak jarang meminta cara lain agar hasratnya terpuaskan, tetapi tidak dengan Belva. Selama Sara belum sepenuhnya pulih dan selesai, Belva tidak akan memaksakan kehendaknya. Cukup sesekali bermimpi, dan semuanya sudah cukup bagi Belva.
“Boleh, cuma di dada jangan yah Mas,” balas Sara dengan lirih.
Ada satu hal yang Sara ingatkan jika suaminya jangan memberikan godaan di area dadanya. Sebab, sedikit serangan saja bisa membuat ASInya keluar.
Belva tersenyum, “Di situ, gas tipis-tipis saja Sayang,” balasnya.
Dengan masih mempertahankan Sara di pangkuannya, Belva menarik dengan lembut dagu Sara. Kemudian pria itu mulai melabuhkan bibirnya tepat di antara kedua belah lipatan bibir Sara. Memberikan sapuan yang hangat sekaligus basah dengan ujung lidahnya, hingga akhirnya Belva memagut bibir Sara dengan begitu lembutnya, mengajak Sara menari bersama, saling memberikan usapan dan godaan di indera perasa dan pencecap itu. Rasa manis berpadu hangat dan basah, sukses menghadirkan decakan demi decakan saat keduanya bersatu.
Belva memiringkan kepalanya, berusaha mencari posisi untuk benar-benar melu-mat dan mencumbu bibir Sara. Lidahnya mulai menelusup dan memberikan usapan bahkan belitan di rongga mulut Sara. Ada helaan nafas Sara dan cengkeraman tangan Sara di bahu suaminya pun kian menguat. Sebatas berciuman bibir seperti saja, Sara sudah rasanya kalang kabut.
Jika ini adalah perjalanan melintasi samudera, sudah tentu Sara tidak memiliki kompas di tangannya karena suaminya yang membuat bahteranya oleng dan membiarkan terpaan gelombang perlahan-lahan menerpanya.
Belva menarik wajahnya, pria itu tersenyum melihat wajah Sara yang memerah, “Cantik banget,” ucapnya kali ini.
Pria itu kemudian melepaskan jas yang masih dia kenakan dan membuangnya asal di lantai, kemudian Sara pun tersenyum. Seakan jari-jarinya bergerak otomatis dan mengeluarkan kancing-kancing kemeja putih yang Belva kenakan dari sarangnya. Hingga dada bidang Belva terlihat di sana.
“Biar aku yang handel yah, kamu nikmati saja,” ucap Belva dengan menatap wajah Sara.
Tanpa berkata-kata, Belva mengajak Sara untuk berdiri, kemudian dia menarik resleting di gaun berwarna gold yang saat ini Sara kenakan. Begitu resleting terlepas, Belva membawa tangannya, menyingkap gaun itu di area bahu hingga membuat gaun itu teronggok begitu saja di lantai kamarnya yang dingin.
Belva memandang tubuh Sara yang tentunya hanya mengenakan strapless braa dan segitiga berbentuk renda di bawahnya. Tangannya bergerak dan mengusap perut Sara, sedikit di bawah pusarnya ada luka melintang di sana.
“Ini sayatan Caesarnya yah?” tanyanya.
“Hmm, iya,” jawab Sara. Sejujurnya diperlakukan seperti ini membuat Sara sangat malu, tetapi dengan suaminya, Sara akan memasrahkan dirinya.
“I Love U,” ucap Belva dengan kembali melabuhkan ciumannya kali ini dengan nafas yang memburu, dengan sedikit sentakan, Belva kemudian menjatuhkan tubuh keduanya di atas ranjang hingga terjadi pantulan di ranjang itu, dan Belva mulai menindih tubuh Sara.
__ADS_1
Bibir yang semula merasai hangat dan manis di bibir dan rongga mulut Sara, kini berpindah memberikan jejak-jejak basah di leher Sara. Lama tidak disentuh suaminya selama masa palang merah, rasanya nafas Sara menjadi kepayahan, bahkan wanita itu mende-sah hingga mende-sis tak kuasa dengan godaan yang diberikan oleh suaminya.
“Mas,” ucapnya dengan nafas yang terengah-engah.
Tak menghiraukan panggilan Sara, tangan Belva menyusup dan kemudian melepaskan pengait di balik punggung Sara itu. Hingga dua buah persik dengan ukuran yang lebih besar karena istrinya itu sedang meng-ASI-hi terlihat jelas di hadapan Belva. Walau Sara sudah mengatakan bahwa jangan memberikan godaan di area dadanya. Akan tetapi, buah persik yang ranum dan justru kian besar ukurannya sungguh menggoda Belva. Hingga Belva pun mulai membawa lidahnya bermain-main di sembulannya, memberikan godaan dan meninggalkan jejak-jejak basah di sana.
“Ah, Mas … jangan digigit,” ucap Sara dengan menahan suara saat merasakan gigi Belva yang sudah memberikan gigitan kecil di puncak buah persiknya yang sudah menegang.
“Gemes Sayang,” balas Belva yang justru mengulangi lagi hingga dua sampai tiga kali.
Belva kemudian membawa wajahnya kian turun, dia memberikan kecupan di luka bekas sayatan melintang di bawah pusar Sara itu. Memberikan isyarat bahwa dari sayatan itulah putranya lahir, sehingga beberapa kecupan Belva jatuhkan di sana, dan kemudian Belva melepaskan segitiga yang terbuat dari kain berenda di tubuh Sara. Pria itu bergerak turun, dan melabuhkan wajahnya di sana. Memberikan usapan dan tusukan dengan lidahnya. Membuat Sara kian menggeliat dan meremas sprei yang berada di bawahnya.
“Ah, Mas … Mas,” racau Sara dengan menutup mulutnya sendiri. Jangan sampai terlalu kencang mende-sah hingga membangunkan Elkan yang tertidur di box bayi di dalam kamarnya.
Namun, Belva seakan tidak memberikan ampun, terus memberikan invansi, sampai Sara merasakan tubuhnya bergetar, wanita itu menelungkungkan dadanya, dan memekik saat merasakan pelepasannya. Nafasnya terengah-engah dan matanya terpejam begitu dramatis.
Belva lantas melepaskan celana yang dia kenakan, tampil dalam kepolosan di hadapan Sara. Kemudian Sara sedikit duduk, dan memberikan sapaan di pusaka suaminya itu dengan lidahnya. Membenamkan pusaka itu dalam rongga mulutnya yang hangat, hingga Belva menengadahkan wajahnya dan mengusapi puncak kepala Sara.
Kemudian Belva membuka kedua paha Sara, pelan-pelan dia mulai menghunuskan pusaka itu ke dalam cawan surgawi milik Sara. Menghentakkan pinggulnya perlahan dengan gerakan seduktif keluar dan masuk, menghunus, dan juga menghujam dilakukan berganti. Belva sampai membawa miliknya keluar dan menghujamnya masuk ke dalam menerobos cawan surgawi beberapa kali, sampai akhirnya dia memejamkan matanya dan menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Sara. Gerakan seduktif yang dia lakukan makin kacau.
Bak lupa karena semua kenikmatan yang dia rasakan dan cengkeraman cawan surgawi milik Sara membuat Belva menggeram, pria itu menyambar kembali buah persik milik Sara, memberikan usapan demi usapan dengan lidahnya, bahkan memberikan gigitan-gigitan kecil di sana.
“Astaga Sayang … astaga,” racau Belva dengan membuang nafas dengan kasar.
Sungguh, setelah berpuasa dua bulan lamanya, dan kini pusakanya kembali menikmati sarangnya. Sarang yang berbalut kenikmatan yang tak bisa terdefinisikan.
Pun sama halnya dengan Sara yang memejamkan matanya, membiarkan suaminya terus menghujam, terus melesakkan pusakanya, hingga Sara membawa kedua kakinya melingkari pinggang Belva dan tangan yang mendekap erat tubuh suaminya yang sudah basah dengan peluh yang keluar dengan sendirinya.
“Uh, Mas,” ucap Sara dengan nafas yang kian berat.
Sungguh, bahteranya kian mendapatkan terpaan gelombang. Sara tak mampu lagi bertahan, dia bisa merasakan sesuatu di bawah sana, merasakan godaan dan gigitan yang Belva berikan di puncak buah persiknya.
“Luar biasa Sayang,” ucap Belva dengan nafas yang memburu.
__ADS_1
Hujaman Belva kian menjadi-jadi rasanya, sampai akhirnya pria itu menggeram dengan mata terpejam, dan tubuhnya bergetar, menahan tubuh yang liat dan basah itu dengan kedua tangannya.
“I Love U Sayang … I Love U,” ucap Belva dengan terengah-engah di kala dia merasakan benar-benar meledak saat ini.
Sensasi yang dia rasakan setelah dua bulan berpuasa benar-benar luar biasa. Seolah kembang api dan percikannya yang indah berhamburan di depan matanya.
Di saat yang sama, Sara pun merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tidak bisa lagi dia jelaskan dengan kata-kata, beberapa detik berlalu, sampai akhirnya kenikmatan itu berganti dengan situasi panik saat Sara merasakan ASI-nya keluar dengan sendiri.
“Mas, tissue Mas … tissue, cepat dong,” ucap Sara.
Bahkan ASI itu sampai mengenai sisi wajah Belva.
“Astaga Sayang,” ucap Belva dengan menyambar tissue dan memberikannya kepada Sara.
Menggunakan tissue, Sara menekan area payu-daranya yang mengeluarkan ASI, menahannya sesaat sampai ASI itu berhenti. Sementara Belva menenangkan diri, mendinginkan suhu tubuhnya dengan membantu Sara membersihkan dadanya.
“Kamu sih gigit-gigit tadi … jadi keluar deh,” gerutu Sara.
Belva justru tersenyum dan mengusapi sisi wajah Sara, “Gemes Sayang … itu artinya kamu melepaskan hormon oksitosin yang membuang stress yang kami alami, dan hormon pemicu ASI menjadi bertambah, lebih produktif nanti ASInya,” jawab Belva.
“Ngeles saja … kan enggak boleh godain, ini area terlarang,” gerutu Sara lagi.
Belva segera memeluk istrinya itu.
“Maaf … lain kali gak lagi deh. Mamas janji. Maaf yah,” ucap Belva dengan lembut.
“Hmm, iya ….”
Tidak mengira bahwa di saat dia mencapai puncak di saat bersamaan justru ASI-nya keluar begitu saja. Sungguh, baru kali ini Sara merasakan demikian. Dia pun heran karena sampai ASI-nya keluar dalam jumlah yang cukup banyak.
Info:
Ibu menyusui yang berhubungan suami istri bisa mengeluarkan ASi karena tubuh memproduksi banyak hormon oksitosin. Hormon ini terlibat dalam kehamilan dan masa menyusui, dia memicu kontraksi pada sel-sel kelenjar susu dan memaksa keluarnya ASI.
__ADS_1