Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Agenda Honeymoon


__ADS_3

Selepas sepekan berlalu, Anin benar-benar mengagendakan Honeymoon untuk Sara dan Belva. Dia tidak ingin mengulur waktu terlalu lama. Lebih dari itu, Belva juga terlihat dingin kepada Sara. Maka dari itu, Anin pun beranggapan bahwa dia akan mendekatkan suaminya dengan Suara supaya Belva bisa segera menghampiri Sara.


"Sara, ada kota yang ingin kamu datangi?" tanya Anin kepada Sara saat ini.


Setidaknya untuk masalah tempat yang ingin dikunjungi oleh Sara, Anin akan memberikan kesempatan kepada Sara untuk memilih kota mana yang hendak menjadi tempat honeymoonnya.


Dengan cepat Sara menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu harus kemana, Kak. Sejauh ini, yang kutahu hanya lah kawasan Jabodetabek. Aku tidak tahu tempat yang lainnya," sahut Sara.


Tidak dipungkiri karena Sara dulu juga dari kalangan kelas menengah ke bawah. Dirinya jarang diajak oleh mendiang Ayah dan Ibunya untuk bertamasya. Kalau pun bertamasya, itu pun hanya di dalam kota dengan menumpangi Kereta Rel Listrik (KRL) yang begitu riuh dengan para penumpang.

__ADS_1


Ada rasa iba di dalam hati Anin saat mengetahui bahwa Sara rupanya hanya sebatas mengetahui kawasan Jabodetabek saja, dan itulah harus berdesak-desakan dengan menggunakan Kereta Rel Listrik.


"Katakan padaku, kota mana yang ingin kamu kunjungi? Aku akan memesankan tiket ke sana dan juga hotel untuk tempat tinggal kalian selama bulan madu." Lagi Anin bertanya, kali ini dia akan memberikan sedikit kebahagiaan bagi Sara.


Tidak ada salahnya memberikan hadiah bulan madu kepada Sara sebelumnya wanita itu akan mengandung nanti. Setidaknya bepergian dengan perut yang membuncit akan lebih melelahkan.


Saat Anin bertanya, rupanya Belva terlihat tengah menuruni anak tangga. Melihat Belva, Anin pun lantas menanyai suaminya itu.


Belva pun perlahan menghentikan langkah kakinya, pria itu tampak mengamati Anin dan Sara bergantian. Kemudian satu tangannya bergerak untuk masuk ke dalam saku celananya. "Terserah Sara saja, biarkan dia yang memilih mau kemana. Aku tidak masalah," jawab Belva dan kemudian pria itu berlalu pergi begitu saja.

__ADS_1


Anin mengangguk mendengar jawaban Belva, tetapi dia masih memperhatikan punggung Belva yang kian menjauh itu. Baginya Belva tetap menjadi sosok pria yang dingin. Pria itu selalu menatap wajah orang lain dengan acuh tak acuh.


Helaan nafas pun dikeluarkan oleh Anin melalui indera penciumannya, "Hah, sebatas bulan madu saja kenapa repot seperti ini," gumam Anin sembari memperhatikan wajah Sara yang kini sedang menunduk.


"Ayo Sara, pilihlah. Kemana pun kamu mau tidak menjadi masalah, anggap ini perjalanan wisata menyenangkan bagimu sebelum mengandung nanti," ucap Anin lagi yang seolah begitu mengharapkan jawaban dari Sara.


Sara pun diam, dia merasa bingung harus mengunjungi kota mana. Bukankah semua kota begitu indah bukan? Lagipula Sara pun juga memikirkan saat bulan madu nanti mungkinkah dia bisa juga berjalan-jalan menikmati keindahan kota yang dia datangi.


"Cepat jawab aku, jika tidak aku yang akan memilihkannya untukmu," desak Anin sekali lagi supaya Sara segera menjawabnya.

__ADS_1


"Terserah kamu saja, Kak," jawab Sara pada akhirnya.


Agenda bulan madu ini adalah ide dari Anin, jadi menurut Sara akan jauh lebih baik jika dia mengikuti saja apa yang dipilihkan Anin baginya. Sembari Sara berdoa dalam hati, semoga saja dirinya bisa lebih siap saat Belva menghampirinya lagi nanti.


__ADS_2