
Malam ini cukup mengejutkan bagi Zaid. Dia tidak tahu jika Sara nyatanya hanya sekadar menikah secara mut'ah. Zaid pikir saat melihat Sara, melihat bagaimana suaminya dulu yang begitu melindunginya, semua menunjukkan bahwa suami Sara adalah pria yang benar-benar mencintai Sara dan menjaga Sara.
Tidak menyangka bahwa Sara hanya sekadar menikah secara kontrak untuk melahirkan seorang penerus bagi pria itu. Semuanya terasa tidak bisa diterima oleh Zaid.
Sepanjang malam, Zaid nyaris tidak bisa tertidur. Memikirkan cerita Sara dan kebenaran yang selama ini disembunyikan Sara.
Aku tidak menyangka Sara…
Kupikir suamimu itu sangat mencintaimu…
Semua yang terlihat di depan mataku, nyatanya tak sebanding dengan kenyataan yang sebenarnya…
Kenapa kamu mau melakukannya, Sara?
Kenapa kamu mau dinikahi secara mut'ah?
Kenapa kamu melahirkan seorang bayi bagi pria itu?
Jujur saja banyak sekali pertanyaan di dalam benak Zaid. Sementara Sara sendiri nyatanya tidak menceritakan semuanya secara gamblang. Zaid berkeyakinan akan bertanya lagi kepada Sara dan mendengarkan semua cerita dari wanita itu.
Keesokan harinya, Zaid kembali menyambangi Coffee Bay milik Sara. Bukan sekadar melihat proses hari kedua pembukaan coffee shop milik Sara. Akan tetapi, ada juga yang harus Zaid tanyakan kepada Sara di waktu senggang nanti.
"Pagi Sara … kamu datang ke mari pagi banget?" sapa Zaid begitu memasuki Coffee Bay.
Wanita yang tengah mempersiapkan berbagai bahan untuk minuman dan menata gelas cup itu pun menoleh ke arah pintu di mana Zaid datang.
"Oh, pagi Zaid … kamu tidak ke kafemu?" tanya Sara.
Pria itu pun tertawa, "Kafeku sudah bisa berjalan tanpa aku, Sara … sementara di sini baru akan menjalani hari kedua. Jadi, aku di sini saja. Lagipula, aku siap membantu kapan pun dibutuhkan," balas pria itu.
"Aku tidak mampu membayarmu, Zaid. Kamu terlalu experts," sahut Sara.
__ADS_1
Tentu saja Sara hanya sekadar bercanda. Sebab, bagaimana di mata Sara, Zaid terlihat begitu handal dalam menggarap kafe miliknya. Bahkan kafe Zaid sudah berdiri di tiga kota sejauh ini. Itu sudah menjadi bukti bahwa Zaid memiliki jiwa entrepreneurship yang baik.
"Kamu tidak perlu membayarku, Sara," sahut Zaid dengan cepat.
Hingga akhirnya karyawan yang dikerjakan Sara pun telah tiba. Nina, Miko, dan Andy adalah tiga karyawan yang bekerja di Coffee Bay untuk Sara. Sekalipun baru hari yang kedua, tetapi ketiganya rupanya terbilang pegawai yang rajin karena mereka sama sekali tidak telat.
"Pagi Bu Sara … Pak Zaid," sapa ketiganya nyaris bersamaan.
"Pagi …." sahut Sara dan Zaid nyaris bersamaan.
"Sudah aku persiapkan yah, nanti kalian boleh atur lagi. Terus nanti Miko atau Andy tolong antarkan es kristal yang aku beli yah," ucap Sara.
"Ya Bu," sahut Miko dan Andy.
"Jangan memanggilku Bu … seolah-olah aku sudah begitu berumur. Lagipula, usiaku hanya beberapa tahun saja di atas kalian. Panggil Mbak saja," pinta Sara.
Mendengar permintaan dari Sara, ketiganya tertawa. Sungkan sebenarnya harus memanggil Bosnya itu dengan panggilan Mbak. Sebab, biasanya Bos dipanggil dengan sebutan penghormatan.
Hingga akhirnya sepanjang hari berjalan dan di hari kedua ini Coffee Bay berhasil menjual 315 cup. Peningkatan yang signifikan bagi Coffee Bay yang tergolong masih begitu baru.
"Terima kasih buat hari ini yah … sampai jumpa lagi besok," ucap Sara yang berpamitan dengan karyawannya itu.
Tidak berselang lama, rupanya Zaid kembali datang. Pria itu tampak membantu Sara menurunkan pintu.
"Aku bantu, Sara … masih kurang apa lagi?" tanya pria itu.
"Tidak, ini sudah selesai kok," balas Sara.
"Mau makan malam bersama Sara, sama ada yang ingin aku obrolkan," ucap Zaid pada akhirnya.
Merasa sudah malam, dan perutnya juga sudah begitu lapar. Sara pun menyetujui ajakan Zaid untuk makan malam bersama. Mereka berdua memilih makan di tempat makan yang berada di dekat Coffee Shop milik Sara.
__ADS_1
"Bagaimana penjualan hari ini?" tanya Zaid.
"Alhamdulillah, meningkat … dibandingkan hari kemarin. Semoga saja selalu stabil," balas Sara.
Hingga akhirnya, keduanya tiba di tempat makan. Sara memilih memesan Nasi Goreng dan Es Teh Manis. Sementara Zaid memesan Bakmi Kuah dan Es Jeruk.
"Wah, bagus dong. Ya cuma nanti kalau terkadang naik dan turun, dinikmati saja. Sebab, proses kan enggak selalu naik, tetapi juga turun," balas Zaid.
Sara pun mengangguk mendengar penjelasan Zaid itu. Ya, dia pun sudah cukup tahu dengan dunia bisnis kuliner. Ada kalanya orderan begitu ramai, ada kalanya orderan juga begitu sepi.
Sembari menunggu menu pesanan mereka datang, rupanya Zaid perlahan menghela nafasnya dan melirik Sara.
"Sara, boleh aku bertanya-tanya lagi?" tanya pria itu pada akhirnya.
"Bertanya apa?" tanya Sara.
"Kamu yakin menjalani nikah mut'ah, apa alasanmu melakukan itu?" tanya Zaid.
Pria itu tidak ingin bertanya setengah-tengah. Zaid lebih memilih bertanya langsung kepada Sara.
"Mau dengar ceritaku?" tanya Sara pada akhirnya.
Tidak perlu ditanya lagi, Zaid pun menganggukkan kepalanya. Sebagai respons bahwa pria itu mau mendengarkan cerita Sara.
"Satu tahun yang lalu, aku bekerja sebagai pegawai bar dan ada seorang pria yang melecehkan aku. Nyaris memperkosaku, hingga datang pria lain yang akhirnya menjadi suamiku itu. Dia yang menolongku, tetapi akhirnya dia menawarkan kerja sama kepadaku. Dia meminta aku bisa melahirkan seorang anak untuknya karena istrinya yang mengidap endometriosis dan Tokophobia. Berawal dari itulah, aku setuju untuk menerima tawaran dari pria itu. Dalam hidup yang di mana aku menjalaninya hanya seorang diri, aku ingin sekali saja mendapatkan tempat bersandar. Aku ingin tidak dilecehkan oleh pria hidung belang di luar sana, akhirnya dalam satu tahun terakhir, aku benar-benar mendapatkan tempat bersandar dalam hidup," jawab Sara pada akhirnya.
Usai mendengar cerita Sara, Zaid pun tahu alasan Sara melakukan nikah mut'ah dengan suaminya dulu. Cukup pelik memang, tetapi semuanya memang telah terjadi.
"Kenapa pria itu tidak memilih bayi tabung atau mengadopsi saja Sara?" tanya Zaid lagi.
"Dia mengatakan bahwa yang sakit hanya istrinya, sementara dia adalah pria yang sehat. Dia ingin memiliki seorang anak yang di dalam tubuhnya mengalir darahnya, dia sendiri yang menenun keturunannya itu. Aku pun melihat sendiri bagaimana istrinya kesakitan tiap kali mengalami masa haid, dan juga dengan Tokophobia yang dia idap. Aku bahkan menemaninya mengunjungi psikiatri untuk melakukan terapi atas fobianya itu. Jadi, memang begitulah adanya," cerita Sara lagi.
__ADS_1
Zaid pun mengangguk, mencoba memahami posisi pria yang terlihat kaya raya itu. Memang terkadang beberapa pria yang istrinya tidak bisa melahirkan pewaris akan memilih melakukan pernikahan kedua, entah hanya untuk sekadar menyewa rahim atau benar-benar dijadikan pasangan hidup.
Mendengar cerita Sara, nyatanya Zaid justru kian iba dengan wanita yang duduk di hadapannya itu. Ingin rasanya Zaid menjadi tempat bersandar bagi wanita bernama Sara itu.