
Usai sarapan, Belva benar-benar menepati janjinya untuk mengajak Sara berkeliling pulau Bintan. Lagipula, honeymoon bukan sebatas kegiatan di ranjang bukan? Pasangan pengantin baru itu juga membutuhkan waktu berjalan-jalan sembari merilekskan pikiran mereka.
“Mau jalan-jalan sekarang?” tanya Belva kepada Sara.
“Iya mau … cuma sebentar Mas, panas banget di sini kelihatannya. Jadi, aku ambil jaket dulu,” balas Sara.
Belva menganggukkan kepalanya dan menunggu istrinya itu mengambil sebuah jaket dari dalam jaketnya. Sara kemudian mengambil sekaligus sling bag miliknya yang cukup untuk menemaninya berjalan-jalan mengeksplor keindahan alam Pulau Bintan.
“Yuk Mas, sudah,” balas Sara kini.
Belva lantas mengulurkan tangannya dan mulai menggenggam tangan Sara. Menautkan jari-jemarinya di setiap ruas jari milik Sara.
“Jalan kamu kok aneh sih Sayang?” tanya Belva yang sedikit memperhatikan cara berjalan Sara yang menurutnya aneh itu. Tentu saja usai itu Belva justru terkekeh geli melihat cara berjalan istrinya yang aneh itu.
Refleks, Sara pun memukul lengan suaminya itu. “Jahat banget sih, yang bikin aku kesusahan jalan kayak gini siapa coba,” sahut Sara.
Belva nyatanya justru terkekeh dan melirik sekilas ke wajah istrinya itu, “Aku … aku yang bikin kamu kesusahan jalan. Maaf yah ... nanti abis jalan-jalan, aku pijitin. Biar aku enggak kecapekan,” balas Belva kini dengan lembut.
“Iya dimaafkan,” sahut Sara. Itu semua karena Sara memang tidak keberatan dan bisa menerima semua tentang suaminya itu.
Kemudian Belva membukakan pintu mobil terlebih dahulu untuk Sara dan mulai membantu istrinya itu untuk memasuki mobil. Setelahnya barulah Belva mengitari mobil, dan masuk di kursi kemudi.
“Jalan-jalan ya kita … sebelum nanti mengurungmu nanti,” ucap Belva dengan nakal kali ini.
Sara hanya menyorot tajam pada pria yang duduk di sampingnya itu, “Kok sekarang kamu nakal sih Mas? Perasaan dulu enggak deh,” balas Sara kini.
__ADS_1
“Kan aku sudah bilang, aku nakalnya sama kamu saja. Gak bakalan nakal sama yang lain,” balas Belva yang menjawab pertanyaan Sara sembari melirik ke arah istrinya itu. “Jadi, aku enggak boleh nakal?” tanya Belva lagi.
Agaknya ini adalah pertanyaan yang susah dijawab oleh Sara. Akan tetapi, Sara tetap akan mencoba untuk menjawab pertanyaan dari Belva.
“Mungkin aku hanya belum terbiasa. Terlebih dengan sikap dan karaktermu yang dulu. Jadi, ya aku belum terbiasa,” balas Sara kini.
Belva kemudian menganggukkan kepalanya, “Baiklah … tidak apa-apa. Akan tetapi, jika kamu lebih suka aku yang dulu, seperti layak tanpa ekspresi, aku juga akan melakukannya,” balas Belva.
Sebab, Belva tak ingin membuat Sara merasa tidak nyaman di sisinya. Dirinya memang berubah. Lagipula, memang seseorang bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu bukan. Namun, mungkin Sara masih membutuhkan waktu untuk mengenal Belva dengan sifat dan perilakunya yang sekarang.
“Tidak apa-apa … apa pun tentangmu, aku tidak masalah,” balas Sara pada akhirnya.
Belva menganggukkan kepalanya, dan sekarang pria itu juga menghentikan mobilnya di sebuah pantai yang bernama Lagoi Bay. Lagoi Bay atau biasanya dikenal dengan Pantai Lagoi adalah sebuah pantai yang tenang dengan pasir putihnya yang begitu menawan. Ombak di sini tidak kencang, sehingga bisa dimanfaatkan untuk berenang. Pantai Lagoi berhadapan langsung dengan Laut Cina Selatan.
Belva kembali menggandeng tangan Sara dan mengajaknya untuk duduk di sebuah rerumputan, di bawah pohon Nyiur yang berjejer di sekitar pantai.
“Pantai di sini kelihatannya ombaknya tidak sekenceng di Jawa ya Mas?” tanya Sara.
“Iya … karena pantai di sini tidak berhadapan langsung dengan Samudra. Sementara kalau pantai-pantai khususnya di pesisir Pulau Jawa kan berhadapan langsung dengan Samudra Hindia,” balas Belva dengan begitu detail.
Mereka memilih menikmati buaian angin di pesisir pantai itu sembari membeli es Kelapa Muda. Liburan yang sederhana sebenarnya, tetapi sudah membuat Sara begitu bahagia. Wanita itu bahkan tampak berkali-kali menghela nafas dan menghirup segarnya udara di pesisir pantai itu.
“Habis ini kita ke Kijang yah?” ajak Belva kepada Sara.
“Iya … aku ngikut saja. Kok kamu tahu jalanan di sini sih Mas?” tanya Sara lagi.
__ADS_1
Belva kemudian tersenyum, melirik sekilas kepada istrinya itu, “Aku pernah mengerjakan projek di sini, Sayang … sudah beberapa tahun yang lalu sih. Cuma kan di sini jalannya hanya ada satu. Ikutin peta di handphone saja sudah pasti sampai kok,” balas Belva.
Puas menikmati Pantai Lagoi yang begitu tenang dan pasir putihnya yang begitu indah, kini Belva kembali mengajak Sara untuk membeli Otak-Otak di Kijang. Kawasan yang menjadi sentra penjualan Otak-Otak di Pulau Bintan itu juga merupakan tempat yang harus dikunjungi dengan mencicipi kuliner yang khas Pulau Bintan.
Hampir 45 menit berkendara, sekarang mereka telah tiba di kawasan Kijang. Belva menghentikan mobilnya di sebuah rumah yang menjajakan Otak-Otak Ikan dan Cumi-Cumi.
“Pesan Otak-Otaknya ya Bu, 20 bungkus dulu,” pesan Belva.
Penjual pun mulai memanggang Otak-Otak yang dikemas dengan daun kelapa dan memanggangnya di atas batu arang. Kurang lebih sepuluh menit, sepiring Otak-Otak itu disajikan di hadapan Sara dan juga Belva.
Belva mulai mengambil satu Otak-Otak, meniupinya, dan kemudian memberikannya kepada Sara.
“Ini cobalah Sayang … jika kamu sudah makan Otak-Otak Kijang, artinya kamu sudah ke Bintan,” balas Belva.
Sara menerima Otak-Otak itu dan mulai mencicipinya. Pertama, rasanya cukup aneh di lidahnya. Akan tetapi, lama kelamaan, Sara pun menghabiskan satu buah Otak-Otak itu.
“Enak sih … agak pedes gitu,” balas Sara.
“Iya … memang enak. Sekarang coba yang Sotong (Cumi-Cumi – orang di kawasan Melayu biasanya menyebut Cumi-Cumi dengan sebutan Sotong).” ucap Belva sembari membukakan sebuah Otak-Otak dengan irisan Sotong di dalamnya.
Sara pun kembali menerimanya dan membukanya, “Hmm, enak juga sih … kamu enggak nyoba Mas?” tanya Sara kemudian.
Belva kemudian tersenyum, “Kamu dulu yang cobain, kalau sudah baru deh aku,” balasnya.
Sara lantas membuka daun kelapa yang membungkus Otak-Otak itu dan kemudian menyuapkannya kepada Belva, “Kamu juga Mas … jangan hanya memprioritaskan aku saja,” balas Sara kini.
__ADS_1
“Makasih Sayang … enak yah punya istri, makan Otak-Otak saja dibukain dan disuapin kayak gini,” balas Belva sembari melirik ke arah Sara.
Lagipula, bukan karena kemewahan saat liburan dan menikmati bulan madu, tetapi juga rasa kepedulian dan perhatian dengan pasangan yang membuat jalan-jalan sehari di Bintan hari itu begitu berkesan untuk Sara dan juga Belva.