
Sepekan Kemudian ...
Sudah hampir sepekan berlalu, tetapi nyatanya Anin masih berada di Bali. Sekali pun selama dia berpamitan bahwa akan pergi ke Bali hanya untuk sepekan, nyatanya sudah lebih dari sepekan, Anin masih berada di Bali.
Di satu sisi, dari kalangan pengusaha property di Ibukota hendak mengadakan pesta relasi. Para CEO biasanya akan datang bersama dengan pasangan mereka, jika memang mereka masih lajang, ada pula yang datang ke pesta relasi itu dengan membawa sekretaris mereka.
“Besok bisakah kamu menemaniku ke pesta relasi, Sara?” tanya Belva kali ini.
“Pesta relasi itu apa Pak?” tanyanya. Memang terlebih dahulu Sara bertanya, seumur hidupnya dia tidak pernah memiliki pengalaman terkait pesta relasi.
Belva pun lantas tersenyum, “Hanya pesta biasa saja, biasanya standing party. Para pengusaha akan saling bertemu di sana. Ada yang sekadar bertanya kabar, menyapa rekan bisnis, dan sebagainya. Bagaimana, kamu mau mendampingiku?” tanyanya.
Mendampingi? Rasanya, Sara harus berpikir apa maksud mendampingi yang dimaksud oleh Belva. Dirinya memang sekadar mendampingi, atau hanya sebagai rekan yang diajak ke pesta relasi itu.
“Apakah tidak masalah? Jika aku justru membuatmu repot di pesta itu?” tanyanya kini.
Belva kemudian mengangguk, “Tidak masalah, lagipula Anin sedang berada di Bali. Belum tahu kapan dia bisa pulang. Jadi, aku ingin mengajakmu,” sahut Belva.
Ah, barulah di sini Sara pun memahami bahwa Belva mengajaknya hanya sebatas mengisi kekosongan Anin belaka. Mungkin memang Belva tidak sepenuhnya ingin mengajaknya.
“Bagaimana, mau ikut denganku?” tanya Belva lagi.
Sara menghela nafasnya perlahan, “Hmm, oke … baiklah,” jawabnya.
Pikirnya hanya sekadar mengikuti Belva saja, dan memiliki pengalaman baru dalam hidupnya tentang apa pesta relasi itu. Agaknya cukup unik dan juga Sara akan mengingatnya suatu hari nanti bahwa dirinya pernah mengikuti satu pesta relasi para CEO di Ibukota.
“Baiklah, besok akan ada penata stylist dan make up artist yang akan datang ke mari. Berdandanlah yang cantik,” ucapnya.
***
Keesokan Harinya …
__ADS_1
[To: Sara]
[Sara, nanti siang seorang stylist dan make up artist akan datang ke rumah.]
[Mereka akan mendandanimu dengan cantik.]
[Bersiaplah, petang kita akan menghadiri pesta relasi.]
Di rumah, Sara tampak mengeryitkan keningnya saat membaca pesan dari Belva itu. Wanita itu lantas berpikir mengapa hanya menghadiri sebuah pesta saja, Belva sampai rela memanggil stylist dan MUA ke rumah hanya untuk mendandani. Seolah memang Sara harus tampil sempurna dan layak untuk mendampingi Belva malam nanti.
Hingga akhirnya siang menjelang sore, seorang stylist dan MUA datang ke rumah Belva.
“Halo Kak Sara,” sapa keduanya saat bertemu dengan Sara.
“Ah, iya … Stylist dan MUA yang sudah dihubungi Pak Belva sebelumya ya?” tanya Sara.
“Iya Kak, ayo kami akan merias Kak Sara dan memastikan malam nanti Kak Sara akan tampil menarik dan memikat semua orang yang ada di sana,” ucap sang MUA.
Sara hanya mengangguk saja, dan seorang stylist mulai memperhatikan wajah dan bentuk tubuh Sara. Seolah tengah memperkirakan ukuran dress yang hendak dikenakan malam nanti, disesuaikan dengan riasan yang akan menyempurnakan penampilan Sara.
Empire Warst Dress sendiri adalah sebuah dress yang memiliki bentuk seperti gaun kerjaan, tetapi tidak seheboh dan semewah ballgown. Model dress ini simpel dengan bagian dada yang agak rendah, kemudian di bagian pinggang terdapat tali yang akan membuat lekuk tubuh lebih terlihat.
Sara menatap dress yang menjuntai panjang itu, “Apakah aku cocok memakainya?” tanya Sara kini.
“Pasti cocok Kak, tubuh Anda bagus dan dress ini akan cocok dengan Kakak,” sahut sang Stylist.
Hingga akhirnya Sara pun mengangguk, “Baiklah,” jawabnya.
Setelahnya, mulailah sang MUA merias wajah Sara terlebih dahulu. Mengaplikasikan Primer dan cussion, kemudian mulai merias kelopak mata Sara. Memadukan warna abu-abu dengan sentuhan warna lainnya. Memulaskan pewarna bibir berwarna pink magenta yang lembut.
Setelahnya Stylist pun mulai menata rambut Sara. Hanya sebatas meng-curly rambut hitam Sara di bagian ujungnya. Lantas, dress yang sudah dipilihkan sebelumnya mulai dikenakan kepada Sara.
__ADS_1
"Wow, you look so amazing, Kak," ucap sang MUA dan Stylist secara bersamaan.
Sara pun tersenyum menatap pantulannya di cermin. Rasanya saat ini dia seolah Upik Abu yang telah menjelma menjadi Cinderella. Bahkan Sara sendiri tidak menyangka perubahan dirinya yang sedrastis ini.
"Benarkah aku cocok dengan dress dan riasan ini?" tanyanya memastikan.
Sang MUA dan Stylist mengangguk setuju, "Sangat cocok. Baiklah Kak, kami pamit yah … sebentar lagi Pak Belva akan datang dan menjemput Kakak," pamitnya.
Sara pun menunggu kehadiran Belva dengan gamang. Berharap dirinya memang tidak tampil memalukan untuk menemani Belva malam ini. Hingga petang pun tiba, terdengar ketukan pintu di kamar Sara.
"Sara, aku datang," suara Belva yang terdengar dan pria itu benar-benar datang untuk menjemput Sara.
Sara mulai berdiri, memantaskan dirinya sesaat di depan cermin, dan mulai menghela nafasnya sebelum berjalan dan membukakan pintu bagi Belva.
Saat pintu itu dibuka, betapa Belva seolah terpana melihat penampilan Sara yang bisa dikatakan benar-benar sempurna. Wanita yang sehari-hari hanya mengenakan pakaian rumahan dan piyama, wajahnya juga polos tanpa sentuhan make up, kali ini di hadapan Belva tengah berdiri seorang wanita yang begitu cantik dan anggun.
"Pak," sapa Sara yang memanggil Belva yang justru tampak berdiam diri di hadapannya.
Netra sepekat malam milik pria itu seolah memandangi Sara dari ujung rambut hingga ujung kaki. Akan tetapi, saat Sara memanggilnya, Belva pun mengerjap.
"Ayo, kita berangkat sekarang," ucapnya.
Sara mengangguk dan mulai mengekori Belva turun dari lantai dua, keluar dan memasuki mobil untuk menuju ke salah satu Hall mewah yang akan digunakan sebagai pesta relasi itu.
Perjalanan kurang lebih dua puluh menit, sekarang Belva tengah membuka pintu mobilnya bagi Sara. "Ayo, Sara turunlah," ucapnya.
Sara mengangguk, wanita itu segera mengangkat sedikit dressnya untuk turun dari mobil dan berjalan dengan hati-hati di samping Belva. Dalam diam, Sara berdoa dalam hati semoga dia nyaman selama mendampingi Belva di sini.
Pilar-pilar putih dan lampu-lampu kristal yang indah tampak menggantung di langit-langit Hall itu. Para tamu yang tak lain adalah para CEO datang dengan mengenakan Tuksedo. Mereka ada yang datang bersama istrinya, ada pula yang datang dengan sekretarisnya. Sementara, Belva datang dengan mengajak Sara.
"Selamat Malam, Pak Belva," sapa rekan-rekan sesama CEO kepada Belva.
__ADS_1
Pria itu mengangguk dan tersenyum, pembicaraan yang mereka obrolkan hanya sebatas bisnis dan beberapa projek di masa depan. Sungguh topik pembicaraan yang tidak diketahui Sara. Sementara Sara sendiri hanya berdiri di samping Belva, tanpa terlibat dalam pembicaraan. Memang tidak nyaman rasanya, tetapi setidaknya di sini Sara hanya cukup diam dan mengikuti Belva saja.
Hingga akhirnya, Belva kembali berjalan dan Sara pun mengikutinya. Akan tetapi, wanita itu tampak mengerjap saat di seberang sana ada sepasang netra yang tampak menatapnya dengan tajam. Dada Sara sontak saja merasa bergemuruh, tetapi Sara tetap berusaha tenang karena ada Belva saat ini.