Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Mencoba dengan Serius


__ADS_3

Memiliki anak dalam hidup bisa membangkit semangat, berpikir untuk masa depan, dan merencanakan masa depan bagi keluarga. Agaknya, hal inilah yang dirasakan Anin saat ini.


Ya, Anin merasa dengan memiliki Evan di dalam hidupnya, Anin merasa termotivasi untuk bisa lebih semangat menjalani hidup, orientasi hidupnya sekarang tidak hanya berfokus untuk hari ini saja, tetapi Anin juga belajar untuk menapaki masa depan bersama Evan dan Belva, suaminya.


Malam ini, agaknya Anin ingin menyampaikan sesuatu kepada suaminya itu.


“Sayang … beberapa pekan yang lalu, aku berkonsultasi kepada Dokter. Katanya sekalipun endometriosis milikku tetap ada, tetapi kita bisa mencoba memiliki anak. Anak dari benihmu dan sel ovumku. Aku merasa, kali ini aku ingin mencobanya. Bagaimana denganmu?” tanya Anin kepada suaminya.


Faktanya memang sudah beberapa pekan berjalan, Anin rutin mengunjungi Dokter dan berkonsultasi perihal berapa persen peluang yang dia miliki untuk bisa memiliki seorang anak. Bukan tanpa sebab, tetapi saat ulang tahun Evan dua bulan yang lalu, Anin merasa agaknya perkataan temannya untuk menambah momongan cukup mempengaruhinya. Usai itu, beberapa kali Anin merenung dan memikirkannya. Setelah dirasa siap, barulah Anin memberitahu kepada Belva.


“Apa tidak masalah?” tanya Belva pada akhirnya.


Anin pun mengangguk, “Kata Dokter sih tidak masalah. Aku memiliki peluang 40 - 80% dengan mengonsumsi obat kesuburan. Sementara dengan bayi tabung, aku memiliki peluang 30 - 80%. Akan tetapi, kondisi itu pun dipengaruhi oleh kondisi masing-masing pribadi sendiri,” jelas Anin kepada suaminya.


Belva mencoba mendengarkan pembicaraan Anin itu. Bagi Belva, hal ini cukup menjadi keajaiban. Dulu, Anin begitu takut untuk hamil, berkali-kali gagal melakukan program bayi tabung juga sudah dilakukannya, dan sekarang nyatanya Anin justru mengatakan ingin kembali mencobanya.


“Apa yang membuat kamu ingin kembali berjuang?” tanya Belva.


“Beberapa bulan yang lalu saat ulang tahun Evan, temanku berkata apakah tidak lebih baik memiliki anak lagi. Sekalian repotnya. Aku rasa, Evan tidak masalah jika memiliki adik dan jaraknya dekat. Lagipula, Evan kan tidak minum ASI dariku, sehingga jika aku memilih mengonsumsi obat kesuburan tidak berpengaruhi ke ASI yang dia minum,” jelas Anin.


Apa yang diucapkan Anin memang logis, tetapi Belva sendiri masih belum yakin. Belva masih merasa ragu, istrinya yang dulu benar-benar menyerah, sekarang justru berbicara dan ingin kembali mencoba untuk memiliki anak biologis.


Wanita yang setiap mengalami masa menstruasi selama dua minggu itu dan selalu mengeluh kesakitan usai melakukan hubungan suami istri dengan Belva, kini justru terpacu lagi semangatnya untuk bisa memiliki seorang buah hati. Belva lantas menatap wajah Anin dengan penuh pertanyaan dalam benaknya.


“Lalu, jika kamu memiliki seorang anak lagi, bagaimana dengan Evan?” tanya Belva.


Sejujurnya apa yang Belva tanyakan hanya ingin mencari tahu bagaimana perasaan Anin. Beberapa orang mengatakan bahwa seorang ibu akan lebih mencintai darah dagingnya sendiri, dibandingkan seorang anak yang di dalamnya tidak mengalir darahnya. Belva hanya memastikan, jika pun nanti usaha Anin berhasil, istrinya akan tetap bisa menyayangi Evan seperti sekarang ini.


“Kamu takut kasih sayangku akan terbagi?” tanya Anin sembari tersenyum kecil di sudut bibirnya.

__ADS_1


“Bukan takut, aku hanya ingin tahu isi hatimu,” sahut Belva.


Anin lantas menghela nafasnya perlahan dan mulai kembali bersuara, “Aku akan tetap menyayangi Evan … sekalipun di dalam tubuhnya sama sekali tidak ada diriku di sana. Di dalamnya adalah hasil fertilisasi antara dirimu dan Sara, tetapi aku tidak menyesalinya. Aku akan tetap menyayangi Evan,” aku Anin dengan yakin.


Itulah isi hati Anin, sekalipun Evan bukan darah dagingnya, tetapi Anin yakin bahwa dia sangat menyayangi Evan. Bahkan sejak mengasuh dan merawat Evan, Anin semakin bisa belajar menjadi seorang istri untuk Belva dan sekaligus menjadi seorang Mama bagi Evan.


Mendengar apa yang diucapkan Anin, Belva pun menganggukkan kepalanya.


“Baiklah … kita bisa mencobanya, tetapi saat kamu mengeluh kesakitan, aku akan berhenti,” sahut Belva.


Belva mengatakan semuanya itu karena dia tidak ingin menyakiti Anin. Sekalipun beberapa waktu dalam jangka yang begitu panjang, hasratnya tak tersalurkan. Belva memilih diam. Padahal selama periode haid yang dialami Anin yang begitu panjang, Belva pun tidak mempermasalahkannya.


“Terima kasih … terima kasih mau berusaha lagi bersama,” ucap Anin.


Wanita itu lantas dengan sendiri memeluk Belva, tangannya melingkari pinggang suaminya itu. Beberapa kali Anin memejamkan matanya dan memilih merasakan pelukannya kepada suaminya itu.


“Kita lakukan honeymoon kedua yuk?” tawar Anin kepada suaminya itu.


“Bagaimana dengan Evan?” tanya Belva.


“Kita ajak saja Evan … family trip tidak ada salahnya,” balas Anin.


Belva tampak berpikir sekarang. Benarkah mengajak Evan turut serta tidak masalah? Lagipula, tujuannya pergi honeymoon kedua ini adalah untuk berusaha mendapatkan anak lagi.


“Kamu yakin ingin mengajak Evan? Tidak repot?” tanya Belva sekali lagi karena Belva ingin memastikan istrinya itu.


Anin kemudian menganggukkan kepalanya, “Iya … tidak repotlah. Bagaimana pun dia putraku sendiri. Aku tidak akan repot untuk mengasuhnya,” balas Anin dengan yakin.


Mendengar jawaban Anin, perlahan Belva pun menganggukkan kepalanya, “Baiklah … tetapi rencanakan semuanya secara matang terlebih dahulu. Konsultasikan dengan Doktermu juga dan memastikan cara mana yang aman untukmu, mengonsumsi obat kesuburan atau melakukan bayi tabung. Aku tidak masalah apa pun caranya,” balas Belva.

__ADS_1


Sebab dalam pikiran Belva tidak masalah upaya apa yang akan diambil oleh Anin, mau mengonsumsi obat kesuburan asalkan di bawah pengawasan Dokter tentu tidak menjadi masalah. Selebihnya, jika Anin memilih program bayi tabung juga tidak masalah. Belva berharap Anin mengambil cara yang tepat dan nyaman untuk dirinya.


“Baiklah … pekan depan aku akan kembali mengunjungi Dokterku. Terima kasih sudah selalu sabar kepadaku selama ini,” ucap Anin.


Tidak dipungkiri dalam rumah tangga yang pasang dan surut, Belva adalah seseorang yang sabar. Jika ada sesuatu yang membuat Belva tak bisa menahan diri adalah keinginannya untuk memiliki buah hati. Hal itu pun dilatarbelakangi dengan bertahun-tahun pernikahan mereka yang tidak dikaruniai buah hati, untuk itu Belva dan Anin akhirnya bersepakat untuk menikahi Sara secara mut’ah dan menyewa rahimnya.


Namun sekarang, usai memiliki Evan, rasanya Belva sudah kembali menjadi sosok yang sabar. Tangisan dan tawa Evan seakan mewarnai hari-harinya, membuat Belva lebih bersemangat bekerja, menginvestasikan sejumlah hasil keringatnya untuk masa depan Evan kelak.


“Aku selalu sabar padamu, Anin,” sahut Belva.


Bukan ingin menjelaskan betapa sabarnya dia selama ini. Akan tetapi pada kenyataannya Belva memang selalu bersabar. Bersabar harus menahan geloranya sendiri, bersabar berdiam di rumah saat Anin dulu melakukan pemotretan kesana-kemari. Bersabar sekian tahun menunggu memiliki buah hati. Bisa dibilang Belva memang selalu sabar kepada istrinya itu.


Mendengar jawaban sang suami, Anin lantas mengurai pelukannya. Wanita itu menengadahkan wajahnya guna menatap wajah suaminya, “Terima kasih … bahkan di saat aku tidak sabar dan tidak menjadi istri yang baik pun, kamu selalu sabar kepadaku,” balas Anin.


“Rasanya mengingat pekerjaan yang kulakukan dulu harus terbang dari satu kota ke kota lagi, melakukan pemotretan dengan jadwal yang begitu padat, membuatku benar-benar berdosa kepadamu. Maafkan aku,” ucap Anin.


“Tidak apa-apa … sekalipun aku suamimu, aku sudah berkata akan sabar dan mendukung kariermu itu. Lagipula, memutuskan untuk berhenti dari dunia modelling juga sepenuhnya adalah keputusanmu. Aku hanya ingin kamu belajar untuk menjadi istri yang sepadan bagi suaminya,” jelas Belva.


Mendengar ucapan Belva, kian menyadarkan Anin bagaimana dirinya di masa lalu yang nyatakan lebih mementingkan dirinya sendiri. Meninggalkan Belva begitu saja tiap kali jadwal pemotretan tiba. Rasanya kali ini Anin di masa lalu bukanlah seorang istri yang sepadan bagi Belva.


“Maaf,” ucap Anin. Perkataan yang singkat itu terasa pilu, bahkan kedua mata Anin sekarang pun berkaca-kaca. Terasa perih saat mendengarkan ucapan Belva yang menginginkan seorang istri yang sepadan.


“Istri yang sepadan menurutmu seperti apa?” tanya Anin dengan tiba-tiba.


Belva tampak menghela nafasnya sejenak, dan memandang Anin sekilas, “Sepadan artinya kita sama-sama menjadi pasangan yang setara, memiliki kedudukan yang equal (sama dan rata) artinya suami dan istri. Kita bisa sama-sama menjadi partner untuk membangun hidup rumah tangga kita. Saling melengkapi dan memahami satu sama lain,” balas Belva.


Mendengar penjelasan sang suami, Anin pun merespons dengan menganggukkan kepalanya. Agaknya Anin sekarang harus introspeksi diri dan belajar dari kesalahannya di masa lalu. Anin ingin bisa menjadi istri yang sepadan bagi suaminya itu.


Info:

__ADS_1


Sebuah penelitian yang dilakukan World Endometriosis Research Foundation mengatakan bahwa 40-50% wanita bisa hamil dengan normal dengan diberikan obat kesuburan. Sementara dengan melakukan infertilisasi atau program bayi tabung bisa memiliki peluang 30-80%. Namun ini tergantung kondisi masing-masing individu.


__ADS_2