
Menuju Bogor, tempat Belva tuju sekarang ini adalah wilayah Jonggol yang hijau dan begitu permai dengan latar Gunung Gede Pangrango dari kejauhan. Mobil yang dikendarai Belva berhenti di sebuah rest area layaknya sebuah bukit yang hijau, pria itu lantas membukakan pintu untuk Sara.
“Ayo, turunlah,” ucap Belva.
Sara pun turun dari mobil dan mengikuti langkah kaki Belva. Di hadapannya sekarang ini adalah sebuah bukit dan mereka berada di wilayah yang cukup tinggi. Apa yang sebenarnya tengah dipikirkan Belva sekarang ini.
Pria itu kemudian memilih duduk beralaskan rerumputan hijau, Belva menarik tangan Sara dan membuat wanita itu terduduk di sampingnya. Membiarkan hawa sejuk kota Bogor menyapa keduanya, cakrawala di atas seakan menjadi sebuah latar yang teduh bagi keduanya.
“Jika tidak ada aku, bagaimana kamu akan membela dirimu?” tanya Belva kini.
Ya, sebenarnya hati Belva merasa bergemuruh terlebih usai mendengarkan ucapan Anthony yang bukan-bukan tentang Sara. Sehingga, saat ini pria itu memilih memacu mobilnya menyingkir sejenak dari hiruk pikuk Ibukota. Menyegarkan diri dan pikirannya yang saat ini kacau.
“Aku sudah terbiasa direndahkan olehnya,” sahut Sara.
Ya, sejak bekerja di bar dan bertemu Anthony agaknya Sara sudah terbiasa direndahkan oleh pria itu. Bahkan beberapa kali Anthony bersikap kurang ajar kepadanya, untung saja Sara bisa menjaga dirinya. Sekalipun sudut bibirnya berdarah, bahkan nyaris diperkosa oleh Anthony, tetapi kepada Belva sajalah Sara melepas mahkotanya.
Sebenarnya hubungannya dengan Belva bukan sekadar transaksi sewa-menyewa rahim, tetapi pria itulah yang mendapatkan mahkota Sara.
“Aku tidak suka mendengar kamu direndahkan seperti itu, Sara,” aku Belva dengan jujur.
__ADS_1
Ya, mendengar Sara yang direndahkan rasanya Belva dengan begitu cepatnya naik darah. Seakan telinganya menjadi panas, darahnya mendidih, dan Belva menjadi begitu emosi.
Sementara Sara sendiri, memang dia tahu saat ini Belva tengah marah usai bertemu Anthony. Akan tetapi, apa arti kemarahan itu jika hubungan keduanya masih menggantung seperti ini. Apa arti kemarahan jika Belva tidak pernah mengutarakan bagaimana perasaannya kepada Sara. Apakah kali ini juga hanya sebatas perasaan peduli saja?
“Tidak apa-apa Pak Belva, aku bisa menerimanya. Aku tahu dulu aku memang pelayan di bar, tetapi aku bisa menjaga diriku dengan baik. Sekalipun badanku lebam karena perbuatan Anthony, tetapi aku bisa menjaga diriku,” sahut Sara.
Ya, memang dulu beberapa kali Sara pulang dari bar dengan luka di sudut bibirnya. Lebam di area pergelangan tangannya, lengan, hingga cakaran di lehernya. Akan tetapi, Sara tetap berhasil mempertahankan mahkotanya.
“Stop Sara! Please, jangan seperti itu. Aku tidak suka,” sahut Belva dengan cepat.
Kemudian Sara memilih diam, dia hanya duduk dan enggan terlibat dalam obrolan bersama dengan Belva. Hingga hampir setengah jam waktu berlalu, barulah Sara kembali bersuara.
“Ayo Pak Belva kita pulang, Evan menunggu kita,” ajak Sara kali ini.
Merasa bahwa Belva tidak bergeming, Sara memilih beranjak dari duduknya. Dia harus ke mobil terlebih dahulu karena merasa sumber ASI miliknya sekarang penuh dan harus dipumping terlebih dahulu.
“Aku ke mobil dulu Pak, tinggallah di sini dulu, aku mau pumping,” sahut Sara.
Wanita itu berjalan dan meninggalkan Belva, memasuki mobil dan duduk di kursi belakang. Mengamati situasi di luar yang sepi karena hanya ada satu mobil di tempat itu dan itu adalah mobil Belva, kemudian Sara mulai membuka tiga kancing kemejanya, berniat melakukan pumping terlebih dahulu. Akan tetapi, baru saja Sara akan memasang kain penutup area dada, Belva sudah memasuki mobil. Menyalakan mesin mobilnya dan juga AC-nya, kemudian Belva duduk di belakang bersama dengan Sara.
__ADS_1
Tanpa permisi, Belva mengikis wajahnya dan meraih tengkuk Sara. Mengecup bibir Sara dengan kecupan yang begitu dalam. Tindakan impulsif yang membuat Sara membolakan kedua matanya.
“Jangan seperti ini Pak Belva,” tolak Sara dengan tegas kali ini.
Jika menilik posisi Sara sebagai seorang istri, tentu dirinya sangat berdosa karena menolak suaminya. Akan tetapi, Sara tidak ingin jatuh terlalu dalam karena perasaannya kepada Belva. Merasakan cinta sendiri sangat menyakitkan. Untuk itu, Sara memilih menolak Belva dengan tegas.
Mendengar penolakan Sara, Belva lantas mendengkus dan menyandarkan punggungnya ke kursi, sementara Sara memilih memunggungi pria itu dan segera melakukan pumping karena sumber ASI-nya sudah benar-benar penuh. Hingga 15 menit berlalu, Sara merasa lega karena dia bisa menyimpan tiga kantong ASIP dan segera menyimpannya dalam ice cooler yang berada di tasnya. Setelah itu Sara mengancingkan kemeja dan merapikan kembali penampilannya.
Selesai dengan semuanya, Sara berniat untuk pindah ke kursi depan, tetapi Belva menahan pergelangan tangan Sara. Tanpa permisi, Belva merengkuh tubuh Sara dengan begitu eratnya. Bahkan pria itu memejamkan matanya seolah menghirupi aroma Jeruk Pomello yang menguar dari tubuh Sara.
“Bela diri kamu, Sara … lawan Anthony atau siapa pun yang mencoba melecehkan kamu. Aku sangat tidak suka jika ada orang-orang yang memandang rendah kamu. Sebab, aku tahu siapa kamu,” ucap Belva kali ini.
Kedua tangan Sara serasa lemas dan enggan untuk balas memeluk Belva.
“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Pak,” sahut Sara.
Belva lantas mengurai pelukannya, dan menatap wajah Sara dengan begitu lekatnya, “Sudah pasti aku akan mengkhawatirkanmu karena aku sangat peduli padamu, Sara. Kamu ingat dengan perkataanku bukan kalau aku peduli padamu?” tanya Belva kali ini.
Sara kemudian mengangguk, “Iya … aku mengingatnya. Terima kasih sudah mempedulikanku,” sahut Sara.
__ADS_1
Rasanya memang begitu senang ada seseorang yang mempedulikan dirinya, tetapi sayangnya yang Sara inginkan lebih dari itu. Sara ingin rasa peduli itu berubah menjadi perasaan sayang atau cinta untuknya. Hampir setahun berlalu, Sara seakan menjadi seseorang yang menggenggam perasaannya sendiri. Perasaan yang tak mungkin berbalas karena Sara tahu yang Belva cintai dan butuhkan hanyalah Anin. Ya, hanya Anin, dan bukan dirinya.
Begitu perih memang, tetapi Sara memang akan benar-benar menekan perasaannya. Tidak ada dirinya bertahan dengan pria yang hanya peduli padanya dan sering kali bertindak impulsif. Bagi Sara, kontak fisik pun tidak akan ada artinya jika tidak didasari dengan perasaan cinta. Menggenggam cinta sendiri, akan Sara lakukan asalkan Belva tidak lagi menyalurkan hasratnya kepadanya. Ya, itulah keteguhan Sara. Biarlah dia menjadi seorang istri yang berdosa, tetapi setidaknya hatinya tidak akan terlalu perih jika yang dia terima pada akhirnya hanya sekadar ucapan terima kasih semata.