
Menjelang malam tiba, lantaran waktu di Pulau Bali mengikuti Waktu Indonesia Tengah, Evan tidur dengan mengikuti Zona waktu Indonesia Tengah (WITA). Mungkin juga karena sepanjang sore bermain-main di pantai, malam harinya Evan sudah mengeluh mengantuk dan ingin segera tertidur.
“Mama, adik bayinya masih lama tidak lahirnya?” tanya Evan kali ini kepada Mamanya.
“Mungkin empat bulan lagi, Van … ada apa?” tanya Sara.
“Kalau adiknya cowok, nanti boboknya sama Evan saja, Ma … Evan mau kok jagain adik,” ucap Evan kali ini.
Terlihat bahwa Evan rasanya juga kian siap menjadi seorang Kakak, hingga Evan ingin juga satu kamar dengan adik bayinya nanti. Sara tersenyum dan mengusapi puncak kepala Evan itu.
“Adik bayinya nanti bobok sama Mama dan Papa dulu ya Kak Evan … kalau sudah makin besar, boleh nanti satu kamar sama Kakak Evan,” jawab Sara.
Bukan masalah tidak memperbolehkan, hanya saja bayi yang masih baru lahir memang lebih baik dekat dengan orang tuanya. Terlebih di 40 hari kehidupan pertamanya, bayi masih memiliki pola hidup seperti di dalam kandungan. Bayi pun bisa tantrum dan sering meminta ASI. Jika terpisah jauh, takutnya Sara tidak siaga terhadap bayinya nanti.
“Oh, jadi tempat boboknya Adik Bayi ditaruh di kamar Mama dan Papa yah?” tanya Evan lagi.
“Iya, untuk sementara saja, Van … nanti kalau sudah bisa bobok sendiri. Adik bayi boleh kok bobok sama Kakak Evan,” balas Sara.
Terkadang memang orang tua harus memberikan pengertian kepada anak. Menjawab pertanyaan mereka secara logis dan tetap menggunakan bahasa sederhana yang mudah untuk dimengerti anak sesuai dengan usianya.
“Oke deh Ma … nanti kalau adik sudah besar, bobok saja sama Evan. Evan akan jagain adik kok Ma .. nanti tempat tidurnya diganti menjadi tempat tidur dua lantai yang satu di atas dan satu di bawah itu loh Ma,” pinta Evan lagi.
“Iya Nak, nanti yah … kalau tidak bisa memakai dua bed saja. Evan mau berbagi kamar dengan adik?” tanya Sara.
Terlihat Evan menganggukkan kepalanya, “Iya dong … mau dong,” balas Evan dengan tertawa-tawa.
Sara merasa sangat lega karena Evan tumbuh menjadi anak yang baik, dan juga selama lima bulan ini dengan terus melibatkan Evan selama Sara mengandung membuat Evan juga semakin siap untuk menjadi seorang Kakak. Sara berharap ke depannya Evan bisa menjadi Kakak dan saudara yang baik untuk adiknya nanti. Pun sama halnya dengan si adik yang bisa menjadi seorang adik dan saudara yang baik juga untuk Evan.
__ADS_1
Sara sendiri adalah anak tunggal di keluarganya, sehingga dia tidak pernah merasakan bagaimana kasih sayang antar saudara kandung. Sehingga Sara kali ini harus belajar banyak dan juga mengajarkan hal-hal yang baik untuk Evan dan adiknya nanti.
“Ya sudah, sekarang sudah malam … Evan mau bobok sekarang?” tanya Sara kepada putranya itu.
“Iya mau bobok sekarang dan dipeluk Mama yah,” ucapnya.
Sara tersenyum, dan dia kemudian memeluk Evan dan memberikan usapan di kepala Evan. Berharap putranya itu akan segera tertidur dan kemudian dia bisa menemani suaminya yang menunggu di kamarnya.
Syukurlah tidak menunggu waktu lama, Evan sudah terlelap. Sara mengecup kening putranya itu dengan penuh sayang.
“Tidur ya Sayangnya Mama … buah hatinya Mama. Mama berharap kamu akan menjadi Kakak yang baik untuk si Adik nanti,” ucap Sara.
Kemudian Sara berjalan perlahan menuju kamarnya di dalam villa itu, wanita itu membuka pintu perlahan dan mengedarkan matanya mencari sosok suaminya. Rupanya Belva tengah duduk di sudut sofa dan bermain dengan handphone di tangannya.
“Baru ngapain Mas?” tanya Sara dan mengambil tempat duduk di samping suaminya itu.
“Ini … lihat galeri saja, Sayang … lihat foto-foto kenangan kita,” balas Belva.
Belva kemudian menyerahkan handphonenya kepada Sara, “Nih, kamu lihat saja … semua di folder ini foto-fotonya Evan,” balas Belva.
Namun, agaknya enggan menerima handphone dari tangan suaminya itu. Bagi Sara handphone itu bersifat privasi dan dirinya tidak ingin melihat-lihat isi di handphone suaminya itu.
“Kamu saja yang pegang,” balas Sara.
Namun Belva justru menyerahkan handphone itu ke dalam tangan Sara. “Pegang saja, pakai saja, aku tidak keberatan. Jangan handphone, seluruh hati dan hidupku terbuka sepenuhnya untukmu,” balas Belva kali ini.
Ya, Belva sama sekali tidak keberatan jika Sara memegang handphonenya dan melihat foto-foto Evan di galeri penyimpanan itu. Lagipula, Belva juga ingin Sara melihat dan memegang kendali atas hati dan hidupnya.
__ADS_1
“Serius?” tanya Sara pada akhirnya.
“Iya … serius. Handphone itu hal kecil Sayang. Yang pasti hati dan hidupku sepenuhnya terbuka buat kamu. Kamu pemiliknya,” jawab Belva dengan sungguh-sungguh.
Rona merah jambu seakan menghiasi pipi Sara saat ini. Wanita itu tersenyum sembari menggeser foto-foto Evan di sana. Seolah dia melihat tumbuh kembang Evan yang memang terlewatkan olehnya. Melihat bayi Evan yang begitu gemoy, dan juga melihat bulan demi bulan perkembangan Evan.
“Kamu yang memfoto semua ini?” tanya Sara.
“Iya dong … Papa Belva dong yang memfoto Evan,” balasnya dengan tertawa dan tersirat bahwa pria itu begitu percaya diri.
Lagi-lagi Sara tertawa mendengar jawaban yang penuh dengan kepercayaan diri yang tinggi dari suaminya itu. Sebatas mendengar perkataan Belva saja membuat Bumil itu merasa bahagia.
“Mas, ini?” tanya Sara saat melihat sebuah foto di sana.
Tidak menyangka bahwa itu adalah foto dirinya saat menyusui Evan. Bisa-bisanya Belva memotret dirinya dengan diam-diam. Bahkan Sara tidak menyangka bahwa Belva pernah memotretnya secara candid.
“Itu kamu, Sayang … terlihat jelas kasih sayangmu sebagai seorang Ibu. Aku sering memandanginya,” jawab Belva dengan jujur.
Namun justru setelah melihat foto itu ada kegetiran yang dirasakan Sara. “Dulu, aku bukan Ibu yang baik, Mas … bahkan aku meninggalkan Evan,” balas Sara.
Sepenuhnya Sara menyadari bahwa tindakannya di masa lalu tidak benar. Ada rasa bersalah yang tak pernah hilang. Sampai selamanya, Sara akan ingat kesalahan terbesar yang pernah dia ambil itu. Seorang Ibu yang tidak bisa melihat tumbuh kembang anaknya adalah hal yang paling menyedihkan. Sara juga pernah mengalaminya.
“Bukan sepenuhnya salahmu,” jawab Belva pada akhirnya. “Di mataku, yang kamu lakukan benar … kamu memberikan kesempatan untuk mendiang Anin merasakan menjadi Ibu di dua tahun usia terakhirnya.”
Perlahan Sara menganggukkan kepalanya, dan segera memeluk Belva, melingkari pinggang suaminya itu dengan kedua tangannya. “Maafkan aku ya Mas,” ucap Sara kali ini.
“Kamu tidak bersalah, Sayang … aku juga turut bersalah di masa lalu. Kuharap tidak ada prahara lagi di rumah tangga. Kalau pun ada, jangan pernah meninggalkanku,” balas Belva.
__ADS_1
“Iya Mas … aku akan selalu bersamamu. Aku pun memiliki harapan sama sepertimu bisa menghabiskan waktu bersama denganmu, Evan, dan bayi kita nanti. Kalau aku salah, bimbing aku … tegur aku. Aku tidak keberatan sama sekali. Aku sepenuhnya milikmu, Mas,” ucap Sara dengan yakin.
Sungguh ini adalah malam yang bisa Sara lewati dengan baik. Mendengar cerita Evan dan keinginan putranya untuk menjadi seorang Kakak baik. Sekarang Sara bisa mengurai cerita dengan suaminya. Sama-sama belajar dari masa lalu yang pahit, dan mewujudkan harapan di masa depan yang lebih baik untuk mereka berempat. Sara, Belva, Evan, dan bayinya nanti akan mewujudkan setiap harapan dengan doa di hati, dan niat tulus untuk terus menjalani semuanya.