
Siang hingga sore hari benar-benar dimanfaatkan Sara dan Belva untuk berjalan-jalan di Kebun Raya Bogor. Bukan hanya sekadar berjalan, sekaligus keduanya mengenalkan Evan dengan berbagai tumbuhan dan hewan yang tidak bisa Evan lihat saat berada di Ibukota. Liburan dan sekaligus melakukan wisata edukasi adalah kegiatan yang menyenangkan. Itulah yang dilakukan Belva, Sara, dan Evan saat ini.
“Kita duduk dulu ya Van … capek loh, kita sudah berjalan-jalan jauh sekali,” pinta Belva kali ini kepada putranya itu.
“Iya Pa … Evan sekalian mau minum ya, Pa. Minum air putih,” pinta Evan kali ini.
Ketiganya kemudian memilih duduk di atas rerumputan hijau dengan pohon-pohon rindang yang membuat tempat itu menjadi begitu teduh. Kemudian Belva mengeluarkan sebuah botol air mineral, membukakan seal-nya, dan kemudian menyerahkannya kepada Evan.
“Ini Van, minum dulu,” ucap Belva.
Tidak hanya itu, Belva juga mengambil botol air mineral lagi dari ranselnya, membukakan seal-nya, dan kemudian menyerahkannya kepada Sara.
“Mamanya Evan juga minum dulu yah. Kita udah jalan jauh banget, Mama pasti juga haus,” ucap Belva.
Sara pun menganggukkan kepalanya dan menerima botol air mineral dari Belva itu. Kemudian meneguk airnya perlahan. Memang dirinya begitu haus, sehingga saat tenggorokannya menerima air putih itu rasanya dahaganya hilang dan lega rasanya.
“Papa juga minum yah,” ucap Sara yang kemudian menyerahkan botol air mineral miliknya kepada suaminya.
Tangan Belva pun terulur dan menerima botol air mineral dari Sara. Kemudian, Belva pun meneguk air putih itu perlahan. Tidak dipungkiri dirinya juga dahaga. Sehingga saat bisa meminum air putih itu, rasanya begitu lega.
“Usai ini kita pulang ya Van … kita kan juga baru sampai dari Jakarta, terus langsung ke Kebun Raya Bogor. Sampai di rumah, mandi bersih-bersih, makan malam, dan tidur yah,” ucap Belva kali ini kepada Evan.
“Iya Pa,” sahut Evan dengan menganggukkan kepalanya.
Maka dari itu, usai dari Kebun Raya Bogor. Belva pun membawa Sara dan Evan untuk kembali pulang. Bahkan setibanya di rumah, Belva yang kali ini membantu memandikan Evan, dan Sara yang akan menyuapi Evan makan. Setelahnya dirinya perlu beristirahat.
***
__ADS_1
Malam harinya ….
Hampir jam 2o.oo, Evan sudah tertidur pulas. Sementara saat ini Belva dan Sara merasa masih belum mengantuk. Keduanya sama-sama duduk di atas ranjang, bersandarkan headboard, dan meregangkan kakinya.
“Mana foto yang kamu bilang ada di kamar?” tanya Belva kemudian kepada Sara.
Tangan Sara pun bergerak, dan membuka nakas yang berada di sisi tempat tidurnya. Kemudian menyerahkan beberapa foto album kepada Belva. Pria itu pun mengulurkan tangannya dan menerima foto album dari Sara. Perlahan, tapi pasti, Belva pun membuka satu per satu foto album itu. Terlihat foto pernikahan sirinya dengan Sara dulu. Melihat foto itu rasanya hati Belva bergetar. Tidak menyangka, dulu karena begitu ingin memiliki buah hati, Belva sampai melakukan pernikahan mut’ah yang menikahi Sara untuk mendapatkan buah hati.
“Kamu masih menyimpannya?” tanya Belva.
“Iya, aku masih menyimpannya,” jawab Sara.
Kemudian, tangan Belva mulai bergerak dan membuka lembaran selanjutnya. Kali ini, Belva tersenyum melihat foto dirinya bersama dengan Sara yang saat itu tengah hamil. Keduanya tampak begitu serasi di dalam foto itu.
“Aku juga masih menyimpan foto ini,” ucap Belva.
Kemudian Belva mengambil dompetnya yang dia taruh di atas nakas. Kemudian menunjukkan sebuah foto berukuran 4x6 kepada Sara.
“Lihatlah, aku juga menyimpannya,” jawab Belva.
Sara pun tersenyum saat mengetahui bahwa suaminya itu menyimpan fotonya bersama dengan Belva saat tengah hamil itu. Sungguh Sara benar-benar tidak menyangka bahwa Belva masih menyimpan foto itu.
“Sejak kita foto. Saat itu, aku meminta kepada Abraham untuk mencetaknya kecil. Tidakkah kamu ingat?” tanya Belva kali ini kepada Sara.
Saat itu, Sara tampak menggelengkan kepalanya secara samar. Sebab, dirinya tidak ingat dengan pasti apakah Belva memang mencetaknya saat itu. Seingatnya Belva memang mencetak beberapa foto secara langsung saat itu.
“Aku tidak ingat, karena saat itu kamu mencetak beberapa foto,” jawab Sara.
__ADS_1
“Benar … aku mencetak beberapa foto. Hanya saja, aku menyimpan foto ini. Aku selalu foto ini jika aku merindukanmu,” jawab Belva kali ini.
Rasanya Sara seperti mendengar curhatan dari suaminya sendiri. Benarkah Belva akan melihat foto itu di saat pria itu merindukan dirinya. Benarkah demikian?
“Ini foto kenangan bagiku … aku selalu mengingat bagaimana kita berfoto bersama. Kamu tahu Sayang, saat aku mengambil pose ini aku sangat bahagia. Hanya saja, saat itu aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku. Aku sebenarnya benci dengan diriku sendiri yang selalu diam dan seakan menjadi pria tanpa ekspresi,” aku Belva kali ini.
Mendengar pengakuan Belva, perlahan Sara justru menautkan jari-jari tangannya di sela-sela jari Belva saat ini. Mengisi kekosongan di sela jari itu dengan jarinya sendiri, dan meremasnya perlahan.
“Itu hanya masa lalu, Mas … sekarang kamu seakan sudah menjadi sosok yang berbeda. Jujur saja, aku suka dengan karaktermu yang seperti ini.” Sara berbicara dengan jujur.
Alih-alih mengingat Belva yang dingin dan seakan tanpa ekspresi, Sara justru menyukai sosok Belva yang sekarang. Sosok pria yang hangat dan perhatian. Jujur, Sara lebih menyukai dan memilih sosok Belva yang sekarang ini.
“Makasih Sayang,” jawab Belva pada akhirnya.
Pria itu tersenyum, mendekatkan punggung tangan Sara ke bibirnya dan mengecupnya untuk beberapa detik lamanya.
Chup!
“Aku selalu cinta kamu, Sara Sayang … bahkan di saat lidah dan bibirku terasa begitu kelu dan seolah tidak bisa mengucapkannya, tetapi hatiku selalu mencintaimu. Wajahnya yang cantik, sorot matanya yang polos, dan hatimu yang baik. Aku selalu mencintaimu,” ucap Belva kali ini.
Tidak bisa dipungkiri bahwa hati Sara begitu berbunga-bunga mendengar ucapan cinta dari suaminya itu. Sebagai seorang wanita, tentu Sara merasa begitu bahagia saat suaminya sendiri mengucapkan pengakuan cintanya kepadanya.
“Benarkah?” tanya Sara kemudian.
“Benar … aku selalu mencintaimu. Hanya saja, saat itu hanya bisa mengungkapkan dengan mulut tanpa suara, tetapi hatikulah yang mengungkapkannya. Entah sudah berapa kali, aku memandangi fotomu ini … foto kita. Aku selalu menyebut namamu dan berharap bisa kembali bertemu lagi denganmu. Syukurlah, Tuhan mendengar doaku. Aku akhirnya menemukanmu dan kini aku menjadi pemilikmu seutuhnya dan sepenuhnya,” balas Belva.
Empat tahun setelah Belva benar-benar kehilangan Sara, bahkan kehilangan jejak Sara, Belva selalu berdoa dan berharap bisa kembali menemukan Sara dan menjadi pemilik dari wanita itu seutuhnya dan sepenuhnya. Mulut yang dulu tak bisa berucap, kini dengan yakin mengakui betapa bahagia dan bersyukurnya Belva Agastya bisa kembali memiliki Sara.
__ADS_1