
Beberapa pekan kemudian, sebelum akhir pekan tiba, rupanya Sara menginginkan sesuatu dan wanita yang tengah hamil itu sedang berupaya untuk memberitahukan keinginannya kepada suaminya. Siapa tahu, suaminya akan mewujudkan apa yang menjadi keinginannya kali ini.
“Mas, aku pengen sesuatu,” ucap Sara.
“Hmm, pengen apa Sayang?” tanya Belva.
“Jalan-jalan sore yuk Mas … berdua saja, keliling kompleks pun aku juga mau,” balas Sara.
Selama menikah dengan Belva, baru kali ini Sara mengatakan keinginannya untuk jalan-jalan sore bersama suaminya, tetapi hanya berdua saja. Mengingat karena Sara hanya menginginkan waktu berdua, sampai-sampai Sara rela jika hanya berjalan-jalan di area kompleks mereka saja.
Belva yang mendengarkan ucapan Sara pun tertawa jadinya. “Jalan-jalan ke mall juga tidak apa-apa. Ada para ART yang bisa menemani Evan dan Elkan. Tumben sih Bumilku yang cantik ini pengen jalan-jalan sama Mamas saja,” sahut Belva.
"Enggak tahu ... tiba-tiba pengen aja jalan-jalan berdua," sahut Sara.
"Yang penting Mama atau si Princess nih?" tanya Belva kepada Sara.
"Kami berdua yang pengen, Mas ... kan dedek bayi masih di dalam kandungan. Jadi, ya ... kami berdualah yang pengen. Jalan-jalan terus beli gelato gitu, enak kelihatannya," balas Sara lagi.
Belva pun tertawa dan menggelengkan kepala mendengar permintaan dari istrinya itu, "Ya sudah, akhir pekan nanti jalan-jalan berdua. Anak-anak biar di rumah dulu. Buat Bumilku tercinta ... ayo aja lah," balas Belva.
"Baik banget sih ... tumben enggak ngasih syarat?" tanya Sara dengan melirik suaminya itu.
Dengan cepat Belva pun terbahak dalam tawa, "Sekarang sudah tidak ada syarat-syarat lagi Sayang ... itu mah sudah kebutuhan wajib. Cuma ya, aku tetap tidak akan memaksa. Sedikasihnya saja," balas Belva.
Pukulan dari telapak tangan Sara pun mendarat di lengan suaminya itu, "Ishhs, kamu bisa saja deh ... jadi sebel jadinya. Bete," sahut Sara dengan memanyunkan bibirnya.
"Awas ya kalau manyun-manyun nanti aku cium loh," ancam Belva yang sudah mengikis jarak wajahnya dengan Sara.
Dengan cepat pula, Sara menggelengkan kepalanya, "No ... enggak mau. Sebel," sahutnya.
__ADS_1
"Ya sudah ... sebel tanda cinta. Udah ah, nanti kamu malahan badmood beneran. Apalagi Bumil kan sering mood swing. Daripada nanti aku marah, ngambek, dan berujung nangis. Udah aja. Yang penting nanti hari Sabtu, kita jalan-jalan bersama. Ibu negara mau jalan-jalan sama Mamas," balasnya.
Mendengar ucapan suaminya, Sara pun tertawa, "Ibu negara Wakanda?" tanyanya.
"Bukan dong ... Negeriku Tercinta," sahut Belva dengan tertawa. Sebab, Belva pun tidak tahu harus menjawab apa lagi kepada istrinya itu. Lebih baik segera memeluk erat istrinya itu.
***
Akhir pekan tiba ....
Sebagaimana janjinya, Belva benar-benar mengajak Sara untuk jalan-jalan sore di sebuah pusat perbelanjaan yang ada di Ibukota. Hanya berdua saja. Hal yang langka, sepanjang memasuki mall, Sara selalu menggandeng tangan suaminya itu. Tidak peduli dengan mata-mata yang menatap keduanya. Yang ada justru Sara ada kalanya melingkarkan tangannya di lengan suaminya, menggandeng tangannya, dan sesekali menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
Benar yang Belva sampaikan sebelumnya bahwa istrinya itu sedang mode manja. Belva juga tidak keberatan. Yang ada justru Belva senang dengan Sara yang sedang manja dengannya. Seorang istri sudah selayaknya manja kepada suami.
"Mau beli atau shopping? Bilang aja, tinggal gesek," balas Belva.
"Boleh ... mau Qrisin?" tanya Belva.
"Enggaklah ... aku cuma bercanda. Aku cuma pengen jalan-jalan sore kayak gini saja kok sama kamu. Enggak pengen shopping. Kan aku pernah bilang sebelumnya kalau semua di rumah itu banyak, jadi lihat-lihat dan sedikit refreshing saja," balas Sara.
"Mau beli-beli juga tidak apa-apa. Sesekali menyenangkan diri sendiri kan tidak masalah, Sayang," balas Belva.
Sara kemudian tersenyum dan menatap suaminya yang berjalan di sampingnya itu, "Beliin gelato saja. Aku pengen soalnya," balas Sara.
"Boleh ... mau sekarang ke kedai gelato?" tanya Belva.
"Hmm, iya ... sama beliin kue yang manis ya Mas. Heran deh, hamil ini rasanya beda banget sama waktu hamil Evan dan Elkan. Dulu perasaan sukanya makanan yang asin dan gurih, sekarang justru pengennya yang manis-manis," jawab Sara.
"Ya, karena baby girl Sayang ... jadi, mungkin dia pengen yang lain, enggak mau sama kayak Kakaknya dulu. Enggak apa-apa, yang penting asupan gulanya juga dijaga saja Sayang," balas Belva.
__ADS_1
"Iya Mas ... aku juga enggak makan yang manis terus kok. Aku kadang seimbangkan dengan buah dan susu kehamilan atau yogurt aja yang khusus untuk Ibu hamil. Cuma, sekarang pengen gelato sama cup cakes," balas Sara.
Tidak banyak bicara, Belva pun mengajak Sara ke sebuah kedai gelato yang ada di dalam mall itu. Bahkan Belva membebaskan istrinya untuk mencoba beberapa rasa gelato. Jika hanya sekadar gelato, itu rasanya begitu murah untuk pemilik Agastya Property itu.
"Mau rasa Raspberry, Caramel, dan Double Choco," tunjuk Sara kepada penjual gelato itu.
"Silakan Kak," balas penjual itu.
Belva pun segera membayar gelato dan juga cup cakes yang dibeli istrinya itu dengan menggunakan Qris melalui handphonenya. Kemudian menemani Sara untuk duduk, melihat panorama Ibukota yang terlihat dari pusat perbelanjaan itu.
"Tuh, tadi udah di-Qris bayarnya. Tinggal scan, aman ... mau beli apa lagi? Bilang saja, sesore ini khusus buat kamu," balas Belva.
"Sudah, pengennya juga cuma ini kok. Mas enggak makan atau minum sesuatu?" tanya Sara.
Dengan cepat Belva menggelengkan kepalanya, "Enggak ... nanti beli Frappuccino di Coffee Bay saja. Boleh enggak sih Sayang, aku beli sahamnya Coffee Bay? Sementara ini kan semua saham milik kamu," ucap Belva.
Sara kemudian tertawa, "Ya ampun, cuma waralaba saja mau kamu beli sahamnya, Mas ... udah, Coffee Bay biar aku saja yang urus. Sapa tahu nanti Evan, Elkan, atau si baby ini minat dengan bisnis waralaba, tinggal aku wariskan," jawabnya.
"Serius kamu wariskan?" tanya Belva.
"Iya ... biar diurus anak-anak yang minat. Kan, aku pengen kayak kamu ... menikmati masa tua berdua dan keliling dunia," balas Sara.
Walaupun Sara mengatakannya dengan tertawa, tetapi dia bersungguh-sungguh. Dia akan mewariskan Coffee Bay nanti dan bisnis skincare yang digelugutinya sekarang ini kepada anak-anaknya yang berminat. Di hari tua, dia ingin menikmati hidup berasam dengan Belva Agastya. Mengeliling dunia, mencoba makanan khas negara yang mereka kunjungi, dan membuat banyak momen bersama.
"Mimpi kamu tuh ... gak jauh-jauh dari aku. Aku pun juga, aku siap mewariskan Agastya Property ke Evan, Elkan, atau Baby E ini. Cewek pun kalau berbisnis property juga tidak masalah. Cewek bisa juga mengembangkan bisnis property," balas Belva.
"Benar Mas ... wanita itu punya power kok. Asalkan mau untuk memacu dirinya sendiri, mau mencoba, dan tidak ada kata menyerah pasti bisa. Sambil mengasuh dan menyayangi cucu-cucu kita, enak bisa family time dan pacaran terus sama kamu," balas Sara dengan tertawa.
Belva mengulum senyuman di wajahnya, tangannya bergerak dan memberi usapan di kepala Sara. "Amin ... semoga apa yang kita harapkan akan terwujud. Namun, sementara ini fokus untuk Baby E dulu. Gak sabar punya princess deh. Gak lama lagi," balas Belva.
__ADS_1