Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Piknik Tipis-Tipis


__ADS_3

“Makasih Sayang untuk vitamin boosternya, aku suka,” balas Belva yang masih memeluk istrinya itu.


Tentu saja Belva suka dan seakan mendapatkan suntikan vitamin karena bersatu padu dengan Sara ada celah sama sekali membuat moodnya membaik, bahkan Belva merasakan bahwa aliran darahnya lebih lancar, jantungnya bisa memompa darah dan mengalirkannya ke seluruh tubuh dengan lebih baik.


“Cuma, tadi aku takut, Mas,” balas Sara dengan jujur.


Sejak Sara mengalami flek, dia dan Belva sama sekali tidak melakukan hubungan suami istri. Setelah sekian lama tidak menyatu dan ada riwayat flek sebelumnya membuat Sara merasakan takut.


“Terus gimana sakit enggak? Perut kamu kenceng enggak?” tanya Belva kepada istrinya itu.


Sontak saja Belva turut merasa khawatir ketika Sara mengatakan takut. Belva sebenarnya juga takut, karena itulah dia yang meminta Sara yang memegang kendali. Sebab, Belva yakin bahwa Sara tahu sampai di batas mana mereka berdua bisa bermain dan mereguk manisnya nektar cinta bersama.


“Enggak … enggak sakit kok. Ya, semoga saja tidak sakit, Kak,” balas Sara.


“Iya Sayang … kalau kerasa apa-apa bilang ya Sayang. Jangan dipendam sendiri,” balas Belva pada akhirnya.


“Iya, nanti kalau ada apa-apa, aku bakalan bilang kok,” balas Sara.


Belva kemudian mengusapi puncak kepala Sara itu, rasanya Belva begitu mencintai istrinya itu. “Malam ini, boboknya gini saja Sayang … pengen nempel sama kamu,” ucap Belva.


Kala itu, keduanya masih sama-sama polos, hanya selimut tebal saja yang mengcover tubuh keduanya. Yang dimaksud oleh Belva adalah keduanya bisa tidur bersama dalam keadaan sama-sama polos.


“Serius? Kalau pagi Evan bangun dan nyusul kita gimana?” tanya Sara kepada suaminya.


Memang yang Sara takutkan adalah saat pagi tiba, dan Evan menyusulnya masuk ke dalam kamar. Tentu akan panik rasanya.


“Tenang saja, Sayang … nanti kamu bisa langsung ke kamar mandi saja,” balas Belva kali ini.


“Kalau aku kedinginan kalau enggak makai baju gimana?” tanya Sara lagi.


“Aku peluk sepanjang malam ini,” balas Belva.

__ADS_1


Sara menyipitkan kedua matanya dan menatap suaminya itu, “Bisa banget sih … aku mau, tapi ada syaratnya,” ucap Sara kali ini.


“Syaratnya apa? Kalau aku bisa pasti aku akan lakukan buat kamu,” jawab Belva dengan cepat.


“Ke pantai yuk, Mas … di sekitaran Jakarta aja. Aku pengen jalan-jalan di pantai,” balas Sara kali ini.


Rupanya syarat yang dia minta adalah ingin jalan-jalan ke pantai bersama suaminya itu. Entah itu karena Sara yang tengah ngidam, atau memang Sara membutuhkan waktu untuk sedikit liburan.


“Akhir pekan nanti yah,” jawab Belva. Tentu saja Belva mengajak Sara bernegosiasi, karena di hari kerja akan susah baginya untuk mengajak Sara ke pantai. Sebagai gantinya di akhir pekan nanti Belva akan mengajak istrinya itu piknik tipis-tipis ke lantai.


“Janji yah? Adik bayinya pengen banget ini Papa,” balas Sara. Kali ini Sara pun bertingkah layaknya Ibu-Ibu yang hamil dan mengatasnamakan sebuah keinginan berdasarkan permintaan dari bayinya.


Mendengar perkataan Sara pun, Belva pun tertawa, “Iya-iya Sayangku … nanti akhir pekan kita ke pantai, biar Evan sekalian jalan-jalan juga,” jawabnya.


Belva lantas menelisipkan satu tangannya, menjadi tumpuan untuk kepala Sara. Tangannya bergerak mengusapi lengan Sara yang polos. Pria itu menarik selimut lebih ke atas. Tanpa ada busana yang mereka pakai, hanya menggunakan selimut saja, tubuh keduanya menjadi kian hangat, selain itu mereka sama-sama tersenyum sebelum akhirnya terbuai ke dalam alam mimpi.


***


Sebagaimana janjinya kepada Sara beberapa hari yang lalu, hari ini Belva benar-benar mewujudkannya. Pria itu membawa Sara dan Evan untuk berjalan-jalan di Pantai. Memang hanya ke Pantai Karnaval Ancol, karena memang Belva hanya akan membawa mereka jalan-jalan di sekitaran Jakarta saja.


Evan berjalan dengan menggandeng tangan Papa dan Mamanya. Dia berada di tengah-tengah di antara Papa dan Mamanya. Dengan melepas alas kaki, ketiga berjalan dan saling bergandengan tangan merasa pasir yang menyapa telapak kaki mereka, dan merasakan ombak yang kadang kala turut menyapa.


“Evan suka pantai … kapan-kapan ke pantai yang lebih lama, Pa. I want playing to the beach,” ucap Evan dengan begitu semangat.


Belva menganggukkan kepalanya, tentu saja Evan juga membutuhkan liburan. Agaknya Belva harus menyediakan hari di mana dia bisa mengajak keluarga kecilnya untuk menikmati liburan bersama.


“Mama suka gunung atau suka pantai?” tanya Evan kepada Mamanya.


“Mama suka pantai,” balasnya.


“Kenapa kok Mama suka pantai?” masih saja Evan bertanya kepada Mamanya.

__ADS_1


Sara hanya tersenyum. Tentu saja dia suka pantai karena teringat dengan saat Belva mengajaknya menuju ke Bintan, Kepulauan Riau. Di sana mereka kembali saling mengenal satu sama lain. Bulan madu yang rasanya jauh lebih indah. Juga, teringat kenangan di Pulau Jeju, Korea Selatan. Di hotel dengan pemandangan lautnya yang biru itu, dia merasa yakin dan memberi dirinya untuk Belva. Waktu seakan memang sudah berlalu begitu lama, tetapi Sara meyakini bahwa memang itulah perjalanan cintanya bersama Belva.


“Mama suka pantai,” balas Sara dengan sederhana.


“Wah, sama seperti Papa dong,” sahut Evan.


Belva kemudian melirik ke arah Sara yang masih berjalan dan menggandeng tangan putra kecilnya itu, “Papa menyukai pantai karena banyak kenangan indah yang Papa nikmati bersama Mama kamu di sana,” balas Belva.


Bukan jauh atau tidaknya sebuah tempat. Di pantai yang biasa didatangi orang banyak untuk menghabiskan hari libur akhir pekan pun bisa didatangi Belva dan keluarga. Menikmati akhir pekan dengan suasana baru dan lebih mempererat hubungan kekeluarga mereka.


Wajah Sara seketika memerah mendengar perkataan dari suaminya itu. Sesekali wanita yang hamil itu tersenyum dan mengusapi perutnya yang kian hari kian menyembul.


“Evan suka pantai?” tanya Sara yang tentu hanya sekadar mengalihkan pembicaraan.


“Suka Ma … suka pantai. Di resort punya Papa di Bali,” balas Evan.


Walau masih kecil, setidaknya Evan tahu bahwa Papanya memiliki sebuah resort di Bali. Resort yang menghadap ke laut biru, tempat di mana Belva terkadang mengajak Evan liburan di sana.


“Wah, bagus dong … apalagi kalau resortnya menghadap ke laut,” balas Sara.


“Iya Ma, resortnya menghadap ke pantai kok. Iya kan Pa?” tanya Evan kepada Papanya itu.


“Iya Sayang … kapan-kapan kita ke sana yah. Kita jalan-jalan dulu sebelum kamu melahirkan nanti. Babymoon bareng Evan yah,” ajak Belva kepada istrinya itu.


“Boleh aja Mas, asal tidak merepotkan kamu dan pekerjaanmu,” balasnya.


Ya, bagi Sara tidak masalah Belva akan mengajaknya ke mana saja yang pasti tidak merepotkan Belva dan juga tidak mengganggu pekerjaan Belva. Setidaknya biarlah suaminya itu terus bekerja dan mendapatkan berbagi projek yang menguntungkan. Liburan bisa lain waktu, hanya sekadar piknik tipis-tipis begini saja, Sara juga sudah merasa begitu senang.


“Tenang saja, nanti aku yang atur semua,” sahut Belva kemudian.


Menjelang sore tiba, keduanya memilih duduk dan menikmati senja. Kali ini senja dinikmati oleh Sara, Belva, dan Evan. Ketiganya menatap surya yang mulai kembali ke peraduannya itu. Rasanya penuh syukur, ada Belva yang adalah suami yang baik dan sangat menyayangi istri dan putranya. Ada Sara yang adalah ibu dan istri yang lembut dan mau mengerti satu sama lain. Ada Evan yang bahagia memiliki sosok Papa dan Mama yang lengkap. Tidak lama lagi seorang bayi akan menyempurnakan keluarga Agastya. Semoga saja, waktu berlalu dengan begitu baik dan Sara bisa melahirkan putra keduanya nanti dengan sehat dan juga selamat.

__ADS_1


__ADS_2