Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Annyeong, Seoul!


__ADS_3

Sekarang menjadi waktu honeymoon itu benar-benar terjadi. Anin benar-benar meminta kepada Belva untuk cuti selama dua pekan dengan dalih bahwa segera berbulan madu supaya mempercepat kehamilan Sara. Seolah enggan berdebat dengan Anin, maka Belva pun untuk kali pertama memutuskan untuk mengambil cuti. Seluruh urusan pekerjaan di Agastya Property akan diserahkan kepada Hendra, sekretaris Belva. Selain itu, Belva pun akan mempersilakan dewan direksi untuk menyampaikan hasil kerjanya melalui email. Sebab, sekalipun dirinya mengambil cuti, bukan berarti dirinya tidak bisa dikunjungi. Belva akan tetap memantau seluruh pekerjaan dan proyek yang dikerjakan Agastya Property dari jauh.


Saat ini, Sara dan Belva tengah berada di pesawat dalam penerbangan menuju ke Seoul, Korea Selatan. Pengalaman pertama bagi Sara untuk menaiki pesawat. Sekalipun Sara begitu takut, tetapi dia memilih menguatkan hatinya bahwa dirinya akan baik-baik saja selama di dalam pesawat.


“Pernah naik pesawat sebelumnya?” tanya Belva kepada Sara.


Wanita itu pun menggelengkan kepalanya, “Belum pernah, ini pertama kalinya,” jawab Sara dengan menunduk.


Belva pun tidak mengira bahwa Sara juga belum memiliki pengalaman menaiki pesawat. Saat dirinya menjadi orang yang sering bepergian dengan penerbangan udara, rupanya ada pula orang yang belum pernah menaiki pesawat.


Pria itu pun menghela nafasnya, “Sekarang kamu takut tidak?” tanyanya lagi saat pesawat itu terus bergerak menembus awan-awan putih di angkasa itu.

__ADS_1


“Iya,” jawab Sara dengan singkat. Tidak dipungkiri bahwa dirinya pun takut, tetapi saat take off tadi, Sara menguatkan dirinya dan berdoa dalam hati semoga perjalanannya kali ini tidak terasa menyeramkan.


Belva kemudian tertawa, “Kenapa tidak bilang jika takut?” tanya pria itu. Setelah sekian jam lamanya bersama dari rumah, perjalanan ke bandara, hingga menaiki pesawat, baru kali ini pria itu tertawa.


Pria yang terbiasa menunjukkan wajah datarnya itu pun saat tertawa justru terlihat kian tampan, dengan satu lesung pipi yang berada di sudut pipinya sebelah kanan. Begitu tampan dan memesona.


Melihat tawa di wajah Belva, Sara pun menunduk.


Ya Tuhan, kenapa saat tertawa seperti ini Pak Belva terlihat begitu tampan. Dan, lesung pipi itu justru kian membuat wajahnya kian sempurna.


Jangan terus-menerus tertawa, Pak. Aku bisa jatuh cinta.

__ADS_1


Tawa di wajah Belva pun akhirnya berhenti, pria itu lantas mengulurkan tangannya, “Jika takut, peganglah tanganku.” Belva kembali berbicara dengan tenang.


Sara pun mengangguk, “Baik Pak, terima kasih,” jawabnya dengan mengangguk. Akan tetapi, Sara pun tak urung menautkan tangannya ke atas tangan Belva.


Menerima setiap kebaikan Belva justru membuat Sara harus lebih menahan diri, semoga saja dirinya tidak jatuh cinta kepada sang CEO yang menyewa rahimnya itu.


Hingga akhirnya pemberitahuan dari awak kabin pun mengabarkan bahwa pesawat akan segera landing di Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan. Dari udara, tampak terlihat kota Seoul yang menawan dengan bangunan pencakar langitnya. Kelokan Sungai Han yang terlihat dari udara, dan juga musim semi di negeri itu yang siap untuk menyambut keduanya.


Sara mengalihkan wajahnya pada kaca jendela pesawat, “Annyeong, Seoul!” ucapnya dengan lirih.


Tidak mengira, di dalam hidupnya yang penuh derita dan air mata, kali ini dirinya bisa menginjakkan kakinya di kota Seoul, Korea Selatan. Sebuah kota yang sudah menjadi impiannya sejak SMP, dan kali ini Sara benar-benar memiliki kesempatan untuk mengunjungi kota itu.

__ADS_1


Belva turut tersenyum mendengar Sara yang baru saja menyapa kota Seoul dengan bahasa Korea.


“Annyeong,” sahut Belva juga lirih di sisi telinga Sara.


__ADS_2