
Situasi yang rumit kali ini terjadi, bukan hanya Zaid yang termangu melihat Sara yang sedang menggendong seorang anak berusia 4 tahun dan diikuti oleh pria yang tidak lain adalah mantan suaminya yaitu Belva Agastya. Jujur saja perasaan Zaid sangat tidak tenang sekarang ini. Sekalipun Sara tidak pernah mengungkapkan perasaannya, tetapi Zaid tahu bahwa Sara memiliki perasaan tersendiri bagi Belva. Hal itu terbukti karena dalam waktu 4 tahun yang begitu panjang, nyatanya Sara juga tidak menerima pernyataan cinta darinya.
“Apa kamu perginya lama, Sara?” tanya Zaid saat itu.
Perlahan Sara menghentikan langkah kakinya, dan menoleh ke arah Zaid, “Kurang tahu, Zai … kenapa? Apa ada yang penting?” tanyanya.
Sebelum Zaid menjawab, rupanya Belva menginterupsi terlebih dahulu dengan meminta Evan dari gendong Sara.
“Evan, ikut Papa dulu yuk?” ajaknya.
Tentu hal itu dilakukan Belva supaya Sara bisa berbicara terlebih dahulu dengan Zaid.
“Enggak mau, Evan enggak mau,” sahut Evan yang justru mencerukkan wajahnya di leher Sara.
Merasa bahwa Evan yang begitu menempel dengan Sara, kemudian Belva melirik ke arah Sara.
“Kamu bicaralah dulu dengannya, aku tunggu,” balas Belva.
Pria itu memilih berjalan beberapa langkah di depan. Belva melakukannya dengan maksud untuk memberikan waktu bagi Sara untuk berbicara terlebih dahulu dengan Zaid. Belva pikir ada sesuatu yang terjadi antara Sara dan Zaid. Lagipula seingatnya, pria itu sudah pernah dia lihat saat Sara tengah hamil Evan dan belajar meracik minuman di Kopi Lab dulu.
Seusai Belva menjauh, Zaid pun berjalan mendekat ke arah Sara.
“Sorry, aku baru ke mari. Aku sibuk mengurusi kafe baruku di Surabaya,” ucap Zaid.
Sara pun menganggukkan kepalanya, “Iya, tidak apa-apa. Jika, kamu baru sampai seharusnya beristirahat saja,” balasnya.
“Dia siapa?” tanya Zaid yang melihat ke arah Evan saat ini.
Sara lantas menjawab, tetapi tidak bersuara tentu supaya Evan tidak mendengarnya, “Anakku,” ucapnya tanpa bersuara.
Mendengarkan jawaban Sara, jujur saja hati Zaid teriris perih. Zaid memang mengatakan akan memaklumi dan menerima masa lalu Sara, tetapi saat sekarang di depan matanya orang-orang dari masa lalu Sara muncul kembali, hati Zaid terasa sakit. Ada ketakutan tersendiri yang pria itu rasakan.
“Lalu mau kemana?” tanya Zaid lagi.
“Mengantar dia sebentar,” balas Sara.
__ADS_1
Hingga akhirnya Zaid pun menganggukkan kepalanya, “Baiklah … besok aku akan ke sini. Hati-hati yah,” balas Zaid.
Akhirnya Zaid memilih kembali memasuki mobilnya, pria itu melambaikan tangannya kepada Sara. Sementara dari jauh, Belva tampak mengamati interaksi antara Zaid dan Sara. Hati Belva pun rasanya berkecamuk, tetapi Belva pun tidak bisa melakukan apa-apa karena sekarang Sara bukan miliknya.
Usai kepergian Zaid, Sara berjalan menuju ke mobil Belva. Pria itu segera membuka pintu belakang untuk Sara. Hal itu Belva lakukan karena Sara membutuhkan ruang lebih banyak dengan Evan.
Belva hanya diam dan melajukan mobilnya, membelah jalanan di kota Bogor malam itu, hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, mobil itu telah tiba di parkiran hotel yang Belva tempati.
“Evan, turun yuk Nak … jalan sendiri yuk, kan Evan sudah besar,” ucap Belva kali ini yang berusaha memberikan pengertian kepada Evan.
Nyatanya Evan justru mengangkat wajahnya, dan melihat wajah Sara, “Mau digendong boleh?” tanyanya.
Sara pun mengangguk, tentu dia senang menggendong Evan. Sara tidak keberatan, itu justru membuktikan bahwa Evan mungkin merasakan perasaan yang sama dengannya.
“Dia berat, Sara,” sahut Belva sembari menekan tombol lift.
“Tidak apa-apa, Pak,” balas Sara.
“Beratku 13 kilogram,” ucap Evan perlahan.
Lift itu akhirnya bergerak naik perlahan, hingga sampai di lantai lima. Sara mengikuti Belva yang berjalan di depannya dan Sara masih menggendong Evan.
“Tidur sama Evan yah Tante,” ucap Evan kali ini.
Sara menghela nafas panjang, sekalipun dia sangat senang berdekatan dengan Evan. Akan tetapi, memasuki kamar hotel di mana hanya ada Belva dan Evan membuatnya sungkan. Evan memang putranya, sementara Belva adalah mantan suaminya. Jadi jujur saja, Sara merasa sungkan dengan Belva.
“Tidur sama Papa saja yuk?” ajak Belva.
“Papa, Evan gak mau,” rajuk Evan lagi.
Belva pun mengusap wajahnya dengan kasar, dia tahu bahwa Sara sedang sungkan saat ini.
“Kamu sama Evan saja, aku di balkon kamar saja. Tidak usah menghiraukan aku,” ucap Belva.
Ya, kali ini Belva memilih untuk memberikan Sara waktu menidurkan Evan. Lagipula, Belva tahu mungkin baik Sara dan Evan sama-sama rindu. Sekalipun tidak terucap, tetapi Belva menyadari ikatan yang terjalin dengan darah dan hati tentu begitu kental. Sehingga Belva memilih memberikan ruang dan waktu bagi Sara dan Evan.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Sara merebahkan dirinya di samping Evan. Menidurkan putranya itu untuk sesaat. Sara berharap Evan akan lekas tertidur, karena hari kian malam.
Hampir setengah jam berlalu, dan kini Evan benar-benar telah terlelap. Sara kemudian memilih turun dari tempat tidur dengan hati-hati. Rencananya Sara akan pulang saja karena hari sudah malam.
“Pak Belva, aku mau pulang,” pamit Sara sembari berjalan ke arah balkon di kamar itu.
“Tunggu sebentar Sara,” balas Belva.
Sara pun kembali menghentikan langkahnya, dan berdiri dengan jarak tidak terlalu jauh dari Belva. Rupanya secara impulsif, Belva mendekat dan memeluk Sara. Ya, pria itu memeluk Sara dengan tiba-tiba. Belva memejamkan matanya dan mencerukkan wajahnya di sisi leher Sara. Sementara kedua tangan Sara hanya luruh di samping tubuhnya.
Saat Belva memeluknya, rasanya hati Sara justru berdenyut nyeri di sana. Pria yang sudah lama tidak dia temui itu ternyata masih suka bersikap impulsif.
“Jangan seperti ini Pak Belva,” ucap Sara.
“Sebentar saja, Sara … aku … aku rindu kamu,” aku Belva kali ini.
Ya Tuhan, benarkah bahwa Belva merindukannya. Kenapa mendengarkan pengakuan dari pria itu kini jantung Sara berdebar-debar melebihi ambang batasnya. Sungguh, Sara tidak mengira bahwa Belva akan mengatakan hal demikian.
Sara bak kehilangan kata-kata, tidak bisa merespons apa pun ucapan Belva. Hingga akhirnya, Sara sedikit mendorong dada Belva.
“Maaf Pak, aku harus pulang,” ucap Sara dengan wajah yang tertunduk. Sebisa mungkin Sara berusaha untuk menghindari kontak mata dengan Belva.
“Aku antar?” tanyanya.
“Tidak usah, aku naik taksi dari depan hotel saja. Evan membutuhkan Papanya,” balas Sara.
“Biar aku mengantarkanmu sampai di depan,” ucap Belva pada akhirnya.
Sara hanya diam dan membiarkan Belva untuk berjalan di sisinya. Mengantarkannya hingga di depan hotel dan menunggu taksi. Selanjutnya, kedua orang itu sama-sama diam. Lebih tepatnya bingung harus berbicara apa lagi.
Hingga akhirnya, Sara memasuki sebuah taksi dan berpamitan dengan Belva.
“Pamit Pak Belva,” ucapnya.
“Ya, hati-hatilah Sara,” jawab Belva.
__ADS_1
Pria itu masih berdiri di depan pintu keluar hotel dan menunggu taksi yang ditumpangi Sara menjauh. Belva lantas memejamkan matanya perlahan, hatinya sendiri tak menentu sekarang ini. Ingin rasanya memeluk dan menahan Sara, tetapi rasanya Belva tidak memiliki keberanian untuk melakukan itu.