
Begitu malam tiba, usai dari Rumah Sakit. Belva dan Sara memilih untuk menonton film bersama. Sebenarnya bukan film, melainkan drama korea yang sedang dilihat oleh Sara, dan Belva mau-mau saja menemani istrinya itu.
“Lihat apa Sayang?” tanya Belva sembari mengambil tempat duduk di samping istrinya itu.
“Lihat ini Mas … drama korea,” balasnya.
“Kamu masih seneng banget yah drama korea. Pengen jalan-jalan ke Korea lagi?” tanya Belva kepada istrinya itu.
“Euhm, ya kalau pengen sih ya pengen … cuma enggak sekarang juga. Kan kita juga habis dari London dan Paris. Terus aku udah ‘dung’ nih, jadi stay di dalam kota saja dulu,” jawabanya sembari mengusapi perutnya.
Belva kemudian tersenyum, kali ini justru pria itu yang menyandarkan kepalanya di bahu Sara. Seorang pria pun juga membutuhkan tempat untuk bersandar. Begitu juga Belva, yang membutuhkan Sara untuk bersandar sejenak. Ketika kepala Belva bersandar, tangan Sara pun terulur dan segera memberikan usapan di kepala suaminya itu, membelai rambut hitamnya dengan gerakan tangan yang begitu lembut.
“Tumben Mas … manja,” ucap Sara dengan mengulas senyuman di wajahnya.
“Pengen aja, Sayang … kangen kamu,” balas Belva dengan menghela nafas dan memejamkan matanya untuk sejenak.
Beberapa saat lamanya, Sara diam dan tetap memberikan usapan di kepala suaminya itu. “Kerjaan di kantor baru banyak ya Mas?” tanya Sara kemudian kepada suaminya.
__ADS_1
“Iya … banyak banget. Banyak menangin tender projek, ya jadi banyak pekerjaan juga. Cuma sejauh ini masih bisa berjalan dengan baik kok,” balas Belva.
Sara menganggukkan kepalanya secara samar dan kemudian menautkan jari-jarinya ke sela-sela jari suaminya itu. “Yang penting Papa selalu sehat … semoga kerjaan di perusahaan bisa berjalan dengan lancar,” balas Sara dnegan tulus.
Apa dan bagaimana pekerjaan Agastya Property memang dirinya masih sangat awam. Namun, yang Sara harapkan adalah suaminya itu bisa tetap sehat. Kesehatan adalah hal yang utama, sehingga dengan tubuh yang sehat Belva bisa terus beraktivitas dan menyelesaikan projek demi projek yang dimenangkan oleh Agastya Property.
“Makasih Sayang … kamu perhatian kayak gini. Aku jadi seneng banget,” aku Belva dengan jujur.
Terkadang seorang pria yang membutuhkan suaranya didengar. Seorang pria membutuhkan perhatian dari istrinya. Sekarang, saat Belva mendapatkan perhatian dari Sara rasanya begitu senang. Walau Sara memang tidak tahu mengenai bisnis Agastya Property, tetapi Belva yakin bahwa Sara selalu mendengarkan ceritanya, dan bahasa tubuh seperti ini yang membuat Belva selalu nyaman menjalani hidup bersama dengan Sara.
“Padahal setiap hari aku juga perhatian loh … tapi senengnya cuma hari ini aja sih?” balas Sara dengan tersenyum.
Pria itu berbicara manis kepada istrinya sehingga rona merah jambu tercetak jelas di wajah Sara. Rasanya setiap kali suaminya itu berbicara manis, Sara dengan begitu cepatnya meleleh. Jujur, dia suka mendengar ucapan manis dari suaminya itu.
“Mau aku bikinkan Teh hangat?” tanya Sara kepada suaminya itu.
Dengan cepat Belva menggelengkan kepalanya, “Enggak … udah kebanyakan minum tadi. Kamu belum beli susu untuk Ibu hamil ya Sayang?” tanya Belva.
__ADS_1
“Belum Mas … enggak minum susu Bumil boleh enggak sih? Kan sudah ada vitamin dan asam folat dari Dokter Indri,” balas Sara.
“Minum saja … biar kamu sehat dan adik bayinya juga sehat. Kan asam folat bagus untuk wanita hamil dan bayinya. Jadi kalian berdua bisa sama-sama sehat,” balas Belva.
Yang dikatakan Belva sepenuhnya benar karena asam folat memang baik untuk Ibu hamil dan juga untuk bayi yang masih berada di dalam kandungan. Bagi Ibu Hamil, asam folat bermanfaat untuk membentuk sel-sel tubuh, mencegah kekurangan darah, mencegah gangguan jantung. Sementara untuk bayi dalam kandungan, asam folat bermanfaat utnuk pembentukan otak dan sumsum tulang belakang dari neural tube dan berperan dalam mendukung perkembangan otak bayi.
“Malas Mas, minum susu … kadang eneg,” balanya.
“Enggak boleh malas … nanti biar Papa yang buatin yah buat Mama. Pasti rasanya langsung enak dan enggak bikin eneg. Papa tambahkan satu sendok cinta nanti,” balasnya.
Dengan percaya diri Belva mengatakan semuanya itu, sementara Sara justru terkekeh geli dan memukul lengan suaminya. Bisa-bisanya Belva berbicara seperti itu.
“Gombal banget sih … jangan gitu Mas, bicara kamu mengandung glukosa yang efeknya tidak bagus untuk diri aku. Nanti aku bisa diabetes karena terus-menerus mendengar ucapan manismu,” balas Sara.
“Bisa-bisanya. Aku bicara jujur, pasti kamu bilangnya aku gombal,” balas Belva.
Sepanjang malam itu, keduanya saling membangun obrolan, bercanda, dan ada kalanya tawa keduanya pun pecah. Waktu-waktu malam ketika putra-putranya sudah tidur seperti inilah yang selalu dimanfaatkan keduanya untuk berbagi cerita.
__ADS_1
“Sekarang … yang penting kamu sehat-sehat dulu. Jaga kandungan kamu, sampai sembilan bulan nanti. Aku akan selalu mendampingi kamu.” Belva berbicara dengan sungguh-sungguh. Dalam kehamilan Sara yang ketiga ini, dia ingin terus mendampingi Sara. Tidak akan membiarkan Sara seorang diri.