Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Rumah dengan Harapan Baru


__ADS_3

Perjalanan udara dari Singapura menuju ke Jakarta akhirnya ditempuh Belva dan Sara dalam waktu hampir dua jam. Sepanjang perjalanan, Belva tampak tenang. Ada alasan kenapa Belva tenang, karena sepanjang perjalanan Evan begitu aktif mengajak Sara mengobrol.


Rasanya begitu banyak yang Evan obrolkan mulai dari mainan, film kartun, hingga pertanyaan-pertanyaan kritis yang diajukan Evan kepada Sara. Untung saja Sara begitu sabar, dan bisa mengimbangi rasa ingin tahu Evan yang begitu besar. Lagipula, Sara tidak keberatan karena anak di usia 4 tahun memiliki begitu kritis dan ingin serba tahu. Tugas Sara adalah menstimulasi Evan dengan memberikan pertanyaan lanjutan dan memberi ruang bagi Evan untuk berbicara. Mengutara apa yang ada di otak dan hatinya. Anak yang merasa didengarkan akan merasa lega, itulah yang sekarang Sara lakukan.


“Evan banyak bicara ya Sayang?” tanya Belva sembari berbisik kepada Sara.


“Tidak apa-apa, Mas … anak seusia Evan memang banyak bercerita dan ingin didengarkan,” jawab Sara.


“Kamu tidak capek mendengarkan dan mengimbangi Evan yang berbicara seakan tidak ada habisnya?” tanya Belva lagi kemudian.


Sara tersenyum dan menggelengkan kepalanya perlahan, “Tidak … aku justru senang mendengarkannya. Dulu selama empat tahun, aku sempat berpikir sekarang putraku sudah sebesar apa? Apakah dia sudah bisa berbicara? Aku ingin sekali mengobrol dengan putraku. Sekarang, aku bisa memiliki waktu seperti ini dengan Evan, tentu aku bahagia,” balas Sara.


Memang tidak dipungkiri, dulu Sara begitu kesepian dan selalu merindukan Evan. Membayangkan seperti apa putranya itu bertumbuh tanpa dirinya terkadang membuat hati Sara terasa sesak rasanya. Sehingga sekarang, Sara tidak keberatan dan justru senang karena Evan terbuka kepadanya dan Evan terlihat begitu menyayanginya.


Mencoba melihat dari sudut pandang Sara, akhirnya Belva pun menganggukkan kepalanya, “Iya … Evan memang seperti itu. Akan tetapi, kamu perlu tahu. Bahwa kata pertama yang diucapkan Evan adalah Bunda,” cerita Belva kali ini.


Mendengarkan cerita Belva, kedua mata Sara terasa berkaca-kaca. Tidak mengira jika kata pertama yang diucapkan Evan adalah Bunda.


“Benarkah?” tanya Sara mencoba meyakinkan.


“Iya … Nda, ya Bunda … itu adalah kata pertama Evan. Semua itu cukup menjadi bukti bahwa Evan sayang kepada Bundanya,” jawab Belva kali ini.


“Aku merasa bersalah meninggalkan Evan selama empat tahun lamanya. Di saat aku memberikan kebahagiaan untuk orang lain, justru sama sekali tidak ada kebahagiaan dalam hidupku. Sepanjang hari aku lalui dengan memanjatkan doa bagi Evan. Berdoa semoga Evan tumbuh sehat dan bahagia. Putra yang kulahirkan, tetapi tidak kuasuh setiap harinya,” sahut Sara kini.


Tampak Belva yang menggerakkan tangannya dan kini menggenggam tangan Sara.


"Semuanya hanyalah masa lalu. Sekarang kamu memiliki waktu yang begitu banyak dengan Evan," sahut Belva yang mencoba menguatkan hati Sara saat ini.


Perlahan Sara pun menganggukkan kepalanya, "Iya … makasih banyak, Mas," balas Sara.

__ADS_1


Sampai pada akhirnya pesawat yang mereka naiki mulai mengurangi ketinggiannya di udara. Perlahan menukik dan berputar. Sara mengamati pemandangan berupa lautan biru di bawahnya yang terlihat begitu indah. Sesekali Sara refleks menggenggam tangan Belva saat merasakan tekanan udara di dalam badan pesawat berkurang. Hingga akhirnya pesawat benar-benar telah melaju dengan begitu kencangnya. Roda-roda pesawat telah menyentuh jalanan sekarang ini.


Hingga akhirnya pesawat pun telah mendarat dengan sempurna. Kemudian para penumpang mengantri untuk keluar dari pesawat. Sama halnya dengan Sara, Belva, dan Evan yang kini juga mengantri untuk keluar dari pesawat. Mereka menuju ke Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan kemudian mengambil koper mereka.


Hampir setengah jam berlalu, sampai pada akhirnya seorang sopir menjemput Sara, Belva, dan Evan. Sopir yang akan mengantarkan ketiga menuju kediaman Belva Agastya.


"Kita pulang ke rumah kan Pap?" tanya Evan yang terlihat begitu excited sekarang ini.


"Iya Evan, kita akan pulang ke rumah kita," balas Belva.


"Yeay, Evan senang. Di rumah kita yang besar sekarang ada Mama," teriak Evan kali ini.


Hal yang menjadikannya maklum karena ini adalah kali pertama usai menikah Sara akan tinggal di rumah Belva Agastya lagi. Kali ini Sara akan tinggal di kediaman Belva bukan sebagai istri kedua, atau sebagai wanita yang menyewakan rahimnya. Akan tetapi, sebagai satu-satunya wanita yang dicintai Belva.


Perjalanan dari bandara menuju kediaman Belva ditempuh dalam waktu satu jam. Hingga akhirnya mereka kini telah tiba di kediaman Belva.


Terlihat Bibi Wati yang berlari tergopoh-gopoh untuk menyambut kedatangan Tuan Rumah yaitu Belva Agastya.


"Makasih Bi," jawab Belva.


Kemudian Evan pun turun dari mobil dan menyapa ART yang sudah bertahun-tahun bekerja untuk Belva itu.


"Evan pulang," ucapnya kali ini.


"Halo Bibi Wati," sapa Sara pada akhirnya.


Melihat kedatangan Sara bersama Belva dan Evan, Bibi Wati justru meneteskan air matanya.


"Selamat datang Nyonya Sara," balas Bibi Wati kali ini.

__ADS_1


Tanpa basa-basi, Sara kemudian mengikis jaraknya dan segera memeluk Bibi Wati.


"Panggil seperti biasanya saja, Bi. Tidak ada yang berubah," ucap Sara kali ini.


Rasanya Sara begitu terharu disambut dengan begitu baik kali ini. Bahkan Sara menitikkan air matanya saat memeluk Bibi Wati.


"Mbak Sara … Bibi senang karena sekarang Mbak Sara akan menjadi Nyonya rumah ini. Bukan hanya Pak Belva dan Evan yang berbahagia, Bibi juga sangat bahagia," ucapnya.


Kemudian ketiganya memasuki rumah besar itu. Dan Belva membawa Sara untuk memasuki kamarnya. Kamar yang dulu ditempati Sara saat tinggal selama 12 bulan lamanya di rumah Belva.


"Ini kamar kita, Sara," ucap Belva kali ini.


Sara pun menyunggingkan senyuman di wajahnya. Tidak mengira bahwa kamar inilah yang akhirnya ditempati Belva dan dijadikan sebagai kamar utama pria itu.


"Mulai hari ini, kamar ini akan menjadi kamar peraduan kita berdua. Bukan sekadar untuk beristirahat, tetapi juga memadu kasih antara aku dan kamu. Mulai hari ini, aku berharap akan banyak kebahagiaan di rumah ini. Harapan baru akan bersemi dan kita bertiga akan hidup dengan bahagia. Tunggulah beberapa saat, aku akan membangunkan istana baru untukmu," balas Belva kali ini.


Terlihat Sara yang tersenyum dan menatap suaminya itu, "Tinggal di sini tidak masalah bagiku. Kita bisa menciptakan kenangan yang indah bersama di rumahmu ini," balas Sara.


Sekalipun tentu rumah itu juga menyimpan kenangan tentang mendiang Anin, tetapi Sara tidak keberatan. Mereka bertiga bisa menciptakan kenangan indah bersama di rumah itu.


Akan tetapi, Belva tampak menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku akan membangunkan istana baru untukmu. Beberapa bulan lagi kita bisa menempatinya. Istana yang akan dipenuhi dengan kisah dan kasih kita bertiga. Istana yang membingkai kehidupan kita setiap hari. Tunggulah sampai saat itu tiba. Aku berharap akan memiliki banyak anak denganmu nanti di Istana Cinta kita berdua," jawab Belva dengan sungguh-sungguh.


...🍃🍃🍃...


Dear All,


Mampir juga ke karya teman aku yah.


Silakan mampir dan tinggalkan jejak. Berjudul Suamiku Raja Tega karya Rini Sya. 🥰

__ADS_1



__ADS_2