Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Pemotretan


__ADS_3

Kali ini rasanya Anin benar-benar merasakan bahwa Sara adalah wanita yang baik. Sara bukan hanya mau menyewakan rahimnya sekaligus mendonorkan sel ovumnya untuk dibuahi dengan benih Belva. Sara juga wanita yang memberikan aura positif dan terus mendorongnya untuk sembuh. Rasanya benar-benar menemukan kembali semangatnya untuk sembuh.


Oleh karena itu, Anin teringat dengan sesuatu, "Sara, kapan-kapan kita lakukan pemotretan bersama yuk?" ajaknya kali ini.


Mendengar kata pemotretan tentu saja Sara segera menggelengkan kepalanya, "Ah, tidak Kak ... aku malu difoto," jawabnya dengan serius.


Anin sendiri justru tertawa usai mendengar jawaban Sara, "Kenapa? Kamu cantik," ucapnya.


"Aku tidak suka difoto, Kak," jawab Sara dengan jujur.


Jika para wanita menyukai kamera untuk sekadar berfoto dan juga mengabadikan setiap momen, berbeda dengan Sara. Galeri handphone hanya dipenuhi foto beberapa panorama saja. Jarang sekali dia melakukan swafoto (selfie).


Merasa Sara terlihat menolak, Anin lantas terpikirkan sesuatu. "Kali ini tidak boleh menolak. Aku akan meminta Belva untuk ikut. Kita akan foto bertiga untuk kenang-kenangan," ucapnya kini.


Untuk kenang-kenangan? Rasanya Sara harus kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa waktunya memang tidak banyak lagi. Wanita itu pun tersenyum getir, "Baiklah Kak," jawabnya.


***


Akhir Pekan ... 


Anin benar-benar merealisasikan ucapannya untuk mengajak Sara dan Belva berfoto bersama. Bahkan Anin juga menyiapkan sebuah lace dress berwarna biru aqua untuk Sara.


Anin bahkan merias sedikit wajah Sara supaya tidak terlalu pucat, mendandani wanita hamil itu sehingga bisa benar-benar terlihat cantik.


"Perfect! Kamu cantik, Sara. Lihatlah wajahmu di cermin," ucap Anin begitu selesai menyapukan brush di pipi Sara.


Perlahan Sara mengerjap, wanita itu tersenyum menatap penampilannya di cermin.


"Hasil make up kamu keren Kak, melebihi MUA para artis terkenal," ucap Sara dengan terkekeh.


Anin pun tertawa, "Kamu bisa saja. Biasanya para model akan dibekali dengan kursus make up juga, Sara. Jadi saat MUA tidak bisa merias, para model bisa memiliki kemampuan untuk merias wajahnya sendiri. Oleh karena itulah, aku bisa meriasmu," jawabnya.

__ADS_1


"O ... seperti itu ya Kak, keren dong," ucap Sara.


Bagi Sara menang Anin keren, parasnya tidak hanya cantik, tetapi Anin juga bersikap baik kepadanya, dan kali ini Sara juga tahu bahwa Anin memiliki kemampuan untuk merias dengan begitu bagus.


Merasa bahwa tampilan Sara sudah bagus, Anin kemudian berpamitan, "Baiklah ... aku ganti baju dulu ya Sara. Sepuluh menit lagi turunlah ke bawah, kita akan menuju Studio foto," ucapnya.


Sara pun mengangguk, wanita hamil itu memilih menunggu di dalam kamarnya terlebih dahulu. Begitu waktu sepuluh menit telah berlalu, perlahan Sara keluar dari kamarnya, wanita itu dengan hati-hati menuruni anak tangga.


Rupanya di bawah sudah ada Belva yang begitu tampan dan gagah dengan menggunakan Jas berwarna hitam. Sebuah dasi berwarna biru juga melengkapi penampilannya sore itu. Keduanya saling diam, tetapi terlihat jelas bahwa mata Belva tengah mengamati Sara. Akan tetapi, saat kedua mata mereka beradu, yang ada justru Sara menundukkan wajahnya. Tampil dengan make up di wajahnya nyatanya justru membuat Sara merasa tidak percaya diri di hadapan Belva.


Akan tetapi suasana itu tidak berlangsung lama, karena Anin pun juga sudah turun.


"Ayo, kita berangkat sekarang. Sebab, usai ini aku harus bertemu dengan agensiku," ucapnya. Anin kemudian menggandeng tangan Sara. Keduanya berjalan bersama di depan Belva.


Sementara Belva mengikuti Sara dan Anin dari belakang dengan diam.


Begitu di depan mobil, dengan cepat Sara memilih duduk di belakang. Ya, Sara memilih duduk di belakang kursi kemudi. Setidaknya dia sadar diri bahwa kursi depan hanya diperuntukkan bagi Tuan dan Nyonya Agastya.


Tampak Anin yang sudah mengenal sang fotografer mulai meminta memotret mereka. Berharap jepretan kamera itu akan menghasilkan foto yang indah, mengabadikan momen ketiganya dengan Sara yang tengah mengandung anak Belva.


Supaya tidak menimbulkan kecurigaan dari si fotografer, Anin dan Belva yang berfoto terlebih dahulu.


"Pak Belva bisa memeluk Kak Anin lebih erat lagi? Yak, begitu. Oke, satu ... dua ... tiga .... Good!" teriak fotografer itu dengan mengangkat tangannya.


Beberapa gaya diarahkan sang fotografer untuk Anin dan Belva, dari jarak beberapa meter Sara yang menunggu pun terlihat menikmati sessi pemotretan itu. Wanita itu tersenyum melihat Anin dan Belva, karena keduanya terlihat begitu serasi satu sama lain.


Dorongan naluriah membuat tangan Sara bergerak mengusapi perutnya, "Tidak lama lagi, kamu akan hadir untuk melengkapi kebahagiaan mereka, Sayang," ucapnya.


Dadanya rasanya sesak, tetapi Sara harus menahan semuanya.


Hingga akhirnya, Anin mulai berbicara lagi dengan si fotografer.

__ADS_1


"Kak, fotokan kami bertiga ya. Dia adikku," ucapnya kali ini.


Si Fotografer yang diketahui bernama Bram itu pun mengangguk, "Oke Kak, tidak masalah," ucapnya.


Mulailah Bram mengatur gaya ketiganya. Akan tetapi, karena Sara yang tengah hamil, Bram memutuskan bahwa Sara akan duduk saja di tengah-tengah, sementara Anin dan Belva akan berdiri di belakangnya.


"Yaakk, begitu ya. Oke, siap. Satu ... dua ... Oke!" teriak Bram kali ini.


Beberapa gaya pun diambil, tetapi kemudian Sara sedikit mengerjap saat kedua tangan Belva menyentuh bahunya. Sedikit meremasnya.


Dalam hatinya Sara pun berkata-kata, "Jangan seperti ini Pak Belva... foto ini hanya kenang-kenangan. Sama seperti diriku yang akan menjadi kenang-kenangan dalam hidup kalian," gumamnya dalam hati.


Hingga akhirnya Anin memilih pergi terlebih dahulu karena dia harus segera pergi ke agensinya. Meninggalkan Sara dan Belva di sana. Sepeninggal Anin, rupanya Belva kali ini meminta kepada Bram untuk memotretkan keduanya.


"Bro, bisa fotokan kami berdua?" tanyanya terlebih dahulu.


Bram pun mengangguk, "Oke Pak, bisa-bisa," jawabnya.


Kemudian Bram mengarahkan gaya bagi Belva dan Sara. Lagi-lagi Bram membidik dalam jepretan dengan posisi Sara duduk, dan Bram berdiri di belakangnya dengan menyentuh bahunya. Setelahnya, keduanya berdiri bersama dan terlihat Bram yang memeluk Sara dari belakang, sehingga tangan pria itu berada di atas perut Sara yang sudah begitu membuncit.


"Kenapa kalian terlihat serasi yah?" celoteh Bram dengan tiba-tiba.


Merasa sudah banyak foto yang diambil, Bram kemudian menunjukkan hasil jepretannya kepada Belva dan Sara.


"Mau dicetak sekalian? Bisa langsung kalau ukuran kecil atau sedang. Kalau ukuran besar harus menunggu kurang lebih satu minggu," ucap Bram.


Belva pun mengangguk, "Baiklah, cetakan fotoku bersama Sara terlebih dahulu. Cetakkan semuanya. Aku minta ukuran 4×6 juga ya," punya Belva kali ini.


Bram pun mengangguk, "Oke, siap Bos. Ditunggu dulu ya. Foto yang dengan Kak Anin gimana Pak?" tanya Bram kali ini.


"Nanti biar Anin langsung yang memutuskan, dia ingin mencetak ukuran besar," kilah Belva kali ini.

__ADS_1


Sembari menunggu foto-foto yang dicetak, Belva dan Sara pun duduk bersama menunggu dalam diam. Rasanya kembali canggung, sekali pun ada banyak pertanyaan yang ingin keduanya obrolkan kali ini. Akan tetapi, keduanya memilih untuk diam.


__ADS_2