Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Menuju Hari Bahagia


__ADS_3

Rupanya Belva benar-benar membuktikan perkataannya. Meminang Sara bukan sekadar isapan jempol semata, tetapi Belva nyatanya bergerak dengan lebih cepat dan menghubungi Kantor Urusan Agama di Bogor. Tidak hanya itu, Belva juga memesan sebuah vendor yang akan menyempurnakan pernikahannya dengan Sara. 


Jikalau dulu, dia menikahi Sara hanya di ruang tamu kediamannya. Kali ini, dia akan menikahi Sara di Villanya yang berada di Bogor. Biarkan dirinya dan Evan yang datang ke Bogor untuk meminang Sara untuk kali kedua. Pinangan yang sepenuhnya dilandasi dengan cinta karena Belva sudah begitu yakin dengan perasaannya.


Bahkan Belva juga sudah menemui Paman Sara, pria itu meminta izin kepada Pamannya Sara untuk sudi menjadi wali nikah bagi Sara. Sebab, seorang pengantin wanita harus diwakilkan oleh kerabatnya sendiri, berdarahkan keturunan dari sang Ayah. Oleh karena itu, Belva berusaha untuk menemui Paman Sara.


***


Menuju Hari H …


Belva dan Evan sudah memutuskan untuk tinggal di Villa mereka yang berada di Bogor. Kali ini pun, dia tidak memberitahu kepada Sara. Bahkan Belva merencanakan untuk datang ke Coffee Bay siang ini. 


Hingga akhirnya, Belva dan Evan benar-benar mengunjungi Coffee Bay. Akan tetapi, sekarang Belva tidak sendiri melainkan ada Amara dan Jerome yang turut besertanya. Keduanya berdalih ingin membeli Crofflee buatan Coffee Bay yang begitu lezat.


“Mama,” sapa Evan begitu memasuki Coffee Bay.


Anak itu berlari dan langsung memeluk Sara. Terlihat begitu rindu kepada Sara setelah lebih dari sepekan tidak bertemu.


“Evan … kamu datang ke mari? Dengan siapa Van?” tanya Sara dengan bingung. Sara memeluk Evan dengan begitu eratnya karena Sara pun begitu merindukan putranya itu.


“Sama Papa, Tante Amara dan Jerome, Ma,” sahut Evan.


Tidak berselang lama, Belva, Amara, dan Jerome pun memasuki Coffee Bay. Tampak Belva yang sudah menebar senyuman, pria itu terlihat begitu bahagia bisa kembali melihat wajah Sara.


“Pak Belva,” sapa Sara dengan lirih.


Mendengar sapaan Sara, nyatanya Amara justru terkekeh geli. “Yang benar saja, Kak … calon istrimu ini memanggilmu Pak Belva? Kamu sudah begitu tua, Kak,” ucap Amara sembari tertawa.


“Itu panggilan sayang, Mara,” balas Belva.


Hingga pasangan kakak beradik itu tertawa, sementara Sara menatap bingung pada Belva dengan wanita yang pernah mendatangi Coffee Bay miliknya. 

__ADS_1


"Silakan duduk," ucap Sara dengan ramah. 


Lantas Belva, bersama Amara, Evan, dan Jerome pun duduk. Kali ini, Belva memegangi pergelangan tangan Sara dan meminta wanita itu untuk duduk bersamanya.


“Duduklah di sini … kami bukan tamu,” ucap Belva kali ini.


Sara pun menganggukkan kepalanya dan duduk di samping Belva. Rasanya Sara masih canggung dengan Amara kali ini. Sekalipun pernah sekali bertemu, tetapi Sara masih merasa begitu canggung.


“Jadi, ini calon istrinya Kak Belva?” tanya Amara sembari tersenyum menatap Sara.


“Kenalkan Sara … dia adik kandungku, namanya Amara. Dia akan menjadi anggota keluargaku yang datang di pernikahan kita nanti. Itu karena Mamanya tidak bisa datang karena Papaku sedang sakit dan dirawat di Singapura,” ucap Belva.


“Hei … aku Amara. Salam kenal … karena kamu akan menikah dengan Kakakku, maka aku akan memanggilmu Kakak. Hai Kak,” ucap Amara yang memperkenalkan dirinya.


“Panggil saja aku Sara … tidak masalah,” jawabnya.


“Jangan Kak … kamu akan menjadi Kakak Iparku. Jadi, biarkan aku memanggilmu Kakak,” balas Amara yang tetap ingin memanggil Sara dengan sebutan Kakak.


“Kak Sara … Kakak yakin akan menjadi mempelai wanita untuk Kakakku?” tanya Amara kali ini.


Sara tampak menghela nafas dan sedikit melirik ke arah Belva sekarang ini. Secara pribadi, memang semua terasa begitu cepat, tetapi Belva sendiri yang mengatakan ingin segera meminangnya.


“Memangnya kenapa?” tanya Sara kali ini.


Amara pun lantas tertawa, “Tidak apa-apa Kak … hanya saja, aku mau menitipkan Kakakku satu-satunya itu. Temani dan dampingilah dia,” ucap Amara kali ini.


Sekalipun wanita itu tertawa, kenapa sorot matanya terlihat begitu sendu. Amara lantas menggenggam tangan Sara.


“Aku yakin, Kak Belva pun sangat mencintaimu. Kuharap kali ini kamu akan menjadi pendamping hidup bagi Kakakku sepanjang usia kalian berdua,” harapan Amara kali ini.


Mendapatkan doa yang begitu baik, kedua mata Sara pun berkaca-kaca. Apalagi itu adalah doa dan harapan dari seorang adik kepada Kakaknya. Sudah pasti itu adalah sebuah doa yang begitu tulus.

__ADS_1


“Aku akan mendampingi Pak Belva sampai akhir nafasku,” jawab Sara kali ini.


Nyatanya kini mata Amara juga tampak berkaca-kaca. Amara tersentuh dengan jawaban Sara kali ini. Wanita itu lantas menyeka buliran air mata yang menetes begitu saja di pipinya.


“Ah, akhirnya aku bisa bernafas lega … Kakakku akan menikah kembali dan Evan akan memiliki figur seorang Mama. Terima kasih Kak Sara, berkatmu semua ini terkabul,” balas Amara.


Sara pun tersenyum, dia memiliki adik ipar yang juga baik. Mungkin ke depannya, mereka bisa lebih akrab lagi dan memiliki hubungan yang baik sesama ipar.


“Kak Sara … tetapi kenapa kamu memanggilnya Pak? Apakah Kakakku sudah seperti Bapak-Bapak?” protes Amara kali ini.


Mendengar pertanyaan dari Amara, seakan Sara tidak bisa lagi menjawabnya. Dari awal bertemu dengan Belva, memang Sara sudah memanggil pria itu dengan sebutan ‘Pak Belva’. Kalaupun harus diganti rasanya begitu aneh.


Belva yang sejak diam, akhirnya mulai membuka suara.


“Tidak apa-apa, Mara … itu adalah panggilan sayang dari Sara buatku,” sahut Belva kali ini.


“Ubahlah Kak … sebentar lagi kalian akan menikah bukan? Bisa panggil Mas, Abang, Ayang, atau Sayang. Tidak masalah,” balas Amara kali ini.


Sara hanya menganggukkan kepalanya, entah rasanya mengubah panggilan begitu sukar untuknya. Terlebih sudah menjadi kebiasaan baginya untuk memanggil pria itu dengan sebutan “Pak Belva.”


“Aku akan mencobanya, hanya saja aku perlu waktu,” jawab Sara kini.


“Tidak perlu dipaksakan Sara … aku menerima kamu apa adanya. Termasuk aku tidak keberatan dengan kamu memanggilku Pak Belva. Santai saja,” balas Belva kini.


Seolah mengalihkan pembicaraan, Belva lantas mengatakan sesuatu yang lebih penting kali ini.


“Akhir pekan, Amara akan menjemputmu, Sara … bersiaplah. Aku ada kejutan istimewa untukmu,” ucap Belva kali ini.


Amara lantas menganggukkan kepalanya, dan tersenyum menatap Sara. “Ikutlah denganku, Kak … kali ini kamu tidak akan menyesal,” ucap Amara kali ini kepada Sara.


Sara hanya mengangguk, sepenuhnya dia tidak tahu dengan apa yang tengah direncanakan Belva kali ini. Hanya saja Sara masih ingat dengan perkataan Belva kepadanya melalui sambungan telepon bahwa dirinya akan segera meminangnya. Mungkinkah itu yang tengah direncanakan Belva kali ini.

__ADS_1


__ADS_2