
Ketika pagi hampir menjelang, Belva pun seketika terbangun. Demam di badan pria itu sudah turun, tetapi Belva bergegas menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya, dan Belva dengan sedikti berlari menuju ke kamar mandi.
Begitu telah sampai di kamar mandi, Belva kemudian merasakan dorongan dari perut hingga kerongkongannya yang menyeruak, hingga membuatnya memuntahkan semua isi perutnya. Akan tetapi, tidak ada sisa-sisa makanan yang di sana. Yang ada hanyalah cairan berwarna putih kekuningan yang terasa pahit di lidahnya.
Suara Belva dan gemericik air dari wastafel di kamar mandi nyatanya dengan begitu cepatnya membangunkan Sara. Sehingga Sara pun terbangun dan menilik ke kamar mandi. Rupanya di sana, terlihat Belva yang sedang muntah dan memegangi perutnya. Wajah pria itu memerah dan juga matanya berair seakan hendak mengeluarkan air mata.
“Kamu kenapa Mas?” tanya Sara.
Tidak dipungkiri semalam Sara sudah cukup panik dengan Belva yang mendadak demam, dan pagi ini suaminya itu justru tengah muntah. Sebenarnya sakit apa yang dialami Belva hingga suaminya pun mengalami kelemahan tubuh seperti ini.
“Enggak tahu, Sayang … rasanya enggak enak banget,” sahut Belva yang masih mengeluarkan cairan yang begitu pahit rasanya.
Pria itu kemudian sekaligus berkumur dan menyeka mulutnya. Belva menghela nafas panjang, dan kemudian memejamkan matanya sejenak. Sementara Sara tampak mengusapi punggung suaminya itu.
“Mau ke Dokter?” tanya Sara lagi.
Akan tetapi, Belva menggelengkan kepalanya, pria itu kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Sara.
“Rasanya enggak enak banget … ya ampun, mual yang sangat menyeruak,” jawab Belva.
Sara pun bergegas memeluk suaminya itu, kemudian membantu Belva untuk masuk kembali ke dalam kamarnya. Membantu suaminya itu duduk bersandar di headboard. Sementara Sara memilih turun sebentar ke dapur untuk mengambilkan air hangat bagi suaminya itu.
“Minum dulu, Mas,” ucap Sara sembari menyerahkan segelas air putih hangat kepada Belva.
“Makasih,” sahut Belva.
__ADS_1
Dengan cepat Belva pun meminum air putih hangat itu, kemudian pria itu menaruh gelas kaca itu di atas nakas. Kemudian Belva membuka kedua tangannya, sebuah isyarat supaya Sara masuk ke dalam pelukannya.
“Peluk aku, Sayang,” ucap Belva.
Sara pun menganggukkan kepalanya, wanita itu beringsut masuk dalam pelukan Belva. Dengan nafas yang masih terasa berat, Belva mengusapi lengan Sara, pria itu kembali memejamkan matanya dan mengecupi kening Sara.
“Sayang, kamu tidak ingin melakukan tes?” tanya Belva dengan tiba-tiba.
“Hmm, tes apa Mas?” sahut Sara.
Sebab, Sara pun cukup bingung tes apa yang dimaksud oleh suaminya itu. Saat ini suaminya yang sakit, tetapi justru suaminya bertanya apakah dirinya mau melakukan tes. Bagi Sara tentu saja pertanyaan ini terdengar ambigu.
“Rasanya tubuhku sekarang ini, seperti saat kamu mengandung Evan. Aku yang mengalami kehamilan simpatik. Mual dan muntah, morning sickness layaknya wanita hamil. Berkaca dari pengalaman di masa lalu, mungkin saja kamu harus melakukan tes kehamilan Sayang,” ungkap Belva.
“Test dengan testpack?” tanya Sara.
“Iya … aku curiga, kamu sudah isi, Sayang. Cuma, sama seperti dulu … kamunya sehat-sehat saja, aku yang teler,” sahut Belva.
“Ya sudah, besok,” sahut Sara.
Belva pun menganggukkan kepalanya dan memeluk Sara dengan begitu eratnya, “Ini cuma prediksiku saja sih. Apa pun hasilnya aku tidak masalah, jadi jangan merasa tertekan. Aku tidak mempermasalahkan semuanya,” balas Belva kali ini.
Memang benar bahwa perkataannya kali ini hanya berdasarkan prediksinya saja dan mengingat lagi kenangan di masa lalu. Mungkin itu menjadi pengalaman empiris bagi Belva. Akan tetapi, apa pun hasilnya nanti Belva tidak mempermasalahkan sama sekali. Tentu itu Belva ucapkan juga karena tidak ingin membebani Sara.
“Kalau negatif?” tanya Sara kemudian.
__ADS_1
Belva kemudian menunduk guna menatap wajah Sara yang berada di dekat dadanya, “Tidak masalah. Kalau negatif, kita bisa kerja keras lagi. Toh, aku juga suka melakukannya,” balas Belva.
Sara lantas menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Belva itu. “Maunya kamu aja,” sahut Sara dengan ketus.
Kemudian Sara beringsut, dan kini Sara benar-benar menatap wajah Belva, “Mas, tidak ingin periksa dulu? Bukannya aku tidak mempercayai prediksimu. Namun, semalam demam kamu tinggi, terus sekarang kamu mual dan muntah seperti ini. Mungkin saja karena kamu terlalu sibuk bekerja, jadinya sampai tidak fokus dengan kesehatan. Atau mungkin kemarin terlalu banyak makan Sayur Asem dan Sambal Terasi yang pedes itu. Kita panggil saja Dokter Pribadi kamu yang dulu itu yuk,” balas Sara.
Sekalipun Belva memiliki prediksi tersendiri. Akan tetapi, Sara juga mempertimbangkan hal lain. Mungkin saja suaminya itu memang kecapekan atau masuk angin. Mengingat demam tinggi yang dialami Belva semalam, dan pagi ini Belva yang mengalami mual dan muntah.
“Besok kamu cek kehamilan dulu saja Sayang … kalau besok kamu positif, aku enggak periksa ke Dokter. Namun, jika kamu negatif, siangnya kita ke Dokter,” balas Belva.
Sara menghela nafas usai mendengarkan jawaban dari Belva itu. Di situasi kurang sehat pun, Belva masih berusaha untuk bernegosiasi dengannya. Sampai pada akhirnya, Sara pun menganggukkan kepalanya. Sara memilih mengalah dan menerima ucapan Belva tersebut.
“Baiklah, besok aku akan cek dulu, tapi janji kalau ternyata aku negatif, Mas Belva harus buruan periksa ke Dokter. Enggak boleh negosiasi lagi. Ingat Mas, kesehatan itu mahal harganya. Jangan sampai sakit berlarut-larut, aku khawatir,” balas Sara.
“Iya-iya. Besok yah … kita tunggu hasil tes kamu dulu. Sayang, kamu tahu kan kebiasaan aku kalau kamu baru hamil muda?” tanya Belva dengan tiba-tiba.
Sara kemudian menyipitkan kedua matanya dan melirik suaminya itu, “Apa Mas?” tanyanya.
“Aku suka peluk kamu dan menghirupi aroma parfum kamu yang beraroma Jeruk Pomelo yang segar itu. Sekarang kan kita sudah saling menerima satu sama lain, saling mencintai, jadi boleh dong lebih dari itu? Biar aku makin semangat. Aku yang ngidam tidak masalah sih, cuma kasih aku yang enak, nikmat, dan mantap. Boleh kan?” tanya Belva dengan tiba-tiba.
“Isshhs, nakal. Fokus sembuh dulu, jangan macam-macam,” balas Sara.
Senyuman terbit begitu saja di wajah Belva. Pria itu seolah merasa gemas dan kemudian kembali memeluk Sara. Rasanya begitu bahagia saat ini, di atas semuanya Belva memang berharap bahwa kehidupan baru akan segera tumbuh dalam rahim istrinya itu.
“I Love U, Sayang … semoga saja prediksiku benar kali ini. Rasanya kali ini perasaanku bagus banget. Di luar mual dan muntah ini, tetapi hatiku seneng,” balas Belva.
__ADS_1