
Sara mengurungkan niatnya untuk mengendarai mobilnya sendiri menuju ke Jakarta. Sekarang, Sara tengah berada dalam satu mobil dengan Belva. Semua ini terjadi karena Evan yang meminta supaya Mamanya datang ke Jakarta bersama dengan Papanya. Untuk mengabulkan permintaan Evanlah, Sara kembali satu mobil dengan Belva.
Awalnya situasi di dalam mobil itu begitu canggung. Keduanya seolah sama-sama tidak bisa membangun komunikasi yang bagus, keduanya sama-sama diam. Sara beberapa kali melihat pemandangan dari balik kaca jendelanya, sementara Belva memilih fokus untuk menyetir dan memperhatikan jalan. Hingga tiba-tiba saja, turun hujan yang cukup deras, padahal mereka masih berada di Bogor saat itu.
“Kita menepi dulu ya Sara,” ucap Belva sembari mencari rest area untuk menepi sebentar. Setidaknya sedikit berteduh karena hujan yang begitu deras.
“Iya, Pak,” sahut Sara.
Tampak Belva mengecilkan AC di dalam mobil, tujuannya adalah supaya Sara tidak kedinginan. Lagipula, di luar hujan turun dengan begitu derasnya.Berdua dalam mobil seperti ini, Belva seolah teringat bagaimana dulu dirinya selalu mengantar Sara ke Kopi Lab, membawanya untuk jalan-jalan, dan bahkan Belva pernah mencium bibir Sara di dalam mobil seperti itu. Membayangkan kenangan masa lalu mereka, tiba-tiba saja pria itu meneguk salivanya sendiri. Lantas Belva mengusap wajahnya sesaat.
“Kamu kedinginan Sara?” tanya Belva kini.
Dengan cepat Sara menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku baik-baik saja,” balasnya.
“Pria itu siapamu, Sara … apakah mungkin pacarmu?” tanya Belva sekarang langsung. Belva tidak ingin lagi menerka-nerka, lebih baik jika dirinya menanyakannya secara langsung kepada Sara.
Sara merespons dengan menggelengkan kepalanya lagi, “Bukan … dia bukan pacarku. Kami hanya berteman,” balas Sara.
Mendengar jawaban Sara, Belva merasa lega karena rupanya Sara tidak memiliki hubungan dengan pria tersebut. Lebih tepatnya, Sara masih single, dan itu berarti Belva tidak perlu merasa sungkan saat harus bertemu dengan pria tersebut.
__ADS_1
“Kenapa saat kamu pergi, kamu mengganti nomormu Sara?” tanya Belva kini kepada Sara.
“Tidak apa-apa, Pak Belva,” balas Sara.
Belva lantas melepaskan seat belt yang dikenakannya, kemudian pria itu sedikit menyerongkan duduknya demi bisa menatap Sara. Tangan Belva bergerak dan menggenggam tangan Sara yang terasa dingin saat itu.
“Sara … mungkin kamu memiliki luka di hatimu padaku. Aku ingin meminta maaf untuk semuanya. Aku ingin meminta maaf untuk masa lalu kita. Andai, kamu tidak mengganti nomormu, sudah pasti kamu sudah membaca dan menerima pesan-pesanku. Sara, saat ini … aku meminta kepadamu, maukah kamu kembali padaku Sara? Dampingilah aku,” pinta Belva kali ini.
Seakan Belva harus bergerak dengan cepat, mengutarakan niatan di hatinya. Biarkanlah dirinya yang kali ini meminta maaf untuk masa lalu mereka yang entah disengaja atau tidak tetap meninggalkan luka di sana. Sesungguhnya bukan hanya Sara yang terluka, Belva pun terluka. Tidak bisa mengutarakan perasaan sekian tahun lamanya membuat pria itu membebani pikirannya sendiri. Berusaha mencari Sara juga tidak menemukannya, dan sekarang Belva berusaha jujur dan menyampaikan isi hatinya kepada Sara.
Melihat Sara yang hanya menunduk dan menunjukkan raut wajah yang terlihat sendu, Belva memberanikan dirinya untuk meraih dagu Sara. Membawa wajah dan mata wanita yang sedang duduk di sampingnya itu untuk menatapnya.
Mengakhiri ungkapan cintanya kali ini, Belva sekali lagi memberanikan dirinya, biarkan dirinya melanggar sebuah batas, dia akan menerima apa pun keputusan Sara, tetapi suasana yang begitu syahdu disertai guyuran hujan di luar sana. Belva mengikis jarak wajah, melabuhkan bibirnya yang hangat tepat di atas bibir Sara yang dingin. Hanya sebatas menempel.
Sara rasanya begitu membeku, setelah empat tahun berlalu. Kini, pria itu mencium bibirnya lagi. Terpaan nafas Belva yang hangat, bibir yang lembut dan juga hangat itu tepat berada di tengah-tengah dua lipatan bibir miliknya. Kedua mata Sara membola saat bibir pria itu masih berlabuh di atas bibirnya. Kedua bibir bertemu, tetapi Belva hanya sebatas menempelkannya saja. Tidak ingin memberikan pagutan atau lum-atan di sana, karena Belva ingin menyalurkan perasaannya selama ini kepada Sara.
Lima detik … Sepuluh detik … Dua puluh detik
Selama itu waktu berlalu, Belva lantas menarik kembali wajahnya. Pria itu lantas menatap wajah Sara yang tegang dan memerah di sana.
__ADS_1
“Maukah kamu menerima perasaanku?” tanya Belva.
Nyatanya kini Sara justru membuang wajahnya, membawa pandangannya menjauh dari wajah Belva.
Menyadari respons Sara yang kelihatan bingung dan sedang banyak pikiran itu, Belva kemudian mengusapi punggung tangan Sara. Kemudian membawa tangan Sara mendekat ke wajahnya, dan pria itu menjatuhkan sebuah kecupan di punggung tangan Sara, sembari berkata, “Tidak perlu buru-buru menjawabnya … jika kamu tidak percaya, coba kamu pasang kembali nomormu yang dulu, dan kamu akan menemukan jawabannya,” ucap Belva.
“Aku ingin segera tiba di Jakarta, Pak … Evan pasti sudah menunggu,” ucap Sara yang rupanya berusaha mengalihkan pembicaraan keduanya. Akan tetapi, Sara seakan ingin menemukan jawaban benarkah selama ini Belva mengirimkan pesan-pesan ke nomornya dulu? Saat kembali dari Bogor nanti, Sara akan mencoba untuk menghidupkan kembali handphone dengan nomornya yang dulu. Semoga saja, kali ini dirinya akan benar-benar menemukan jawabannya.
Jujur saja, perasaan Sara tidak karuan saat ini. Akan tetapi, Sara memiliki pertimbangannya sendiri. Apakah dirinya senang? Tentu saja, ungkapan cinta dari seorang Belva Agastya akhirnya dia dengar sendiri kali ini. Dan, ciuman Belva barusan, sekalipun hanya sekadar menempelkan bibir, Sara benar-benar merasakan degupan jantungnya yang begitu keras dan tidak beraturan ritmenya.
Belva pun mengutas senyuman di sudut bibirnya, “Baiklah … aku akan mengemudikan mobil ini lagi dan membawamu untuk menemui Evan,” balas Belva.
Hingga akhirnya, mobil Belva kembali lagi ke jalan raya. Menyelusuri setiap ruas jalan dan menerobos derasnya hujan kala itu. Belva mengemudikan mobilnya sedikit lebih cepat karena jujur saja dirinya juga kepikiran Evan, lebih cepat tiba di Jakarta adalah hal yang baik saat ini.
“Sara,” panggil Belva sembari pria itu mengemudikan stir mobilnya.
“Hmm, apa Pak?” tanya Sara.
Perlahan Belva pun menggelengkan kepalanya, dan tersenyum, “Tidak … aku hanya suka memanggil namamu,” balasnya.
__ADS_1
Tentu bagi Sara, ini adalah sebuah sikap yang begitu absurd dari seorang Belva Agastya. Pria yang dingin dan terkesan kaku, kini bisa sekadar memanggil namanya dan juga mengemudikan mobil dengan tersenyum seperti itu. Rasanya Sara mendapati sosok Belva yang banyak berubah dari Belva yang dia temui empat tahun yang lalu.