Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Kebahagiaan Penuh


__ADS_3

Jika ada satu kata yang bisa dirasakan Belva dan Sara sekarang ini adalah bahagia. Keduanya begitu bahagia setelah menjadi pasangan suami istri seutuhnya dan sepenuhnya. Perjalanan cinta yang panjang berlabuh dengan sangat manis dan indah.


Pasangan yang baru saja merengkuh manisnya nektar cinta itu saling berpelukan dengan tubuh yang masih sama-sama polos mutlak. Hanya selimut tebal berwarna putih yang mengcover tubuh polosnya sekarang ini.


Beberapa kali bahkan Belva tampak mengecupi baju Sara yang tidak tercover oleh selimut itu.


"Makasih Sara … akhirnya kita bisa menyatu seutuhnya dan sepenuhnya. Aku tidak menyakitimu kan?" tanya Belva kali ini kepada Sara. Tentu Bela menanyakan demikian, karena dirinya cukup takut jika melukai dan menyakiti Sara. Sangat wajar, karena barusan Belva begitu bersemangat hingga tubuhnya bercucuran peluh yang kian membuat sensasi hangat dan liat saat bergumul dengan Sara.


Wanita itu perlahan menggelengkan kepalanya, "Iya Mas … tidak sakit kok. Hanya saja aku masih belum terbiasa," balas Sara kali ini.


Ya, dirinya belum sepenuhnya rileks. Bahkan ada sisa rasa sedikit sakit yang menjalar di inti tubuhnya hingga ke area pangkal pahanya. Mungkin itu juga lantaran Sara benar-benar tidak merasakan hal tersebut selama empat tahun terakhir. Sehingga Sara kembali butuh waktu untuk merilekskan dirinya. Bahkan pangkal pahanya terasa sedikit sakit sekarang.


"Maaf, kalau kita memiliki waktu bersama seperti ini. Lama-lama nanti kamu juga akan terbiasa," balas Belva.


"Mas, kamu selama 2 tahun ini bagaimana dengan kebutuhan biologismu itu?" tanya Sara kali ini.


Sebuah pertanyaan yang bersifat pribadi, tetapi Sara memilih untuk bertanya kepada Belva. Lagian sekarang keduanya adalah suami dan istri, jadi Sara memberanikan dirinya untuk bertanya perihal kebutuhan biologis pria itu.


"Ya, benar-benar puasa, Sara. Hanya terkadang jika bermimpi saja. Aku tidak pernah aneh-aneh. Diriku bersih seutuhnya. Bermain sendiri. aku juga tidak pernah," tegas Belva kali ini kepada Sara.


Mendengar jawaban Belva tentu saja Sara merasa begitu lega. Hanya saja benarkah suaminya itu bisa menahan hasrat yang muncul? Benarkah tidak tergoda dengan para wanita di luar sana. Waktu 2 tahun adalah waktu yang sangat lama, bisakah Belva menahan dirinya selama itu?


"Bagaimana bisa tahan? Biasanya pria akan pusing jika terlalu lama berpuasa, mereka tak jarang melakukan fantasi liar," respons Sara kali ini.


“Aku tidak pernah melakukan itu Sara … hidupku begitu lurus, itu semua aku lakukan karena aku ingin menjadi Papa yang baik buat Evan. Lagipula, cukup hanya sebatas mimpi saja, tidak masalah bagiku,” balas Belva kali ini.


Belva kemudian menatap Sara, "Aku seorang Papa, Sara ... seorang anak akan melihat dan bercermin dari Papanya, terlebih selama 2 tahun aku seperti orang tua tunggal buat Evan. Waktuku sibuk untuk bekerja dan Evan. Sehingga aku tidak pernah macam-macam. Jika mimpi kan keluar dengan sendirinya dan itu alamiah, itu bukan dosa. Anak bisa meniru apa saja yang dilakukan orang tua bahkan untuk tindakan yang tidak terlihat di matanya anak bisa menirunya. Aku menjaga hidupku, semata-mata buat Evan," jawab Belva lagi kali ini.


Sara tampak mengernyitkan keningnya, seakan tak percaya dengan ucapan Belva. Setahunya bahwa pria akan merasa sakit kepala hingga begitu pening karena hasratnya tak tersalurkan.


“Akan tetapi, sekarang … aku tidak khawatir lagi, Sayang … karena aku memilikimu. Ladang pahala yang halal bagiku,” ucap Belva kali ini.

__ADS_1


Sara masih diam dan mendengarkan semua ucapan Belva kali ini. Mencerna setiap kata yang diucapkan oleh suaminya itu.


“Mas, boleh tanya sesuatu?” tanya Sara kali ini.


“Boleh, mau bertanya apa?” tanya Belva.


“Mas menikahiku bukan hanya sebatas melampiaskan hasrat yang selama ini tertahan kan?” tanya Sara.


Begitu susah baginya untuk bertanya hal demikian, tetapi daripada ditahan di dalam hati justru membuatnya tidak tenang. Sehingga Sara lebih baik bertanya sekarang juga kepada Belva. Lagipula, apa pun jawaban Belva tidak akan mengubah status keduanya sebagai suami dan istri.


Belva bergerak dan membawa Sara untuk berbalik dan menatap wajahnya. “Lihat aku, Sara … apa aku terlihat seperti pria seperti itu?” tanya Belva kali ini.


Kedua netra saling bersitatap, dan Sara benar-benar memperhatikan raut wajah Belva sekarang ini. Mencoba mencari jawaban dari raut wajah pria berparas tampan di hadapannya itu.


“Perasaanku jauh lebih besar dari penyatuan ini, Sayang … jangan meragukan perasaanku. Aku akan buktikan bahwa aku serius dan sungguh-sungguh. Hanya saja, hubungan suami istri justru bisa mengeratkan hubungan kita berdua, menambahkan keharmonisan dalam rumah tangga.” Belva berbicara dengan serius sembari menangkup kedua wajah Sara.


Wanita itu akhirnya menganggukkan, “Iya … aku hanya sebatas bertanya,” balas Sara kini.


“Masih ragu padaku?” tanya Belva.


Sara menggelengkan kepalanya secara samar, “Tidak,” jawabnya.


“Kamu mau perlu bukti apa bahwa perkataanku ini serius dan bersungguh-sungguh?” Lagi Belva bertanya kepada istrinya itu.


“Tidak,” jawab Sara lagi dengan begitu singkat.


Belva menundukkan wajahnya, dan mendaratkan kecupan di kening Sara. Menyalurkan perasaannya yang benar-benar tulus untuk Sara.


“Jadi, bolehkah aku menyentuhmu?” tanya Belva kali ini.


Sara menganggukkan kepalanya secara samar dan kian memeluk tubuh polos Belva dengan begitu erat.

__ADS_1


“Iya,” sahut Sara dengan singkat.


Perlahan senyuman terbit di sudut bibir Belva, pria itu merasa lega karena sudah mendapatkan izin dari istrinya itu.


“Sekalipun kamu halal bagiku, aku pun akan menyentuhmu sesuai keinginanmu. Aku berjanji tidak akan memaksamu. Hanya saja … tiga hari ini, full buat aku yah?” Belva berbicara lirih kepada istrinya itu.


Sara menarik wajahnya dan menatap wajah suaminya dengan bola mata yang menyipit.


“Tiga hari full kayak gini?” tanya Sara tanpa berkedip.


Belva terkekeh geli, dan kembali merengkuh tubuh istrinya itu. “Iya … tiga hari saja,” balas Belva.


Ah, agaknya pria itu tengah mengajak istrinya untuk bernegosiasi. Hanya sekadar meminta waktu tiga hari untuk menuju puncak asmara berbalut kenikmatan tentunya bersama Sara.


“Kalau aku capek?” tanya Sara.


“Aku pijitin,” balas Belva dengan cepat.


“Kalau perih gimana?” tanya Sara lagi.


“Banyak latihan dijamin enggak akan perih, justru semakin enak,” balas Belva dengan frontal.


Usai berkata itu, rupanya Belva segera membalik posisinya dan kini kembali menindih Sara. Bisa Sara rasakan sesuatu di sana sudah begitu berdenyut dan mengeras tentunya. Sara menghela nafas sepenuh dada dan menggigit bibir bagian dalamnya. Terlebih sekarang Belva menggenggam kedua tangan Sara di sisi kanan dan kiri.


“Lanjut lagi ya Sayang … abis ini aku pijitin,” ucap Belva kali ini dengan suara yang parau dan dalam.


Belum sempat Sara menjawab, rupanya Belva telah kembali menyambar bibir Sara. Memberikan cumbuan di bibir itu, memagutnya dengan nafas yang memburu, dan menghisapi lipatan bawah bibir Sara dengan begitu bersemangat. Hanya butuh waktu sekian menit saja, rupanya kabut gairah untuk menyelimuti pria itu.


Dengan dada yang bergemuruh, Belva lantas menatap Sara.


“Boleh lanjut kan?” tanyanya sembari menunggu jawaban apa yang akan diberikan Sara kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2