
“Tante … Tante, sini temani Evan,” ucap Evan sembari melambaikan tangannya kepada Sara yang termangu di sudut Coffee Bay.
Merasa dirinya dipanggil, Sara pun mengerjap. Wanita itu perlahan mengangguk dan kemudian duduk di hadapan Evan.
“Iya, ada yang bisa Tante bantu?” tanya Sara.
Berhadapan dengan anak kecil berusia kurang lebih empat tahun, jantung Sara berdebar dengan begitu kencangnya. Seolah baru kali pertama, jantungnya berdebar begitu cepat dan ritmenya tak beraturan.
Sara mencoba mengamati anak kecil berkulit putih dengan matanya yang besar dan bulu mata yang begitu lentik. Anak kecil itu memiliki satu lesung pipit di pipinya, bibirnya mungil, dan hidungnya mancung. Benar-benar tampan di mata Sara.
“Tante, jangan duduk di depan situ … duduk di sampingku saja,” pintanya lagi.
Perlahan Sara menganggukkan kepalanya, dan beranjak dari tempat duduknya, kemudian mengambil tempat duduk di samping anak kecil yang dititipkan selama lima menit itu.
“Tante yang memasak Crofflee dan minuman cokelat ini?” tanyanya.
“Iya Nak, Tante yang bikin. Kenapa, apa rasanya tidak enak?” tanya Sara.
Rupanya anak kecil itu dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak Tante … ini seperti Crofflee buatan Mamaku. Rasanya enak,” sahutnya.
Sara pun menganggukkan kepalanya, merespons ucapan anak kecil yang semula dia dengar bernama ‘Evan’ itu. Sara pun tersenyum tidak mengira anak sekecil itu bisa menanyakan banyak hal kepadanya.
“Oh, yah … kamu suka Croffle?” tanya Sara perlahan. Bahkan tanpa Sara sadari, dirinya tiba-tiba begitu tertarik dengan anak laki-laki itu.
“Iya, suka sekali,” balas anak kecil itu dengan begitu cepatnya.
__ADS_1
Nyatanya waktu yang dijanjikan Amara hanya sekitar lima menit, nyatanya jauh lebih lama. Hingga Sara dan anak kecil itu tengah mengobrolkan berbagai macam hal. Bahkan Sara terlihat kian ingin menangis saat melihat anak laki-laki itu tersenyum kepadanya.
Namamu Evan … apakah Evander Agastya? Kenapa jantungku seakan berdetak melebihi ambang batasnya dan rasanya ini benar-benar aneh. Aku suka melihatmu, tetapi di saat bersamaan aku justru ingin menangis. Siapa kamu sebenarnya? Mungkinkah kamu adalah Evannya Bunda?
Sembari mengamati Evan dari dekat, Sara berkata dalam hatinya sendiri. Tentu ini adalah sebuah hal yang sangat aneh. Sangat jarang ada anak kecil yang mengunjungi Coffee Bay. Jika pun berinteraksi pastilah hanya sebatas menyapa atau memberikan tos, tetapi anak kecil itu justru terlihat nyaman bersamanya.
Hampir lima belas menit berlalu, sebuah mobil Mercedes Benz berwarna hitam tampak berhenti di depan Coffee Bay. Pria yang turun dari mobil itu hanya mengenakan pakaian casual dengan kaos Polo Shirt warna hitam, dan celana denim. Dengan tenang pria itu memasuki Coffee Bay.
“Permisi, saya datang untuk menjemput anak saya … tadi dia dititipkan di sini,” ucap pria itu.
Nina yang berada di tempat kasir pun menunjuk ke sebuah kursi yang ada di ujung Coffee Bay.
“Itu Pak, bisa langsung ke sana,” jawab Nina.
Pria itu menganggukkan kepalanya, kemudian berjalan menuju tempat duduk yang ada di sudut lorong. Beberapa meter menuju tempat duduk itu, pria itu pun bersuara.
Hingga akhirnya, pria itu berjalan beberapa langkah dan berhenti di hadapan Evan.
“Evan, Papa datang …,” ucapnya kali ini.
Mendengar suara yang tidak asing di indera pendengarannya, Sara pun tertegun. Jelas, dia mengenali suara itu. Lantas Sara menundukkan wajahnya, dan melirik sekilas ke arah Evan yang masih duduk di sampingnya. Dada Sara rasanya begitu sesak, mengapa Tuhan nyatanya justru memiliki skenario seperti ini.
Deg!
Sementara pria yang datang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Belva. Sama seperti Sara, Belva pun tertegun saat mendapati putranya duduk dengan seorang wanita. Bahkan interaksi keduanya terlihat begitu akrab. Lantas, Belva menjatuhkan pandangannya ke sosok wanita yang duduk di samping Evan.
__ADS_1
Sontak Belva pun turut tertegun. Dunia seakan berhenti berotasi petang itu. Wanita yang selama kini dia cari, tetapi tidak pernah dia temukan nyatanya justru duduk di samping Evan, putranya.
“Sa … Sara,” sapa Belva dengan lidah yang seakan kelu. Bahkan ucapannya seakan tergagap, sungguh Belva tidak menyangka mendapati Sara di tempat ini.
Evan pun tampak mengamati Papanya dan wanita muda yang sejak tadi menemaninya dan dia panggil Tante itu.
“Papa kenal Tante?” tanya Evan.
Ah, rupanya semua debaran yang Sara rasakan kali ini. Semua perasaan bahagia sekaligus kesedihan yang dia rasakan kali ini karena Evan yang duduk di sampingnya ternyata adalah putranya, Evander Agastya.
Belva yang sedari tadi berdiri, perlahan mengambil tempat duduk tepat di hadapan Sara. Wajah Belva tampak memerah di sana, bahkan pria itu terlihat salah tingkah. Akan tetapi, di hadapan Evan, sebisa mungkin Belva bersikap tenang. Belva pun merasakan jantungnya yang berdegup dengan begitu kencangnya saat matanya bersitatap dengan Sara.
“Papa, Tante ini bisa membuat cokelat susu yang enak dan Crofflee yang lezat. Crofflee buatan Tante Sara seperti buatan Mama,” ucap Evan dengan tiba-tiba.
Sara hanya diam, tetapi wanita itu menggigit bibir bagian dalamnya. Pertemuan tiba-tiba yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Bogor ini begitu besar, tetapi kenapa pria yang sempat membuatnya jatuh dalam perasaan semu itu sekarang duduk di hadapannya. Dan, putranya yang dia lahirkan dan selalu dia kirimi ASIP secara rutin kini justru memanggilnya Bunda.
Sungguh, perasaan Sara tiada terkira saat ini. Seolah ingin menyingkir dari Belva, Sara hendak berdiri dan meninggalkan Evan.
“Evan, Tante duluan yah … masih banyak pekerjaan di sana,” ucap Sara tanpa melihat Belva. Ya, Sara sebisa mungkin tidak berkontak mata dengan Belva. Padahal dia tahu bahwa sejak tadi Belva selalu menatapnya.
“No, Tante di sini dulu saja … Evan kan suka sama Tante,” ucap Evan.
Rasanya buliran air mata itu menetes begitu saja. Evan, putranya yang dia lahirkan mengakui suka kepadanya, tetapi anaknya justru memanggilnya dengan sebutan Tante. Bahkan kini, tangan Evan bergerak dan menahan tangan Sara. Ya, tangan Evan menahan pergelangan tangan Sara.
“Please, Tante … stay here,” pinta Evan.
__ADS_1
Perlahan Sara pun kembali duduk di samping Evan. Bahkan Evan masih menggenggam tangan Sara dan seakan ketakutan jika Sara pergi darinya. Mungkinkah ikatan hati seorang anak kepada Ibunya sebesar itu? Apakah Evan akan kecewa jika pada akhirnya anak kecil itu tahu bahwa Sara adalah Ibu Kandungnya, sementara selama ini agaknya Evan mengenal Mamanya adalah Anin, bukan Sara.
Dada Sara rasanya kembali sesak. Masalah yang dia tinggalkan empat tahun lalu, kini kembali muncul di hidupnya dan terasa kian pelik rasanya. Sara hanya duduk dan membiarkan Evan tetap menggenggam tangannya. Bahkan Evan beberapa kali tampak menempelkan kepalanya di bahu Sara. Semua itu terjadi begitu alamiah, ya semua terjadi begitu saja.