
Seminyak, Bali ....
Menjelang sore rupanya Evan yang saat itu baru saja bangun tidur menghampiri Mama dan Papanya di kamarnya. Anak berusia 4 tahun itu tampak memasuki kamar sembari mengucek matanya di sana.
"Mama, Papa," ucapnya yang kemudian mengambil tempat duduk di samping Sara.
"Ya Nak, sudah bangun?" tanya Sara kepada putranya itu.
"Sudah Ma ... tadi Evan merasa capek," balas Evan.
Sara pun tersenyum dan mengusapi puncak kepala Evan itu, "Kalau capek istirahat, Van ... tidak apa-apa kok. Nanti biar Mama yang bangunin kamu," balas Sara.
"Sudah kok Ma, sudah enggak capek kan sudah tidur," balas Evan.
Kemudian Evan beralih sedikit menyandar ke lengan kokoh milik Papanya itu, "Pa, jalan-jalan ke pantai yuk Pa," ajak Evan kali ini kepada Papanya.
Mungkin karena siang tadi sudah dijanjikan bahwa Belva akan mengajak Evan jalan-jalan sehingga kali ini Evan pun menagih kepada Papanya untuk jalan-jalan ke pantai.
"Boleh, yuk ... Mama ikut tidak?" tanya Belva kepada istrinya itu.
Dengan cepat Sara pun menganggukkan kepalanya, "Boleh, jalan-jalan sore sambil lihat senja," balas Sara.
Hingga akhirnya ketiganya bergandengan tangan dan menuju ke pantai yang ada di dekat villa. Layaknya pantai pribadi yang bisa dinikmati oleh Belva dan Sara dengan sesuka hati di sana.
Evan juga kali ini membawa beberapa mainan, dan terlihat hendak membuat sebuah kastil dari pasir. Ada Evan yang mengisi wadah dengan pasir, menekannya, kemudian mencetaknya perlahan. Belva dan Sara juga melakukan hal yang sama, hingga berdirilah kastil dari pasir yang dibuat oleh mereka bertiga.
"Ini kastil ya Ma ... istana," teriak Evan saat itu.
"Benar Van, kastil pasir," balas Sara.
__ADS_1
"Kalau di zaman dulu, di kastil ini Papa akan jadi Rajanya, Mama akan jadi Ratunya, dan Evan akan jadi pangerannya," cerita Evan yang mengucapkan khayalannya itu.
Lagi-lagi Sara tertawa mendengar khayalan Evan itu. Gemas rasanya dengan pola pikir dan logika Evan yang berjalan dengan begitu baik.
"Mama, terus Putrinya mana? Ada Pangeran kan ada putrinya?" tanya Evan kali ini.
"Memangnya kamu ingin Putri yang seperti apa Van?" tanya Belva kali ini kepada putranya itu.
"Putri yang cantik dong, Pa ... secantik Mama," balas Evan dengan begitu lugu.
Di mata Evan, wanita yang cantik adalah Mamanya. Sehingga putri khayalannya adalah wanita yang cantik seperti Mamanya. Mungkin seperti itulah khayalan para anak laki-laki yang mengingatkan sosok istri yang mirip dengan sosok ibunya. Sama seperti Evan yang memberi jawaban yang begitu polosnya.
Belva pun tertawa di sana, kemudian pria itu berbisik lirih di telinga Sara, "Bahkan Evan yang sekecil itu saja tahu wanita yang cantik seperti apa. Mama Sara yang paling cantik," ucap Belva.
Dengan cepat Sara memincingkan matanya, "Kalian Papa dan anak sama saja," balasnya.
Usai membuat kastil dari pasir, kemudian mereka bertiga berjalan-jalan menikmati pasir yang hangat di telapak kaki mereka, menikmati sinar matahari di tempat yang tropis, dan juga menanti senja yang akan segera tiba.
"Evan senang Pa ... makasih Papa dan Mama sudah mengajak Evan liburan," ucapnya.
"Sama-sama, Nak," balas Sara dan Belva bersamaan.
Kemudian usai berjalan-jalan di bibir pantai, Evan kembali bermain membuat berbagai mainan dalam khayalannya dengan pasir pantai. Sementara Belva dan Sara tampak duduk tidak jauh dari tempat Evan bermain.
"Senang tidak?" tanya Belva kemudian kepada istrinya itu.
"Senang ... aku dan Evan seneng banget, dan bayi kita tentunya," balas Sara.
"Syukurlah ... aku selalu merasa puas bisa memberikan kebahagiaan untuk keluargaku," balas Belva.
__ADS_1
Memang Belva selalu saja merasa puas bisa memberikan kebahagiaan untuk istri dan anaknya. Jika bisa, Belva ingin bisa terus-menerus memberikan kebahagiaan untuk Sara, Evan, dan bayinya nanti. Saat melihat Sara dan putranya bahagia, Belva pun turut merasa bahagia.
Mengamati Evan yang bermain pasir, menikmati terpaan angin di bibir pantai itu, dan kemudian menatap rona jingga di angkasa yang perlahan membawa surya untuk kembali ke peraduannya. Sara menikmati senja di Pulau Dewata itu dengan saling memeluk dan menunggui Evan yang masih bermain-main.
Menatap senja dengan hati yang berlimpah dengan syukur. Menatap senja dengan orang-orang yang dekat di hati. Sungguh, ini adalah senja yang indah bagi Sara, Belva, dan juga Evan.
“Kali pertama aku melihat senja di Bali,” gumam Sara dengan lirih.
Belva menolehkan kepalanya, dan menatap Sara dengan sorot matanya yang begitu hangat, “Benarkah?” tanya Belva.
“Iya … kamu serba pertama di hidupku, Mas … dan semua kenangan bersamamu juga serba pertama di hidupku,” aku Sara kali ini.
“Serba pertama untuk?” tanya Belva yang masih ingin mendengar penjelasan dari Sara.
“Kamu cinta pertamaku, dan semuanya,” balas Sara dengan tertunduk malu. Begitu malu mengakui bahwa pria itu adalah cinta pertamanya. Pria yang kali pertama menciumnya, pria yang kali pertama melihat dirinya dalam kepolosan mutlak, dan sebagainya.
“Really?” tanya Belva lagi.
“Iya, kamu serba yang pertama buatku,” aku Sara saat itu.
Belva lantas menelisipkan jari-jemarinya dan mengisi ruas jari yang kosong di tangan Sara. Menggenggamnya erat, sedikit memberi remasan di tangan yang kini dia pegang.
“Makasih Sayang … jika aku yang serba pertama bagimu. Maka kamu mau menjadi yang terakhir bagiku? Maaf, di masa lalu aku sudah pernah melakukan semuanya untuk kali pertama dengan Almarhumah. Namun, aku janji kamu akan menjadi pendamping hidupku untuk waktu yang sangat lama. Temani aku, dan kita besarkan putra-putra kita bersama-sama. Atau nanti langsung tambah satu baby girls tidak apa-apa,” sahut Belva dengan begitu frontal.
Refleks, Sara memincingkan matanya dan sebal dengan suaminya itu. “Ya ampun, Mas … kandungan aku saja baru lima bulan, udah kepikiran nambah baby lagi. Enggak sanggup, Mas. Biar si Baby lepas ASI dulu, jangan terburu-buru, aku juga butuh merawat badanku,” balas Sara.
Belva pun turut tertawa, “Iya-iya, aku cuma bercanda kok Sayang … intinya jangan pernah bosen sama aku. Kamu memang bukan yang pertama, tetapi kamu yang memiliki kesempatan untuk menghabiskan sisa hidup bersamaku. Kamu yang melihatku sampai aku tua nanti, sampai memutih rambut. Jadi, tetaplah di sisiku dan isi hidupku dengan cinta dan kasih sayangmu,” ucap Belva dengan serius.
Ya, dengan payung rona senja di angkasa, Belva mengatakan isi hatinya kepada Sara. Harapan di masa yang akan datang semoga menjadi nyata. Harapannya untuk menjalani hidup yang lama sampai di batas usia kiranya akan menjadi nyata. Bersama dengan Sara, mengasuh dan membesarkan anak-anaknya adalah keinginan terbesar dari seorang Belva Agastya.
__ADS_1