Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Welcome to The World Baby Boy Junior!


__ADS_3

"Mas, aku seneng banget deh ... kali ini aku mendapatkan kasih sayang yang begitu banyak dari keluarga kamu. Aku yang yatim piatu ini, kini mendapatkan keluarga baru," ucap Sara sembari menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.


Malam hari yang sudah sunyi itu para masing-masing keluarga sudah masuk ke dalam kamarnya. Evan yang sudah tertidur, dan Sara dan Belva memanfaatkan waktu untuk mengobrola bersama.


Belva pun memeluk Sara, memberikan usapan di puncak kepala istrinya itu. "Jadi, kamu seneng?" tanya Belva.


"Iya ... suka banget. Kamu yang minta mereka untuk datang atau bagaimana Mas?" tanya Sara kali ini.


"Mereka datang atas inisiatif mereka sendiri kok Sayang ... hanya saja Mama Diana pernah telepon menanyakan kapan kamu akan melahirkan, ya aku jawab apa adanya saja. Tidak mengira juga kalau Mama dan Papa sampai terbang dari Singapura ke sini," balas Belva.


Mendengar cerita dari suaminya itu, Sara pun perlahan menganggukkan kepalanya naik dan turun secara samar, dan kemudian menengadahkan wajahnya guna melihat wajah suaminya.


"Aku jadi lega ... jujur saja, aku agak bingung tentang Evan. Waktu aku operasi, Evan gimana ... di rumah sama siapa. Sekarang, udah lega ... karena seluruh keluarga justru berkumpul di sini. Bala bantuan datang," ucap Sara.


Para Ibu saat harus melahirkan anak kedua mereka, tidak bisa serta-merta meninggalkan si Sulung. Pasti akan kepikiran, dan berusaha mencari jalan agak ada yang mengasuh si Sulung saat Ibu akan melahirkan adiknya.


"Iya Sayang ... jadi, besok kita ke Rumah Sakit yah?" ajak Belva kali ini.


"Hmm, iya ... tapi temani yah Mamas," pinta Sara kali ini.


"Pasti Sayangku ... aku akan selalu menemani kamu. Aku sudah bilang juga kok sama Dokter Indri untuk meminta Caesar yang ERACS (Enhanced Recovery After Cesarean Surgery) yang memiliki keunggulan minim rasa sakit dan proses penyembuhannya lebih cepat. Kamu nanti memakai yang ERACS aja," ucap Belva.


"Aku ngikut saja sih Mas. Doakan aku ya Mas, tidak dipungkiri ... aku pun takut," aku Sara bahwa dalam hatinya Sara juga merasakan takut menjelang operasi Caesar yang harinya sudah ditentukan olehnya dan suami itu.

__ADS_1


***


Di Ruang Operasi ....


Sejak semalam Sara sudah berpuasa sebelum dilakukan operasi Caesar pada hari ini. Seperti yang dianjurkan oleh suaminya, kali ini Belva sudah meminta Dokter Indri untuk memilih metode ERACS sehingga Sara pun tidak merasakan sakit berlebihan, selain itu Sara bisa lebih cepat pulih.


"Mas, aku takut ...."


Sara berbicara dengan mata yang tampak berkaca-kaca kepada suaminya itu.


Sara sudah berbaring di atas brankar dan mengenakan baju pasien itu. Pun sama dengan Belva yang mengenakan baju seragama Operation Kamer (seragam untuk operasi, biasanya berwarna hijau). Sebenarnya Belva juga takut, ini adalah kali pertama dirinya mendampingi Sara melakukan operasi Caesar. Dalam hatinya, sang CEO itu sebenarnya juga bergejolak, perutnya juga terasa mual. Akan tetapi, dia harus mengalahkan semua rasa itu dan menjadi suami siaga yang bisa mendampingi istrinya.


Perlahan Belva menggenggam tangan Sara dan mencium kening istrinya itu. "Ada aku, Sayang ... aku temani kamu selalu," ucapnya sembari melantunkan doa-doa dalam hatinya untuk kelancaran proses operasi yang akan segera berlangsung.


Setelahnya, Dokter Indri bersama tim medis dan beberapa perawat pun masuk. Mulailah sebuah kain berwarna hijau direntang menutupi bagian perut Sara. Kemudian mulailah perawat memasang Kateter ke dalam kandung kemih guna mengambil urine. Jarum infus atau intravena juga dimasukkan ke dalam pembuluh darah di tangan untuk memasukkan cairan infus dan obat-obat yang akan dimasukkan melalui infus.


"Kita mulai prosedur Caesarnya ya Pak Belva," ucap Dokter Indri yang mengatakan kepada Belva bahwa operasi akan berlangsung.


Pria itu kemudian mengangguk dan kian menggenggam erat tangan Sara yang terasa dingin. Beberapa kali juga, Belva mengucapkan kata-kata cinta dengan lirih di telinga istrinya.


"Sabar ya Sayangku ... aku temani. Baby boy kita akan lahir tidak lama lagi," ucapnya menenangkan Sara yang sudah berlinangan air mata.


Sementara di bawah sana, Dokter Indri dan tim medis mulai membersihkan area perut Sara dan membuat sayatan vertikal mulai dari bawah pusar sampai tulang ke-maluan. Kemudian Dokter Indri membuka rongga perut Sara dengan membuat sayatan satu per satu pada setiap lapisan perut.

__ADS_1


Setelah rongga perut Sara terbuka, mulailah dibuat sayatan horizontal di bagian bawah rahim. Hingga perlahan rahim itu telah terbuka. Perlahan bagaimana bayi itu masih terbungkus dengan air ketuban dan plasentanya terlihat. Kemudian, perlahan Dokter Indri mengambil bagian tersebut dari bagian perut Sara dan memecahkan air ketubannya di luar, setelahnya mulai terdengarlah suara tangisan bayi yang begitu kencang.


Sedikit mengangkat bayi itu dan memperlihatkannya kepada Belva dan Sara.


"Seperti hasil pemeriksaan USG ya Bu Sara dan Pak Belva ... debaynya cowok," ucap Dokter Indri dengan mengangkat bayi laki-laki di mana badannya masih dipenuhi cairan ketuban, lendir, dan beberapa darah di bagian mulut dan hidung.


Belva tak kuasa menahan air matanya. Belva benar-benar tak kuasa menahan rasa haru dan bahagia yang hadir secara bersamaan. Detik pertama dia memandang buah hatinya, Belva merasa bahagia bercampur haru.


Sementara Sara turut menangis sesegukan. Rasanya dia begitu bersyukur kepada Allah yang menganugerahkan bayi lakik-laki lagi baginya dan juga Belva.


"Baby kita Sayang ... cowok lagi," ucap Belva dengan menangis dan menciumi kening Sara.


"Iya ... baby kita. Baby kita, Mas," jawab Sara dengan berurai air mata.


Saat pasangan orang tua itu menangis haru, Dokter Indri mulai membersihkan mulut dan hidung bayi terlebih dahulu, kemudian barulah tali pusatnya dipotong. Dilanjutkan dengan Dokter Indri mengambil plasenta dari dalam rahim Sara.


Setelah bayi itu dibersihkan dari lendir yang menempel di badannya dan darah di bagian hidung dan mulutnya, Dokter Indri menaruh bayi itu di dada Sara untuk melakukan Imisiasi Menyusui Dini (IMD).


"Babynya Bu Sara ... cowok kayak Papanya." ucap Dokter Indri dengan tersenyum.


Sara menangis dengan air matanya yang terus terurai, tak usai menahan haru dan bahagia saat buah hatinya tengah berada di atas dadanya dengan suara tangisannya yang begitu kencang.


Belva menautkan jari telunjuknya dalam genggaman jari-jemari buah hatinya itu.

__ADS_1


"Welcome to the World, Buah hatiku ..." ucap pria itu dengan menitikkan air matanya.


Rupanya baby laki-laki itu bisa menemukan sumber kehidupan pertamanya, dia belajar menghisap dan mendapatkan Colostrum yang sangat baik untuk sistem imun dan perkembangannya.


__ADS_2