
“Mau jalan-jalan ke mana lagi?” tanya Belva keesokan harinya kepada Sara.
Kemarin mereka menghabiskan waktu untuk melihat Big Ben dan Tower of London. Kali ini, Belva menawarkan perjalanan seru lainnya yang ingin dikunjungi oleh Sara. Mumpung berada di London, Belva berharap bisa mengajak Sara mengeksplor tempat-tempat seru yang ada di negeri Sepakbola itu.
“Ke Buckingham Palace yuk Mas. Lihat pergantian prajurit itu loh. Para wisatawan kan bisa melihat pergantian penjaga kan?"
Menurut Sara rasanya tidak lengkap jika liburan ke Inggris, tetapi belum menyaksikan pergantian penjaga di Buckingham Palace. Salah satu upacara terbaik di kota London yang selalu ditunggu oleh para wisatawan adalah Pergantian Penjaga atau The Changing of the Guard.
"Ya sudah, kita lihat The Changing of the Guard ke Buckingham Palace yah," balas Belva.
Betapa senangnya Sara karena suaminya itu menuruti apa yang dia mau. Rasanya dia nanti bisa bercerita kepada Evan mengenai pengalaman serunya di London dan menceritakan Changing of the Guard dan London Bridge yang sudah dia lihat dengan matanya sendiri.
Dengan menaiki transportasi umum, keduanya menuju ke Buckingham Palace. Untungnya saat tiba di sana, para penjaga istana sudah berbaris rapi dan siap melakukan The Changing of the Guard. Di momen seru ini, Sara merekam dengan video handphonenya dan nanti bisa dia ceritakan kepada Evan jika para penjaga istana sedang bertugas dan mengganti penjagaan di sekitar istana.
"Sudah yah, udah kesampean juga kan," ucap Belva.
"Makasih Mamas ... hanya sebatas lihat pergantian penjaga kerajaan saja aku udah seneng banget," balasnya.
"Lalu, abis ini mau ke mana?" tanya Belva kepada Sara.
"Terserah kamu saja, Mas ... kamu yang pilih," balasnya.
"Ke Greenwich Park saja yuk Sayang, nyantai sore di sana," ajaknya kepada Sara.
"Boleh, aku kan ngikutin tour guide aku aja," balas Sara.
"Enggak gratis loh yah ... makanya hari ini tidak perlu capek-capek, biar malamnya kamu enggak kecapekan," balas Belva.
Sara hanya mengulum senyuman di bibirnya. Sudah tahu kemana arah pembicaraan Belva sekarang ini. Dari Buckingham Palace, keduanya kembali menaiki transportasi umum dan tempat yang dia tuju sekarang adalah Greenwich Park.
"Kalau di luar negeri, kemana-mana jalan kaki, Sayang ... makanya aku bilang ke kamu, bawa sneakers saja, gak usah pakai heels. Soalnya kan kita enggak punya kendaraan pribadi di sini. Jadi ya, harus naik bus atau kereta bawah tanah. Juga, harus jalan kaki kayak gini," ucapnya.
__ADS_1
“Jalan kalau sama kamu kayak gini, aku enggak keberatan kok Mas,” balas Sara dengan tertunduk malu.
Belva yang mendengarkan ucapan Sara pun tersenyum, dan mencubit hidung istrinya itu, “Kamu bisa saja sih … jangan coba-coba untuk menggombali aku yah, karena menggombal itu tugasku,” balasnya dengan menahan tawa.
Ya Tuhan, bisa-bisanya Belva mengatakan bahwa menggombali Sara sudah menjadi tugasnya. Bahkan Belva mengatakan semua itu dengan penuh percaya diri.
Kini, mereka sudah berada di Greenwich Park, dari bukit hijau yang mereka duduki sekarang, dengan beralaskan rumput-rumput hijau, mereka menikmati keindahan kota London dan juga merasakan angin yang menerpa keduanya.
“Gimana, suka enggak?” tanya Belva.
“Suka, sekalian bersantai. Cuma anginnya dingin banget, Mas … kamu enggak mau kan kalau aku sampai masuk angin dan misi nanti malam gagal?” tanya Sara kepada suaminya itu.
“Jangan gagal dong Sayang … malam terakhir di London, besok kan kita sudah pindah ke Paris. Jadi, nanti malam jadi yah … biar si baby segera tumbuh dan bersemi di sini,” ucapnya sembari mengusap perut Sara.
“Makanya itu … gak usah lama-lama ya Mas,” balasnya.
“Iya Sayangku … sebentar saja, habis ini makan sekalian, kita kembali ke hotel. Aku justru seneng kembali ke hotel, bisa pelukin kamu,” balasnya.
“Kan selain gombalin kamu, tugasku satunya modusin kamu, Sayang,” balas Belva dengan merangkul bahu Sara.
Keduanya sama-sama tertawa. Siang menuju sore yang indah. Di bukit yang menghampar hijau, banyak juga para pasangan dan keluarga yang bersantai di sana. Ada anak-anak yang berlarian dan juga bermain bola. Melihat anak-anak itu, membuat Sara begitu rindu dengan Evan dan juga Elkan.
“Lihat anak-anak yang main bola itu, jadi kangen Evan dan Elkan, Mas,” ucapnya dengan suara yang sudah bergetar dengan menghela nafas.
“Semalam kan sudah videocall. Toh, Evan dan Elkan juga baik dan sehat. Kita juga tinggal ke Paris dan setelahnya kembali lagi ke Jakarta. Nanti di Jakarta sudah sama Duo E kesayangan Mamanya lagi,” balas Belva.
Sara pun tersenyum, “Benar … kangen banget sama mereka berdua,” balasnya dengan singkat.
Belva yang semula duduk, kini berdiri, mengulurkan tangannya kepada Sara, “Yuk, jalan-jalan sebentar di sini, dan setelahnya kita kembali ke hotel,” ajaknya.
Sara mengulurkan tangannya, dan kemudian segera berdiri, “Yuk, jalan-jalan … kalau duduk dan angin cukup kencang, malahan tambah dingin,” ucap Sara.
__ADS_1
Sara mengapitkan tangannya di lengan kokoh milik suaminya dan berjalan-jalan di Greenwich Park untuk sesaat. Dari perbukitan itu, Belva juga menunjukkan beberapa bangunan ikonik yang dia ketahui.
Sepanjang jalan kenangan …
Kita selalu bergandeng tangan …
Sepanjang jalan kenangan …
Kau peluk diriku mesra …
Salju yang rintik-rintik di awal bulan itu …
Menambah indahnya malam syahdu …
Dalam perjalanan, rupanya secara lirih Belva menyenandungkan penggalan lirik lagu nostalgia, tembang lawas itu. Refleks, Sara pun terkekeh geli.
“Pilihan lagu memang mengikuti usia ya Mas,” ucapnya dengan menyandarkan kepalanya sesaat di lengan Belva.
“Maksudmu, aku sudah tua gitu ya Sayang?” balas Belva.
Sara pun terkekeh geli, “Tahu deh … iya enggak?” sahut Sara.
“Iya-iya … aku memang lebih tua dari kamu. Selisih enam tahun,” balas Belva dengan ketus.
Sara kemudian tertawa, “Walau sudah tua, kamu tetap cakep dan keren kok, Mas. Enggak kelihatan sama sekali. Mungkin nanti kalau Evan dan Elkan sudah dewasa pun, kamu tetap awet muda,” balas Sara.
Belva hanya tersenyum, “Kamu bisa saja … lagu itu tadi bagus Sayang. Coba deh, kamu nyanyiin. Dan tentunya kamu tahu kan artinya malam syahdu?” tanya Belva kepada istrinya itu.
“Tahulah … malam favoritnya kamu kan?” balas Sara.
“Emang kamu tidak suka?” tanya Belva.
__ADS_1
Sara menundukkan wajahnya, sungguh malu untuk menjawab pertanyaan dari Belva. Sementara Belva yang semula menggandeng tangan Sara, kini justru memeluk tubuh istrinya itu. Rasanya begitu gemas. Berlatarkan bangunan eksotik kota London, keduanya bergandengan tangan menyusuri jalanan dengan hati yang penuh rasa cinta.