
Tidak terasa hari berganti menjadi hari, minggu berganti menjadi minggu, dan dua bulan sudah dijalani Sara seorang diri di Kota Hujan itu. Wanita itu semakin hari semakin menguatkan dan menabahkan dirinya sendiri. Jika Sara merasa terpuruk, maka Sara akan berlama-lama memandangi setiap foto Evan. Foto-foto Evan agaknya menjadi pemacu dan pemberi semangat dalam hidupnya.
Sementara hari ini, Sara akan bersiap untuk membuka soft opening Coffee shop miliknya. Coffee shop yang diberi nama Coffee Bay itu adalah merek dagang yang dimiliki oleh Sara. Bahkan Sara telah mendaftarkan nama itu dan ada Zaid yang membantunya kurang lebih satu bulan ini untuk memaksimalkan Coffee Bay.
“Akhirnya hari ini datang juga,” ucap Sara sembari menata kembali beberapa gelas cup, dan bersiap untuk membuka coffee shopnya untuk kali pertama.
Zaid yang berada di situ pun tersenyum melihat Sara, “Semangat … pasti bisa. Pasti ramai nanti,” ucap Zaid.
“Iya … semoga saja. Cuma aku grogi,” sahut Sara.
Hingga akhirnya, beberapa menit sebelum Coffee Bay milik Sara dibuka, terdapat sebuah kurir yang mengantarkan karangan bunga dan balon foil untuk Sara.
“Permisi … paket,” seru kurir tersebut.
“Ya Pak,” sahut Sara sembari keluar dari Coffee shopnya.
“Ibu Sara yah? Ada kiriman dari Pak Zaid,” balas kurir tersebut.
Sara tampak mengamati Zaid dari jauh. Tidak mengira bahwa pria itu harus repot-repot membelikan karangan bunga dan balon-balon foil untuknya.
Sara menempatkan bunga dan balon voil itu di sebuah meja di dekat pintu masuk, setelahnya Sara berjalan mendekati Zaid.
“Zai, kamu yang memesannya yah?” tanya Sara.
Pria itu pun mengangguk sebagai responsnya, “Iya … hanya sebatas congratulations saja, Sara,” balas Zaid.
__ADS_1
“Kamu repot-repot banget, Zai … padahal juga tidak usah,” sahut Sara.
“Tidak apa-apa Sara … kita kan teman dan partner bisnis. Hanya sebatas pemanis saja,” balas Zaid.
Hingga akhirnya Sara dan beberapa pekerja yang dipekerjakannya mulai bersiap untuk memotong pita dan berdoa bersama semoga Coffee Bay akan lancar dan menjadi kedai kopi yang cukup diperhitungkan di kota Bogor itu.
Rupanya hari pertama, Coffee Bay memiliki banyak pengunjung yang datang dan memesan minuman dan beberapa snack. Terlebih selama tiga hari ke depan, Coffee Bay memberikan potongan diskon sebanyak 20% bagi mereka yang memberi signature dish dari Coffee Bay.
“Pesen dong Kak,” datang seorang pembeli yang kali pertama menyambangi Coffee Bay.
“Iya, silakan,” sahut sang karyawan.
“Menu yang recommended di sini apa yah?” tanya pembeli itu.
“Ada Frappuccino dan Toast dengan butter,” jawab sang karyawan.
Sara yang duduk-duduk dan sesekali membantu karyawannya pun tampak senang bisa berinteraksi dengan banyak orang dan juga menjual signature dish miliknya. Frappuccino sendiri menjadi menu yang lekat di hatinya karena itu adalah minuman yang sering kali dibuatkan mendiang ibunya dulu. Sementara toast dengan butter adalah roti bakar dengan butter yang sering dia makan saat berada di kediaman Belva.
“Tuh, sudah sore saja sudah menjadi seratus orderan. Kalau track-nya seperti ini terus sih sudah bagus, Sara,” ucap Zaid lagi.
Sara pun mengangguk dan tersenyum, “Amin … semoga sukses. Semoga stabil sih penjualannya. Di tahap pertama, aku tidak ingin terlalu muluk-muluk,” balas Sara.
“Hanya saja tetap harus optimis, Sara,” balas Zaid.
“Iya … semoga saja,” balas Sara.
__ADS_1
Bukannya Sara pesimis, hanya saja Sara ingin menjalani semuanya terlebih dahulu. Minimal penjualan bisa stabil saja, Sara sudah bersyukur. Dia tahu bahwa setiap orang memiliki target, tetapi Sara ingin sekadar menjalani tanpa harus menetapkan target yang begitu tinggi.
Tidak terasa sudah mendekati waktu untuk menutup Coffee Bay di hari pertama. Sara memiliki tiga pekerja di sini. Dua orang cowok yang bertugas membuat minuman, dan seorang cewek yang bertugas sebagai kasir.
“Jadi gimana Nina, closing hari pertama. Kita menjual berapa cup?” tanya Sara.
Nina, karyawan yang menghandle bagian kasir itu tampak melihat kertas bill miliknya. Mengecek berapa berapa pcs cup yang terjual.
“220 cup, Bu,” sahut Nina.
Sara pun tersenyum. Tidak menyangka dalam sehari Coffee Bay bisa menjual 220 cup.
“Alhamdulillah, semoga besok akan tetap stabil,” sahut Sara.
“Pasti naik … kan tadi beberapa pembeli juga sudah posting dan story di akun media sosial mereka. Itu jadi salah satu strategi marketing sih, Sara … percaya deh, besok akan lebih dari 220 cup,” balas Zaid.
Hingga akhirnya, Coffee Bay benar-benar closing di hari pertama dan akan mulai beroperasi esok hari mulai jam 09.00 pagi. Sara pun menutup dan mengunci ruko miliknya tersebut.
“Terima kasih untuk hari ini, Zaid … semua berjalan lancar,” ucap Sara kepada Zaid.
“Sama-sama Sara … aku sih yakin, Coffee Bay bakalan sukses,” balasnya.
“Masih harus merangkak dulu, Zai … pelan-pelan saja. Aku suka kok menikmati prosesnya,” balas Sara.
Zaid tampak menatap sekilas wajah Sara, pria itu lantas berdehem sejenak.
__ADS_1
“Ehem, Sara … ini kan hari spesial buat kamu. Soft opening adalah hari yang spesial bukan? Lalu, kenapa aku tidak melihat suami yang datang ke mari? Seingatku suamimu itu posesif dan selalu berada sama kamu,” ucap Zaid dengan tiba-tiba.
Zaid bertanya tanpa alasan, karena Zaid masih begitu ingat bahwa saat kursus di Kopi Lab dulu saja, Sara selalu dijemput oleh suaminya sendiri. Akan tetapi, sekarang … sudah hampir sebulan Zaid bertemu dengan Sara dan wanita itu justru terlihat sendirian. Tidak ada sosok suaminya di sisinya. Ya, Sara seakan tidak seperti dulu itu. Oleh karena itulah, Zaid menanyakan hal itu secara langsung kepada Sara.