Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Cinta Mula-Mula


__ADS_3

Dari Denpasar sebuah mobil menjemput Belva, Anin, dan Evan menuju ke sebuah resort yang berada di Seminyak, Bali. Daerah Seminyak sendiri merupakan sebuah daerah di area Kuta, Badung ini memang terkenal sebagai tempat wisata dan terdapat berbagai resort mewah di sana. Kali ini, Belva dan Anin akan menempati sebuah resort yang sedang dikembangkan oleh Agastya Property di sana.


Setibanya di resort, Anin terlihat menyunggingkan senyuman saat melihat hamparan pantai yang begitu luas di area resort tersebut. Dia tidak mengira bahwa Agastya Property bisa berinvestasi dan mengembangkan sebuah resort di sana. 


“Yakin Agastya Property membangun sebuah resort di sini?” tanya Anin.


Bukan ragu, hanya saja harga tanah di kawasan Seminyak terbilang cukup mahal. Dia tidak mengira bahwa Agastya Property bisa mengembangkan kawasan tersebut.


“Tentu yakin … lagipula, bangunannya saja sudah berdiri. Jadi, ya ini milik Agastya Property,” sahut Belva.


Sore itu menjelang senja, tampak Belva mengajak Evan untuk bermain-main di pantai. Menikmati suasana senja di tepi pantai sembari membuat kastil dari pasir bersama Evan. Sementara Anin sendiri tampak duduk dan mengamati keduanya. Terkadang Anin mengabadikan momen Belva dan Evan dalam jepretan kameranya. 


"Sudah pasti kamu sangat bahagia karena sudah ada buah hatinya. Bertahun-tahun berlalu, baru kali ini kita bisa bermain dengan putra kita. Aku sayang Evan … aku bahagia dengan semuanya ini. Melihatmu bahagia, aku pun bahagia," gumam Anin di dalam hati. 


"Papa, lihat matahari," ucap Evan yang menunjuk matahari di atas sana. 


"Itu namanya senja, Van … matahari terbenam namanya senja," jelas Belva kepada putranya itu. 


"Sen-ja," ucap Evan menirukan perkataan Belva. 


Hingga beberapa saat berlalu, mereka menikmati senja di tepi pantai pribadi itu. Pesona jingga di angkasa, angin yang bertiup sepoi-sepoi, dan buih-buih ombak yang membuat suasana saat itu kian eksotik. 


Merasakan waktu kian petang, Anin, Belva, dan Evan kembali memasuki kamar mereka. Membersihkan diri, makan malam, dan menidurkan Evan terlebih dahulu. 


"Sekarang Evan tidur sama Mama yah, tidur yang lelap putranya Mama," ucap Anin sembari mengusapi puncak kepala putranya itu. 


Beberapa saat berlalu, Evan pun sudah terlelap karena mungkin juga kecapekan setelah seharian menempuh perjalanan dari Jakarta menuju Denpasar, dan bermain-main di tepi pantai. Hingga tidak butuh waktu lama, Evan pun telah terlelap. 


Anin lantas menghampiri Belva yang tengah duduk di mini bar dengan memainkan gadgetnya. Memeluk pria itu secara tiba-tiba. 


"Baru ngapain Sayang?" tanya Anin. 


"Hanya melihat nilai saham Agastya Properti," balas Belva. 


"Aku kira, kamu sedang melakukan apa," balas Anin. 

__ADS_1


Wanita itu kemudian mengambil duduk di sisi Belva, menarik kerah polo shirt yang dikenakan Belva dan menyapa bibir suaminya dengan bibirnya sendiri. Memberikan kecupan dan pagutan yang lembut di sana. 


Chup! 


Anin menarik kembali wajahnya, menatap Belva dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. 


"Tidak terasa, dulu kita pernah ke Bali bersama. Di resort seperti ini, saat bulan madu kita," balas Anin. 


Belva pun menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Anin. Kala itu, memang keduanya memilih mengunjungi Pulau Bali dengan tinggal sepekan di sebuah resort. Merasakan cinta mula-mula mereka. Semua terasa indah, semua terasa menggebu, dan bergelora. 


"Aku cinta kamu," ucap Anin dengan menatap wajah suaminya itu. 


Kembali Anin menyapa bibir suaminya dengan bibirnya sendiri. Mengecupi bibir suaminya, menghisap lipatan bawah dan lipatan atasnya bergantian, menyapa permukaan bibir yang lembut dan kenyal itu dengan ujung lidahnya. Wanita itu bahkan memejamkan matanya dan kian mencumbu suaminya itu. 


Bak terbawa suasana, Belva pun membalas ciuman Anin. Pria itu menelengkan kepalanya untuk memperdalam ciumannya. Mencumbunya dengan memberikan tekanan yang serupa. Mengakses bibir istrinya dengan nafas yang kian memburu. Kali ini, Belva pun turut memejamkan matanya, bahkan bibirnya perlahan mendarat dan memberikan kecupan-kecupan basah di leher Anin yang jenjang. 


Menahan hasratnya yang kian tersulut, Belva lantas menarik kembali wajahnya dan menatap wajah Anin yang telah memerah. 


"Kamu yakin?" tanya Belva pada akhirnya. 


"Iya," balas Anin dengan lirih. 


Rasanya Anin ingin memulai terlebih dahulu. Anin ingin membuktikan bahwa dirinya benar-benar yakin dengan keputusannya. Sehingga tanpa permisi, Anin duduk di pangkuan Belva dan segera mencumbu bibir suaminya itu. Menghisap lipatannya atas dan bawah. Tangan Anin membelai dan sedikit memberikan sedikit remasan di rambut Belva. Tangan itu perlahan turun membelai telinga Belva, sisi wajahnya, hingga garis lehernya. 


Seakan Anin benar-benar ingin menyulut hasrat sang suami. Dia sudah pasti pada keputusannya, sehingga Anin benar-benar tidak akan mundur kali ini. 


Anin melenguh, seolah ada sesuatu yang membuat tenggorokannya tercekat saat merasakan tangan suaminya yang sudah meremas dua buah persik miliknya. Membiarkan tangan Belva bermain-main di sana, bahkan Anin mempersilakan Belva untuk melepaskan satu demi satu pakaian yang dia kenakan. 


"Ah, Sayang," racau Anin saat bibir Belva mulai mencumbu area dadanya. Sapuan lidah pria itu yang basah dan hangat benar-benar membuat Anin kian kacau. Berkali-kali bahkan wanita itu pun mende-sah, sembari mencoba melepaskan polo shirt yang dikenakan Belva. 


Beberapa kali pula Anin mencumbu leher Belva dengan bibirnya. Meninggalkan jejak basah di area leher suaminya. Mengusapi dengan lembut area dada suaminya dengan jari-jemarinya yang lentik. 


Anin kian menelungkungkan dadanya, dan memberi akses kepada Belva untuk bermain-main dengan perbukitannya. 


Bahkan beberapa kali Anin menahan nafas, lantaran badai yang berkali-kali menerpanya. Dirinya kian linglung saat jari-jari Belva mulai menyisiri lembah di bawah sana. Memberikan sapuan dengan ujung jarinya, naik dan turun, mengusapnya, memberikan tekanan pada setiap gerakan ujung jari di bawah sana. 

__ADS_1


"Oh, God, astaga," racau Anin kali ini. 


Belva hanya menikmati apa yang ada di hadapannya. Memastikan Anin benar-benar siap, barulah pria itu mengangkat sedikit pinggul Anin. Menyatunya pusakanya dengan inti tubuh Anin secara perlahan. Tidak menghentak dalam tekanan yang keras, karena Belva takut akan melukai istrinya itu. 


"Sakit?" tanya Belva dengan pria. 


Baik Belva dan Anin sama-sama diam, seakan memberikan waktu bagi keduanya untuk merasakan sesuatu yang saling terhubung di bawah sana. Anin pun menggelengkan kepalanya perlahan, "Tidak ... tidak sakit," balas Anin. 


Mendengar pengakuan dari Anin, Belva lantas membantu Anin untuk menggerakkan pinggulnya secara perlahan. Maju dan mundur dalam ritme sedang. Bahkan kini tangan Belva tampak meremas dan memilin puncak buah persik milik istrinya itu. Beberapa kali Belva memejamkan matanya. 


"You can do it faster?" tanya Belva. 


Sebenarnya Belva sendiri bisa bergerak dengan cepat, tetapi Belva memilih bertanya kepada Anin. Tidak ingin membuat istrinya yang rapuh itu kian kesakitan. Mendengar pertanyaan Belva, Anin pun menganggukkan kepala. Wanita itu membawa kedua tangannya melingkari leher Belva dan kian mempercepat gerakan pinggulnya. 


"Astaga," geram Belva kali ini. 


Pria itu tampak kian memburu, Belva kembali menyambar buah persik milik istrinya. Menyapa dengan lidahnya, memberikan gigitan kecil di puncak buah persik itu. Sembari menikmati gerakan Anin di atas pangkuannya. 


Melihat Anin yang telah terengah-engah, Belva menahan pinggul Anin, mengisyaratkan supaya wanita itu berhenti. Tanpa melepas penyatuannya, Belva menidurkan Anin di sofa itu. Menindihnya, menggerakkan pinggulnya perlahan. Gerakan seduktif yang dilakukan Belva benar-benar ditahan, tidak terlalu menekan, tidak terlalu menghujam. 


"Jangan ditahan," ucap Anin kali ini dengan nafasnya yang terengah-engah. 


"Are you sure?" tanya Belva meyakinkan. 


Anin pun memberikan senyumannya dan mengangguk, wanita itu membawa kedua kakinya melingkari pinggang Belva. Memberikan akses tanpa batas kepada suaminya itu. 


Seakan mendapatkan lampu hijau dan Anin tidak keberatan, Belva pun menaikan temponya. Kian cepat, dan lebih cepat. Kian lama bergerak, akhirnya Belva pun menggeramkan. Pria itu langsung merubuhkan tubuhnya di atas tubuh istrinya. Belva tahu bahwa dirinya sudah berada di batas ketahanan. Hingga akhirnya terasa semburan ****** ***** di bawah sana. 


Anin memeluk tubuh Belva, bisa dikatakan ini adalah penyatuan mereka dengan penuh hasrat. Anin yang berharap keberaniannya kali ini tidak akan sia-sia. Akan tetapi, ****** ***** dari suaminya siapa tahu akan membuahkan benih yang tumbuh di dalam rahimmya, lagipula dia sudah mengonsumsi obat penyubur rahim yang diberikan oleh Dokter. 


"Apakah menyakitimu?" tanya Belva lagi saat nafasnya sudah lebih stabil. 


Anin tampak menggelengkan kepalanya dengan lemah, "Tidak ... justru terasa enak," balasnya. 


Sebab memang tidak dipungkiri Anin pun hanyut dalam lingkaran arus yang dia sulut kali ini. Merasakan dirinya merasakan pelepasan beberapa kali, rasanya benar-benar menakjubkan.

__ADS_1


Belva lantas menatap wajah Anin di bawahnya, "Jika memang sakit katakan saja, jangan sampai esok pagi kamu mengalami sakit pinggul," ucap Belva. 


Itu semua karena Belva tahu bahwa usai melakukan hubungan suami istri, Anin akan mengeluh pinggulnya terasa begitu sakit. Oleh karena itu, terkadang Belva lebih memilih tidak menggumuli istrinya itu.


__ADS_2