
"Aku akan menjawab semua pertanyaanmu itu. Apakah aku baru mencintaimu? Tidak Sara. Tanpa aku sadari, sebenarnya aku mulai jatuh cinta padamu. Aku dulu hanya mengatakan bahwa aku sangat peduli padamu. Akan tetapi, tidakkah kamu tahu bahwa peduli itu adalah bentuk dari mencintai? Tepatnya kapan aku mencintaimu? Aku pun tidak tahu. Sebab Tuhan bisa membuat manusia jatuh cinta dengan begitu cepatnya. Bahkan pepatah mengatakan bahwa hanya membutuhkan waktu 90 detik bagi manusia untuk jatuh cinta. Aku jatuh cinta kepadamu, di saat dan waktu yang sepenuhnya tidak aku tahu."
Belva mulai menjawab pertanyaan Sara itu. Pria itu seolah tengah membuka satu per satu pintu di dalam hatinya dan mencoba membagikannya kepada Sara.
"Mengapa aku tidak mengatakannya sedari dulu? Aku yang bodoh Sara. Namun, ketahuilah di dunia ini ada beberapa orang yang tidak bisa mengatakan perasaan cintanya. Aku menyadari kesalahanku. Mungkin bagimu, aku pria jahat dan berengsek yang menyentuhmu dan menggumulimu tanpa perasaan. Akan tetapi, tahukah kamu saat menyentuhmu saat menaburkan benihku di ladangmu, dadaku sesak dan membuncah di saat yang bersamaan. Maafkan kesalahanku dulu, Sara." Belva kembali berbicara dan sekaligus meminta maaf kepada Sara.
Perlahan kedua mata Sara pun berkaca-kaca. Itulah dulu yang dia rasakan bahwa Belva menyentuhnya tanpa perasaan. Hal itu pula yang membuat Sara bersedih tiap usai memberikan hak kepada Belva sebagai suaminya. Dirinya merasa menjadi wanita yang tidak berharga.
"Jangan menangis Sara … aku benar-benar minta maaf," ucap Belva saat melihat buliran bening yang nyaris jatuh dan menetes dari sudut mata Sara.
"Itu yang aku rasakan, Pak … aku merasa hanya menjadi sebuah ladang bagimu. Layaknya sebidang tanah yang hanya diam dan menerima tanpa perlawan saat petani mengolah ladangnya, membajaknya, menaburkan benih di dalam ladang itu, menyemainya. Tanah yang tak bisa memberontak dan membela dirinya sendiri," balas Sara dengan terisak.
Ah, mendengar ucapan Sara kini dada Belva terasa sesak. Pria itu segera menyeka buliran air mata di wajah Sara. Mendengar bagaimana perasaan Sara dulu, membuat Belva pun menyesal dan merutuki dirinya sendiri.
Andai saja dulu dirinya memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan cintanya kepada Sara. Sudah pasti Sara tidak akan kesakitan seperti itu. Lagipula, Belva ingat bahwa Sara masih gadis. Ya, Belva masih ingat bahwa kali pertama menggumuli Sara membuat gadis itu pingsan karena shock pasti karena memiliki beban pikiran dan trauma di masa lalu. Ingin rasanya Belva kembali ke masa empat tahun yang lalu dan memperbaiki semuanya bersama dengan Sara.
“Maafkan aku, Sara … sebanyak apa pun aku meminta maaf, agaknya itu tidak bisa menyembuhkan rasa sakit di hatimu atas perbuatanku empat tahun yang lalu yah?” tanya Belva dengan lirih.
Sara lantas menyeka air matanya, sedikit menoleh ke arah Belva, “Apa Pak Belva ingin aku mendampingi Pak Belva karena Kak Anin sudah tiada?” tanya Sara kini.
Biarlah kali ini, dirinya menanyakan hal demikian. Benarkah semua perasaan dan permintaan Belva itu muncul karena semuanya telah berubah? Benarkah Belva memintanya untuk mendampinginya karena Anin sudah tiada? Jika demikian, mungkinkah Sara hanya sekadar menjadi bayangan bagi Anin yang sudah tiada.
Dengan cepat Belva menggelengkan kepalanya, “Tentu tidak Sara … aku murni mencintaimu. Bukan karena Anin telah tiada. Bahkan di saat dirinya masih ada pun, aku pernah berada di masa di mana aku mengakui bahwa aku mencintaimu,” jawab Belva.
__ADS_1
***
Hampir dua tahun yang lalu …
Belva tidak mengira bahwa Anin rupanya dalam diam mengetahui bahwa dirinya setiap malam hampir keluar dari kamarnya dan memilih untuk tidur di dalam kamar Sara. Belva pikir, Anin benar-benar telah terlelap. Ternyata salah, Anin nyatanya beberapa kali memergoki Belva dan keluar dan masuk kamar. Berpindah tempat tidur menjelang subuh. Rasanya Belva selingkuh di hadapan istrinya sendiri, padahal dia hanya sekadar berpindah tempat tidur.
Seolah ingin mendapatkan jawaban atas sikap Belva, akhirnya suatu malam Anin memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Belva.
“Apakah setiap malam sebenarnya hanya aku yang tidur di sini sendirian?” tanya wanita itu kepada Belva kala itu.
“Maksud kamu?” tanya Belva dengan singkat.
“Jujurlah padaku … aku tidak akan marah. Benarkah setiap malam, kamu keluar dari kamar ini dan memilih tidur di kamar Sara?” tanya Anin dengan tenang. Sekalipun hatinya berkecamuk, tetapi Anin memilih tenang dan ingin mendapatkan penjelasan dari Belva.
Belva yang semula diam pun akhirnya berbicara, “Iya … aku setiap malam tidur di sana. Maafkan aku, Anin … tetapi, aku tidak bisa. Aku mencoba berbaring di sini, di dalam kamar ini, tetapi nyatanya aku justru terus keingat kepada Sara. Maaf. Jika dulu, kamu berkata untuk tidak melibatkan perasaan dalam hubungan ini, sekarang yang ada justru aku yang melibatkan perasaanku,” cerita Belva dengan jujur kepada Anin kala itu.
“Bukankah aku sudah bilang … aku menerima Sara. Aku tidak masalah jika kamu menikah lagi, tetapi wanita itu harus Sara. Kenapa harus Sara? Dia bukan hanya wanita yang baik, tetapi dia juga berusaha untuk tidak mengambil apa yang bukan menjadi haknya. Aku rela berbagi dengannya. Selain itu, Sara menghargaiku dan tidak memandang rendah aku.” Anin menjawab dengan tenang. Ini adalah kali kedua dia berbicara dengan Belva bahwa dia rela dimadu jika wanita itu adalah Sara.
“Aku sudah mencarinya kemana-mana, tetapi tidak menemukannya. Maafkan aku, nyatanya aku sudah mencintainya. Dia datang ke dalam hidupku dengan pesonanya tersendiri. Membuatku terus memikirkannya, tetapi aku justru melakukan kesalahan padanya,” aku Belva dengan jujur.
“Kejarlah Sara … kejarlah cinta. Ingat, aku sama sekali tidak keberatan,” jawab Anin dan sekaligus dia memberikan penegasan bahwa dirinya tidak keberatan.
***
__ADS_1
Kini …
Belva akhirnya menceritakan kisah dua tahun yang lalu itu kepada Sara. Bukan lantaran Anin sudah tiada, tetapi perasaannya memang sudah ada sejak dulu. Belva hanya tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya saja.
“Selama empat tahun ini bukannya aku tidak mencarimu, Sara … aku selalu mencarimu. Akan tetapi, setelah kepergian Anin, aku pun harus mengutamakan Evan. Dia masih kecil saat itu. Aku tidak ingin dia terlarut dalam kesedihan. Aku mencoba menjadi seorang Papa dan sekaligus Mama untuk Evan,” jelas Belva.
Ya, usai Anin tiada. Belva yang harus benar-benar fokus kepada Evan. Tidak ingin membuat putranya kehilangan dan larut dalam kesedihan. Sekalipun Belva sendiri kehilangan, tetapi dia sendiri berusaha bangkit. Dia harus menghandle Evan, memberikan kasih sayang penuh untuk putranya itu. Dalam dua tahun terakhir, ibarat kata Belva hidup hanya untuk putranya Evan.
Ah, makin terisaklah Sara. Semua kisah yang diceritakan oleh Belva nyatanya justru membuat hatinya kian terasa sesak dan nyeri. Sara tidak mengira bahwa pria hebat di hadapannya itu telah mengalami masa-masa yang berat sendirian bersama Evan. Tidak mengira jika dalam dua tahun terakhir, garis takdir seolah membolak-balikkan kehidupan Belva dengan begitu tragis.
Belva menghela nafas sepenuh dada kini, ibu jari tangannya kembali bergerak dan menyeka air mata di wajah Sara.
“Jangan menangis Sara … semuanya sudah menjadi masa lalu,” ucap Belva.
“Maaf,” ucap Sara dengan bibirnya yang bergetar. Tiada kata yang bisa dia ucapkan selain kata maaf sekarang ini.
Belva pun tersenyum, “Tidak perlu meminta maaf … semuanya telah terjadi. Jadi, maukah kamu mendampingiku sekali lagi?” tanya Belva yang seakan membutuhkan jawaban dari Sara.
“Beri aku waktu untuk berpikir,” pinta Sara pada akhirnya.
Belva pun kemudian menganggukkan kepalanya, “Baiklah … hanya saja tolong jangan menerimaku hanya karena Evan … fokuslah kepada perasaanmu. Aku tidak mau jika kamu menerimaku hanya karena kasihan kepada Evan. Jangan menjadi Evan sebagai pertimbangan bagimu, hanya saja aku ingin kamu mengambil keputusan berdasarkan kata hatimu,” ucap Belva.
“Baik Pak,” balas Sara.
__ADS_1
Belva kemudian mengedarkan pandangannya di kamar Sara itu, “Asal kamu tahu, kamar ini telah resmi menjadi milikku, Sara … usai kamu pergi, aku yang menempati tempat ini. Akan tetapi sekarang, karena pemiliknya telah datang … tidurlah di sini. Aku akan tidur di tempat lain. Istirahatlah sudah malam, jangan lupa mengunci pintumu,” pesan Belva kali ini.
Mendengar pesan dari Belva, Sara pun membola. Tidak mengira bahwa pria itu bisa berpesan seperti itu kepadanya. Agaknya Sara harus benar-benar mengunci pintu jika tidak ingin didatangi tengah malam oleh pria yang baru saja membuka semua jawaban untuk dirinya kali ini.