
Nyatanya sepanjang malam, Belva tidur dengan rasa sebal. Hasrat yang tertahan membuat kepala pening. Namun, yang dikatakan Sara juga benar bahwa ada Evan. Sangat berisiko melakukan kegiatan panas saat anak tidur bersama orang tuanya. Sebab, anak-anak berusia 4 tahun dengan perkembangan otaknya yang begitu pesat dan pikirannya yang begitu kritis harus diwaspadai oleh orang tua. Dalam bertutur kata dan bersikap, orang tua juga harus berhati-hati.
Jangan sampai suara-suara de-sahan mengganggu tidur anak, hingga si anak pun akhirnya terbangun dan melihat pertunjukan yang tidak senonoh dari kedua orang tuanya sendiri. Lagipula, ada yang dilihat oleh mata anak, dikirimkan sensoriknya ke otak, akan terngiang-ngiang untuk jangka waktu yang lama di otak anak. Untuk itu, memang sebaiknya orang tua memiliki kamar sendiri dan melakukan hubungan suami istri tanpa terlihat oleh anak.
“Mas, bangun yuk Mas … sudah pagi nih,” ucap Sara yang mencoba membangunkan suaminya itu.
Sebenarnya Belva sudah terbangun. Hanya saja Belva memilih masih menutup matanya dan membiarkan Sara yang masih memeluknya. Tidak dipungkiri dipeluk oleh Sara seperti ini membuatnya sangat senang.
“Hmm,” sahut Belva.
Akhirnya pria itu pun mengerjap dan mulai membuka kelopak matanya perlahan. Begitu pandangan matanya kian jelas, senyuman manis Sara yang sudah terpampang nyata di hadapannya sekarang ini.
“Pagi,” sapa Belva begitu melihat wajah istrinya itu.
“Pagi Pak Belva … eh, Mas Belva,” sahut Sara sembari menutup mulutnya yang seakan ingin tertawa.
“Kalau mau memanggilku Pak Belva lagi boleh kok … tidak masalah. Yang penting ditambahin panggilannya, Pak Belva Sayang … gitu,” balas Belva.
Rasanya tawa Sara nyaris meledak mendengarkan ucapan suaminya itu. “Mau dibuatkan sarapan apa?” tawar Sara kali ini.
“Beli saja Sayang … cuma dua hari di sini. Tidak perlu repot-repot masak. Nanti aku beli bubur ayam saja. Evan sudah bangun?” tanya Belva kemudian.
“Sudah … Evan sudah mandi juga kok. Tuh anaknya lihat film kartun kesukaannya di depan,” balas Sara.
Belva pun mengangguk, perlahan pria itu beranjak dari atas ranjang. “Ya sudah … aku mandi dulu yah. Nanti habis mandi aku belikan bubur ayam. Hari ini, kamu pasti mau ke Coffee Bay kan?” tanya Belva.
“Iya … boleh kan?” tanya Sara kemudian.
“Boleh … nanti aku antar,” balas Belva.
__ADS_1
Hingga akhirnya Belva segera memasuki kamar mandi. Pria itu tidak membutuhkan waktu lama untuk menyegarkan tubuhnya. Usai sudah bersih dan segar, Belva berpamitan untuk keluar terlebih dahulu. Seperti ucapannya, Belva ingin membelikan Bubur Ayam untuk Sara. Lagipula, di Bogor yang hanya sebentar tidak perlu repot-repot memasak.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Belva, pria itu kembali dengan menenteng kantong plastik yang berisi tiga buah kemasa styrofoam yang berisi Bubur Ayam.
“Yuk sarapan dulu,” ajak Belva.
Sara pun segera memindahkan Bubur Ayam itu ke dalam piring. Terlihat Sara menyajikan Bubur Ayam untuk Belva terlebih dahulu, setelahnya dia menyajikan untuk Evan, yang terakhir barulah Sara menyajikan untuk dirinya sendiri.
“Evan mau disuapin atau makan sendiri?” tanya Sara.
“Makan sendiri saja, Ma,” sahut Evan.
Sara pun tersenyum dan mengusapi puncak kepala Evan, “Makan yang banyak, Nak … dihabiskan yah,” balas Sara.
Ketiganya pun sarapan bersama, hingga tidak terasa Bubur Ayam sudah habis mereka santap. Kemudian ketiganya bergegas untuk mengunjungi Coffee Bay. Tidak lupa, Sara membelikan buah tangan untuk para karyawannya di Coffee Bay.
“Selamat datang, silakan pesanannya Kak,” ucap salah seorang yang melihat kedatangan Sara.
“Eh, rupanya Kak Sara … saya kira pelanggan,” balas salah seorang karyawan Sara.
“Tidak apa-apa,” balas Sara.
“Mama, mau Croffle ya Ma,” ucap Evan kali ini. Rupanya Evan sudah rindu dengan Crofflee buatan Coffee Bay yang memang enak.
“Boleh … aku pesan Crofflee dan Frappuccino yah … sama susu cokelat hangat,” pesan Sara.
Tidak berselang lama, kemudian Nina yang datang. Wanita itu terlihat histeris melihat Sara.
“Kak Sara … aku kangen,” ucap Nina yang tampak memeluk Sara itu.
__ADS_1
“Gimana, bisa kan handle Coffee Bay?” tanya Sara.
“Mendadak banget Kak … aku kewalahan pada awalnya, tetapi sekarang sih sudah bisa,” balas Nina. “Kakak sehat kan?” tanya Nina.
Tampak Sara menganggukkan kepalanya, “Sehat dong … kalau tidak sehat, mana bisa aku sampai di sini,” balas Sara.
Tidak berselang lama, pesanan Sara pun tiba. Seorang pelayan menyajikan pesanan Sara itu. Tampak Evan yang sudah begitu inginnya menyantap Crofflee buatan Coffee Bay yang memang enak itu.
Rupanya tanpa sepengetahuan Sara, Belva memesankan makan siang dari salah satu Restoran Jepang yang ada di salah satu pusat perbelanjaan di Bogor Square.
“Pesanan atas nama Pak Belva,” tanya seorang kurir pengantar berjaket hijau.
“Ya benar,” tampak Belva berdiri dan menerima beberapa kantong plastik berisi makanan itu. Tidak lupa, Belva memberikan tips untuk abang kurir tersebut, kemudian Belva menyerahkannya kepada Nina.
“Silakan makan siang bersama semua staf,” ucap Belva.
Wah, tentu para pekerja di Coffee Bay pun begitu senang karena mendapatkan makan siang yang enak.
“Terima kasih Pak … terima kasih Kak Sara,” ucap mereka serempak.
Sara kemudian berdiri. “Sana, kalian makan dulu … biar aku yang jaga,” ucap Sara kali ini. Sebagai seorang atasan, terlihat Sara begitu pengertian dan sekaligus ini dilakukan Sara untuk mengobati kerinduannya saat masih membesarkan Coffee Bay dengan tiga orang pekerja.
Menyapa pelanggan, membuatkan minuman berdasarkan orderan, semua dilakukan Sara dengan senang hati. Bahkan terkadang Belva pun menyusul Sara dan menawarkan bantuan untuk membantu istrinya itu. Belva melihat bagaimana Sara bekerja di Coffee Bay, wanita itu terlihat begitu bersemangat dan melayani orderan demi orderan yang masuk dengan cekatan dan juga ramah. Rasanya Belva benar-benar dengan Sara yang bisa bekerja dengan baik. Belva yakin, sedikit kerinduan di hati Sara akan rutinitasnya yang dulu bisa terobati.
Beberapa jam Sara berada di Coffee Bay, sudah cukup untuk mengobati rasa rindunya dengan tempat usaha pertamanya itu.
“Sering-sering ke mari, Kak,” ucap Nina.
“Iya, tentu. Ya sudah, pamit yah ... next time, aku akan main ke sini lagi,” balas Sara.
__ADS_1
Kemudian ketiga kembali pulang ke rumah untuk beristirahat. Sudah sepanjang hari Sara, Belva, dan Evan berada di Coffee Bay. Mereka akan pulang untuk beristirahat sebentar dan keesokan harinya mereka akan kembali pulang ke Jakarta lagi. Memang tujuan utama Sara datang ke Bogor untuk menengok rumah dan Coffee Bay miliknya. Sehingga bisa melakukan dua kegiatan utama itu membuat hati Sara bahagia.