
Hanya lima belas menit berkendara, kita Belva sudah membawa Sara kembali pulang ke resort pribadi miliknya. Turun dari mobil, Belva masih setia menggandeng tangan Sara di sana. Bahkan dengan hati-hati, Belva menuntun Sara untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Evan sudah tidur belum Mas?" tanya Sara kali ini. Sebab, sudah sekian jam lamanya dia meninggalkan Evan sehingga begitu tiba di resort, yang Sara tanyakan adalah Evan.
"Evan ke resort yang ditempati Amara dan keluarganya. Satu jam dari sini," balas Belva dengan begitu santainya.
Mendengar ucapan suaminya, Sara pun bingung bagaimana bisa Evan bersama dengan Amara. Sementara itu, sebelumnya Belva hanya mengatakan Amara yang akan menjaga Evan.
"Jadi malam ini Evan tidak di sini?" tanya Sara lagi.
"Iya Sayang, malam ini buat kita berdua," jawab Belva.
Pria itu kemudian mendekat, memeluk Sara dan belakang. Tanpa permisi Belva memberikan di bahu Sara yang terekspos karena gaun yang dia kenakan berbentuk off the shoulder.
"Mas," pekik Sara bak tercekat dengan kecupan dari bibir suaminya di pundaknya itu.
"Hmm, apa Sayang? Kamu capek enggak? Kalau malam ini aku minta hakku boleh kah?" tanya Belva kepada Sara.
Ya Tuhan, setiap kali suaminya itu mengatakan demikian, sekujur tubuh Sara terasa panas. Padahal sudah berkali-kali juga dia menyatu dengan Belva. Namun, tiap kali Belva meminta haknya, jantung Sara seolah berdetak melebihi ambang batasnya.
"Mas, sebentar … Evan beneran sama Amara?" tanyanya lagi memastikan.
"Iya Sayang, percaya aku … dia aman bersama Amara," balas Belva.
__ADS_1
Dekapan hangat tangan Belva kian menguat, pria itu kemudian kembali menundukkan wajahnya dan mengecupi bahu Sara. Permukaan kulit yang putih dan mulus itu seolah menggoda Belva untuk mendaratkan bibirnya di sana. Kecupan demi kecupan dengan jejaknya yang hangat dan basah pun menyisiri pundak Sara itu.
Tidak perlu menunggu lama ada lenguhan Sara yang tertahan. Wanita itu seolah menahan nafas saat Belva memberikan godaan demi godaan di tengkuk hingga pundaknya. Bahkan tangan pria itu memberikan usapan yang begitu lembut di lengannya.
"Mas," pekik Sara kali ini dengan memejamkan matanya.
"Ya, apa Sayang?" sahut Belva yang masih menempelkan bibir bahkan menjulurkan sedikit lidahnya untuk meninggalkan jejak-jejak basah di bahu dan tengkuk Sara.
Gerakan bibir Belva yang melenakan, dibarengi usapan tangannya yang lembut di lengan, di perutnya yang menyembul, dan meraba area dadanya. Sungguh, Sara dibuat kalang kabut jadinya.
Kini, dengan gerakan yang lembut, tangan Belva menarik resleting gaun yang saat ini dikenakan Sara, sehingga punggung Sara kian terekspos. Belva tersenyum dan membelalak begitu punggung yang begitu mulus itu. Telapak tangannya bergerak dan memberikan jari-jarinya memberikan godaan pada strapless braa yang dikenakan Sara.
“Sexy banget sih,” gumam Belva kali ini.
Tidak membutuhkan waktu lama, gaun berwarna hitam itu teronggok begitu saja di lantai. Belva kali ini mengubah posisi Sara perlahan-lahan untuk menghadapnya. Seakan pandangan nakal seorang Belva Agastya mengunci Sara dengan sorot matanya yang mengisyaratkan berbagai macam hal.
Itu adalah perpaduan bibir bertemu bibir yang sungguh indah dan luar biasa. Keduanya saling memejamkan mata. Mata yang saling memejamkan, dan decakan yang dihasilkan dari kedua bibir yang beradu.
Sejenak menarik bibirnya, Belva kembali menatap Sara dengan tersenyum.
“Kamu sexy Sayang … kamu cantik kalau hamil kayak gini. Mau enggak kamu hamil terus biar aku bisa mengagumi kecantikanmu yang berlipat-lipat ini,” rayu Belva.
Ada senyuman samar disertai dengan rona merah di wajah Sara. Wanita itu tampak malu-malu berdiri di hadapan Belva dengan kondisi seperti ini. Akan tetapi, kali ini Sara akan meyakinkan dirinya bahwa dengan perut yang kian menyembul saja, suaminya justru tak segan untuk mengaguminya. Walau lipatan lemaknya juga kian bertambah, di mata Belva tidak ada yang bisa menggantikan Sara.
__ADS_1
“Boleh malam ini Sayang?” tanyanya yang terlebih dahulu meminta izin kepada istrinya.
Sara pun kemudian mengangguk, “Boleh …” ucapnya sembari menunduk, masih ada perasaan malu setiap kali dia memberikan lampu hijau kepada suaminya itu.
Menerima sinyal yang diberikan oleh istrinya, Belva lantas kembali mencium bibir istrinya itu. Kali ini ciuman yang begitu dalam dengan lebih menggebu. Merasai rasa rindu yang seolah terus-menerus berdiam di dalam dada, tanpa mampu untuk diredakan barang untuk sejenak. Merasai manisnya bibir yang sudah seperti cotton candy yang menjadi candunya, dan juga merasakan rongga mulut yang seolah memberinya kehangatan untuk terus menari-nari di dalam rongga mulut istrinya.
Diikuti oleh pergerakan tangannya yang membelai setiap sisi telinga istrinya yang justru kian membuat wanitanya itu meremang, dan semakin memejamkan matanya. Keduanya, Belva sedikit membuka matanya dan membaringkan tubuh istrinya, pria itu mengungkungnya dengan menahan bobot tubuhnya sendiri dengan kedua siku tangannya, tidak akan menindih perut istrinya yang sudah terlihat membuncit.
Setelah merasa istrinya dalam posisi nyaman, mulailah pria itu melabuhkan kecupan-kecupan di pipi, hidung, bibir, leher, dan tangannya bergerak meraba lekuk-lekuk feminitas di tubuh istrinya. Sayangnya, pria itu kian gelap mata untuk mengecup dan merasakan lembut dan manisnya buah persik nan begitu ranum, sehingga tangannya bergerak di punggung istrinya untuk melepaskan pengait di sana. Setelah dua buah persik itu terpampang, tidak menunggu waktu lama, pria itu segera menyapanya dan memberikan kecupan-kecupan dan memberikan gigitan-gigitan kecill di puncak buah persik itu.
Penjelajahannya tidak berhenti di sana, karena bibir pria itu kian bergerak turun dan mengecup perut istrinya yang kian membesar. Seolah dia pun ingin menyapa kepada babynya bahwa Papanya akan segera menengoknya. Bahkan hanya butuh waktu sekian detik, pria itu benar-benar meloloskan semua pakaian yang menempel pada tubuh istrinya, bertingkah sedikit nakal dengan menatap istrinya dalam keadaan polos mutlak.
“Kamu cantik Sayang,” ucapnya lagi sembari meloloskan sisa-sisa pakaiannya.
Kemudian pria itu membuka sedikit kaki istrinya, dan menyatukan dirinya dengan dirinya. Melakukan invansi dengan begitu lembut, hujaman dan hentakan yang dia lakukan pun begitu lembut sehingga tidak melukai buah hatinya yang bersemayam dalam janin istrinya itu.
“Astaga Sayang,” gumamnya lagi diikuti dengan geraman yang membuat pria itu terus melakukan gerakan seduktif sembari memejamkan matanya.
Sementara Sara sendiri, mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya dan beberapa kali tangan itu luruh dengan mencengkram punggung suaminya.
“Mas Belva,” dipanggilnyalah suaminya itu dengan beberapa kali tampak mendesis dan napas yang terengah-engah. Serasa dirinya sendiri kepayahan untuk bernapas.
Akan tetapi, suaminya justru kian bergerak dan terus melakukan invansinya tanpa henti. Kendati gerakannya lembut, justru itu begitu keduanya sama-sama memejamkan matanya dengan dramatis disertai peluh yang kian basah pada diri keduanya.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Belva pun menggeram dengan tubuh yang bergetar dan mencerukkan kepalanya di dada istrinya. Keduanya melebur menjadi satu, berbagi indahnya taman cinta yang baru saja mereka kunjungi bersama. Disertai napas yang masih menderu, keduanya sama-sama terengah-engah dan memejamkan matanya. Menstabilkan terlebih dahulu diri mereka sendiri.
Kemudian pria itu mengangkat kembali wajahnya, dan melabuhkan kecupan di kening istrinya, “Terima kasih Sayang … I Love U So Much. Adik bayi juga sehat-sehat di sini ya. Abis ditengokin Papa pasti kamu senang kan,” ucapnya sembari menyeka sisa-sisa keringat di kening istrinya.