
Usai pengakuan cinta dan lamaran yang begitu romantis. Nyatanya Belva memilih untuk kembali ke Jakarta bersama Evan. Akan tetapi, Belva berjanji bahwa dia akan sering-sering mengunjungi Sara ke Bogor. Selain itu, Belva juga berjanji akan kembali menikahi Sara secepatnya.
“Jaga diri baik-baik di sini Sara … dan ingat, jangan terlalu dekat-dekat dengan cowok bernama Zaid itu,” pesan Belva kepada Sara.
Agaknya pria itu tengah posesif dan meminta Sara untuk tidak terlalu dekat Zaid. Tentu Belva bisa berubah menjadi pria yang posesif saat bersama Sara. Dulu saja, Belva tak segan menyemprotkan hand sanitizer ke tangan Sara saat Sara bertemu Zaid di Kopi Lab. Sekarang, dengan perasaannya yang secara terang-terangan telah mengakui bahwa dirinya mencintai Sara, sudah bisa dipastikan bahwa Belva bisa bersikap lebih posesif.
“Iya Pak … lagipula, kami hanya berteman,” ucap Sara. Wanita itu sengaja menekankan bahwa dia dan Zaid hanya berteman.
Walaupun pada kenyataannya Zaid memiliki perasaan kepadanya, tetapi Sara tidak pernah menerima perasaan Zaid. Bagi Sara, Zaid hanyalah temannya saja.
“Aku tahu … hanya saja, aku tidak suka kamu berdekat-dekatan dengannya,” sahut Belva.
Sara nyatanya justru tersenyum melihat pria yang baru saja mengatakan perasaannya kepadanya itu. Sara lantas menganggukkan kepalanya secara samar, “Iya Pak Belva … aku akan melakukannya. Baiklah, hati-hati berkendara,” balas Sara yang sembari melambaikan tangannya kepada Belva.
Pria itu menghela nafas dan wajahnya terlihat begitu lesu, lantas Belva yang sudah berjalan menuju mobilnya, perlahan membalik badannya dan sedikit berlari ke arah Sara. Pria itu langsung memeluk Sara begitu saja.
“Aku kangen kamu … tidak bisakah kamu ikut denganku segera?” tanya Belva kali ini tanpa melepas pelukannya.
Terlihat Sara yang tersenyum dan mendorong dada Belva untuk melepas pelukannya. Tentu saja Sara merasa risih karena saat itu mereka berada di depan rumah. Takut jika ada tetangga yang julid.
“Aku tidak akan ikut denganmu, sebelum kamu menghalalkanku,” ucap Sara kali ini.
Belva pun menundukkan wajahnya, rupanya Sara memiliki keteguhan hati yang begitu kuat. Sekalipun ada Evan yang menjadi penyatu bagi mereka berdua, tetapi Sara memilih meminta Belva menghalalkannya dalam sebuah ikatan suci pernikahan terlebih dahulu.
“Baiklah … aku akan menyiapkan semuanya. Aku akan kembali meminangmu. Kali ini aku akan meminangmu dengan penuh cinta,” balasnya dengan yakin.
__ADS_1
“Baik … aku akan menunggu saat itu,” jawab Sara.
Kali pertama menerima pinangan Belva, memang pinangan itu terjadi tanpa cinta, hanya sekadar kesepakatan kedua belah pihak saja. Akan tetapi, sekarang waktu dan kondisinya sudah berbeda, sehingga Sara akan menunggu saat Belva, pria yang sudah memenuhi hatinya sejak lama kembali meminangnya. Kali ini pria itu menjanjikan akan meminang Sara dengan penuh cinta.
“Oke Sara … aku pamit. Akhir pekan nanti, aku akan kemari lagi bersama Evan. Bye Sara … Love U,” pamit Belva kali ini.
Sara melepaskan kepergian Belva dan Evan yang sudah tertidur di dalam mobilnya. Bahkan Sara menunggu sampai mobil mewah berwarna hitam itu berjalan menjauh dari depan rumahnya.
Akan tetapi, betapa kagetnya Sara saat melihat mobil milik Zaid yang juga terparkir di depan gerbangnya. Hanya berjarak beberapa meter saja dari mobil Belva.
“Za … Zaid?” tanya Sara dengan terkejut, saat pria itu turun dari mobilnya.
Malam itu, Zaid datang tidak dengan tangan kosong. Melainkan dia membawa Kue Lapis Surabaya sebagai buah tangan bagi Sara.
“Hai Sara … agaknya aku datang di waktu yang salah,” ucap Zaid kali ini.
“Tidak Zai … hanya saja, aku yang minta maaf,” aku Sara kali ini.
Sebagai seorang wanita, tentu Sara tahu bahwa dirinya selama ini tidak pernah bisa membalas perasaan Zaid. Bukannya Sara tidak mencobanya, tetapi berkali-kali Sara mencoba membuka hati justru perasaannya selalu tertuju kepada sosok Belva Agastya. Tidak bisa berpaling dari pria itu.
“Kelihatannya sama sekali tidak ada kesempatan untukku ya Sara?” tanya Zaid kali ini.
Sara pun perlahan mengangkat wajahnya, dan menatap Zaid. “Maaf Zai … tetapi cinta dan perasaan tidak bisa dipaksakan. Maafkan aku, dan kali ini aku berkata jujur bahwa aku masih mencintainya Zai … aku akan menikah kembali dengannya,” ucap Sara dengan jujur.
Tak bisa lagi dibayangkan bagaimana hancurnya hati Zaid kala itu. Lagi-lagi Zaid harus menerima kenyataan pahit bahwa Sara akan kembali bersatu dengan mantan suaminya itu. Sepenuhnya Zaid menyadari bahwa perasaan tidak bisa dipaksakan. Sama seperti dirinya yang hanya bisa menyukai Sara, dan kondisi sebaliknya Sara hanya bisa menyukai Belva. Sungguh ironis memang, tetapi yang terjadi adalah demikian adanya.
__ADS_1
Zaid tampak menghela nafasnya dan menyerahkan paper bag berisi Lapis Surabaya itu untuk Sara.
“Ini Sara … ambillah. Oleh-oleh dari Surabaya. Tadinya aku kemari untuk memberikan oleh-oleh ini, tetapi rupanya kamu sedang bersamanya. Ku akui, aku cemburu dan patah hati Sara. Sekalipun kamu tidak pernah membalas perasaanku, bukan berarti kamu tidak tahu dalam dan tulusnya perasaanku padamu selama ini. Tidak masalah Sara … cinta memang tidak harus selamanya memiliki. Aku bahagia jika kamu berbahagia bersama Belva. Raihlah kebahagiaanmu, Sara,” ucap Zaid kali ini kepada Sara.
Kedua mata Sara tampak berkaca-kaca di sana. Wanita itu berdiri sembari menggigit bibir bagian dalamnya, perkataan Zaid juga menyedihkan, tetapi apa yang diucapkan Zaid pun benar bahwa cinta tak selamanya harus memiliki. Sara pernah berada pada posisi melepaskan cintanya, berusaha menghapus perasaannya sendiri. Akan tetapi kini, Zaid lah yang berada di posisi itu.
“Baiklah Sara … aku pamit. Sadboy ini akan pamit. Tidak apa-apa. Hanya saja, di hari bahagiamu nanti, tolong kirimkan undangan kepadaku, Sara. Aku akan datang dan berdoa untuk kebahagiaanmu,” ucap Zaid.
“Zaid ….”
Sara hanya bisa menyebut nama pria itu tanpa bisa mengucapkan perkataan lainnya.
Sementara Zaid memilih memasuki mobilnya, pria itu segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Sara. Tidak dipungkiri hatinya teriris dengan perih. Luka dan sayatan tidak berdarah harus Zaid alami kali ini.
Akhirnya …
Ini ujung perasaanku, Sara …
Perasaan yang tak pernah terbalas …
Perasaan yang tak pernah tersambut olehmu …
Aku akan melepasmu dengan ikhlas, Sara …
Asalkan kamu bahagia bersamanya …
__ADS_1
Zaid mengemudikan mobilnya dengan bergumam lirih dengan hatinya sendiri. Semuanya terasa menyakitkan bagimu, tetapi pria itu tidak menaruh dendam dan benci kepada Sara, melainkan Zaid justru akan melepaskan Sara, melepaskan perasaannya untuk Sara dengan ikhlas dan tulus hati.