
Mencoba memejamkan matanya nyatanya sia-sia belaka karena Belva justru kian pening. Badannya sekarang demam, dan juga dia berusaha menahan rasa mual yang seolah menggoncang perut hingga kerongkongannya. Mencoba bertahan dengan semua rasa yang siap menyeruak untuk minta dikeluarkan itu, akhirnya Belva pun memilih turun dari ranjangnya.
Belva melihat terlebih dahulu pada Anin yang telah terbaring di sisinya, rupanya istrinya itu sudah tidur. Sehingga, Belva memilih untuk meninggalkan kamarnya diam-diam. Pria itu bahkan rela tidak mengenakan alas kakinya, dan berjinjit hanya untuk segera keluar dari kamar.
Setelah itu, Belva menutup pintu kamarnya perlahan-lahan, “Astaga … kenapa aku mengendap-endap seperti ini di rumahku sendiri? Aku layaknya pencuri yang ingin mengambil barang berharga di sini,” gumamnya lirih.
Setelah itu Belva nyaris tertawa, tetapi dia segera menutup mulutnya karena rasanya benar-benar ingin muntah saat itu. Sehingga Belva segera berlari, tujuannya saat ini hanya ada satu yaitu kamar Sara.
Begitu telah sampai di depan pintu kamar Sara, Belva mengetuk pintunya perlahan.
“Sara, Sara … ini aku Belva, kamu sudah tidur?” ucapnya sembari mengetuk pintu itu.
Sementara di dalam kamar, merasa namanya dipanggil, Sara pun segera berdiri dan berjalan gontai membuka pintu itu.
“Pak Belva, ada apa?” tanyanya.
“Izinkan aku masuk sebentar,” ucap Belva.
__ADS_1
Maka dari itu, Sara pun membuka pintu kamarnya lebih lebar dan segera mempersilakan Belva untuk masuk.
Akan tetapi, baru saja Belva memasuki kamar Sara, pria itu segera merengkuh tubuh Sara dan membawa Sara ke dalam pelukannya. Bahkan Belva hingga memejamkan kedua matanya saat memeluk Sara. Rasanya aneh, tetapi yang Belva rasakan saat ini, rasa mual yang mengganggu dirinya benar-benar hilang.
Sementara Sara sendiri, kedua tangannya luruh begitu saja. Dia tidak mampu untuk membalas pelukan Belva yang terlalu erat saat itu. Rasanya Sara nyaris sesak nafas saja, tetapi dia masih berusaha menahannya karena dia pun tidak berani untuk menolak Belva.
“Aku harus mendapatkan obat anti mualku,” ucap Belva kali ini.
Lolosan nafas yang terasa berat dari Belva dapat Sara rasakan. Kendati demikian, Sara masih diam. Benarkan hanya dengan memeluknya, rasa mualnya bisa hilang? Dan anehnya, jika pun dia hamil, mengapa justru dia sama sekali tidak merasakan gejala-gejala kehamilan apa pun.
“Apakah semual itu?” tanya Sara pada akhirnya.
“Lalu, jika sudah seperti ini apakah sudah sehat kembali?” tanya Sara lagi.
Memang kehamilan ini adalah kali pertama baginya dan dia tidak tahu apakah benar, ada pria atau suami yang justru mengalami gejala kehamilan. Untuk itulah Sara memang meyakinkan apakah benar dengan bertemu dan memeluknya rasa mual yang begitu menyeruak itu hilang dengan sendirinya.
Belva kemudian mengurai pelukannya, dan kemudian menatap wajah Sara, “Tidak pernah aku berbohong. Akan tetapi, tidak masalah bagiku asalkan kamu dan buah hati kita sehat,” ucap Belva kini dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Sara lantas mengangguk, “Kenapa aneh ya? Padahal aku biasa saja, sehat banget malahan. Tidak merasakan gejala kehamilan, apakah benar aku hamil?” tanya Sara kini kepada Belva.
“Kamu tidak yakin?” tanya Belva kepada Sara.
Dengan cepat Sara menganggukkan kepalanya, “Iya,” jawabnya singkat.
“Kamu perlu bukti?” tanya Belva lagi.
“Iya,” sahut Sara.
“Oke, besok kita buktikan saja dengan melakukan pemeriksanaan kandungan. Usai aku pulang dari kantor. Kamu mau kan? Supaya kamu benar-benar yakin, dan juga kita tahu berapa usia kehamilan kamu sekarang ini,” jawab Belva.
Akhirnya Sara pun mengangguk, “Baiklah, besok sore aku akan bersiap-siap,” jawab Sara. Sebab, dia pun ingin mendapat jawaban yang pasti bahwa dirinya benar-benar hamil dan ingin memastikan apakah Couvade Syndrom itu benar adanya?
Belva tersenyum kemudian satu tangannya bergerak untuk mengusap puncak kepala Sara, “Kamu sehat kan?” tanyanya kali ini.
“Iya, sangat sehat,” jawab Sara.
__ADS_1
Kemudian Belva menurunkan pandangan matanya, melihat bibir Sara yang merekah layaknya kelopak bunga. Wajah yang dapat riasan dan bibirnya yang tipis dengan warna pink yang natural.
“May i kiss you?” tanya Belva dengan spontan kali ini.