
Malam harinya di meja makan kediaman Belva Agastya, sang CEO sudah kembali ditemani dengan dua istrinya. Anin sebagai istri pertamanya, dan Sara seorang gadis yang dia sewa rahimnya. Sebenarnya Belva ingin segera menyapa Sara dan bertanya banyak hal mengenai aktivitas Sara sepanjang hari ini, tetapi Belva mengurungkannya.
Sama seperti biasa, meja makan besar itu hanya keheningan yang menyelimuti. Seolah masing-masing orang tengah berkutat dengan pikirannya masing-masing. Hingga makan malam yang seharusnya bisa menyenangkan dan dibarengi dengan obrolan justru terasa begitu hambar.
Usai makan malam, Sara memilih untuk memasuki kamarnya terlebih dahulu.
“Kak Anin dan Pak Belva aku duluan ya,” pamitnya kepada Belva dan Anin yang masih bersama di meja makan.
Keduanya sama-sama mengangguk dan tidak membalas dengan satu patah kata pun.
Barulah ketika Sara sudah pergi, Anin menyorot wajah Belva dengan tajam.
__ADS_1
“Kamu kenapa hanya diam, Belva?” tanya Anin perlahan.
Akan tetapi, Belva hanya menggelengkan kepalanya dan wajahnya kembali terlihat lesu, seolah tak ingin menanggapi pembicaraan dengan Anin saat ini.
“Jawab aku, kenapa kamu seperti ini? Kamu tidak suka aku kembali ke rumah ini?” tanya Anin pada akhirnya.
Belva yang semula menunduk pun perlahan mengangkat wajahnya, “Bukankah kamu suka berada di luar rumah ini? Menghabiskan waktu bersama rekan sesama model, bersama fotografer, dan rumah agensimu? Rumah ini dan keberlangsungan rumah tangga ini kan tidak ada harganya bagimu,” ucap Belva pada akhirnya.
Bak tersentak, Anin pun memincingkan matanya menatap Belva, “Dulu, kamu bilang aku bisa terbang tinggi dan mengejar karierku. Target utamanya bisa melenggang di Paris Fashion Week, Bel. Sekarang, seolah kamu ingin aku memotong sayap-sayapku dan berdiam di rumah ini demi keberlangsungan rumah tangga kita. I Love my work, dan aku akan mengejar sampai bisa ke Paris Fashion Week,” sahut Anin dengan tegas.
Anin pun khawatir dengan keadaan Belva yang tiba-tiba muntah seperti ini. Padahal selama beberapa waktu mendampingi Belva, pria itu selalu sehat dan tidak pernah mual dan muntah seperti ini.
__ADS_1
“Mau aku teleponkan Dokter Willy?” tanya Anin pada akhirnya.
Belva menggeleng, “Tidak, tidak perlu … lagipula aku tidak sakit,” jawabnya sembari menepis tangan Anin yang tengah menyentuh bahunya.
Merasa bahwa Belva memang keras kepala, Anin pun memilih diam.
“Bukannya kamu sehat? Kenapa bisa mendadak mual seperti ini?” tanya Anin lagi.
Belva menggelengkan kepala, pria itu justru berjalan memasuki kamarnya dan Anin pun mengekorinya dari belakang.
“Sudah Anin, kamu urusin saja kariermu dan semua aktivitasmu itu. Apa pun yang akan kamu lakukan percayalah aku akan mendukungmu,” ucap Belva kini dengan menunjukkan wajahnya yang datar. Setelah itu, pria itu lebih memilih merebahkan badannya di tempat tidurnya.
__ADS_1
Beberapa kali Belva tampak memejamkan matanya dan memijit pelipisnya. Dalam benaknya, dia harus mendapatkan obatnya sekarang juga. Satu-satunya obat penghilang mual dan muntah yang kini dia hadapi sekarang ini. Akan tetapi tiba-tiba pria itu menyunggingkan senyumannya.
“Kamu nakal ya Nak, kita belum ketemu, tetapi kamu sudah mengerjai Papa sampai mual dan muntah seperti ini,” batinnya dalam hati sembari memejamkan matanya.