
Menikmati malam yang begitu panas, akhirnya Sara dengan mudahnya terlelap di dalam pelukan Belva. Tidak dipungkiri badannya terasa begitu capek, tetapi tidak masalah bagi Sara asalkan bisa memberikan yang terbaik untuk suaminya. Mungkin juga efek puasa Belva yang begitu lama sehingga pria itu seakan tidak pernah bosan untuk menggumuli Sara lagi dan lagi. Seakan dahaganya sama sekali belum terpuaskan.
Ketika tengah malam dan Belva terbangun dari tidurnya. Pria itu mengamati Sara yang meringkuk dalam pelukannya. Belva menarik selimut tebal dan menyelimuti Sara, kemudian pria itu kembali memeluk Sara dalam pelukannya.
“Tidurlah Sayang … kamu pasti capek,” ucap Belva kali ini. Pria itu tersenyum menatap Sara dan kembali memeluk Sara dengan begitu eratnya. Seakan tidak bisa melewati sepanjang malam ini tanpa memeluk Sara.
Seakan mendengarkan gumaman dan pergerakan Belva, Sara pun bergerak. Akan tetapi, wanita itu dengan cepat kembali terlelap dengan dengkuran yang halus terdengar dari hidungnya.
Keesokan paginya, Sara bangun terlebih dahulu. Wanita itu menyingkap selimut yang dia gunakan dan segera menuju ke kamar mandi. Menyegarkan tubuhnya terlebih dahulu. Setelah itu, Sara menuju ke kamar Evan untuk membangunkan putranya itu.
“Pagi putranya Mama,” sapa Sara sembari mengusapi puncak kepala Evan.
“Hmm, pagi Ma,” sahut Evan. Anak berusia 4 tahun itu terlihat menguap sembari mengucek kedua matanya. Evan tersenyum melihat Sara yang saat ini tengah membangunkannya.
“Bangun Nak … sudah pagi. Hari ini kita pulang ke Jakarta yah,” ucap Sara pagi itu.
“Iya Ma … Evan sudah kangen dengan mainan Evan di rumah,” balasnya.
Sara tersenyum, rupanya sudah beberapa hari pergi dari rumah, Evan kangen dengan mainannya di rumah. Tindakan alamiah dari seorang anak yang memiliki aneka mainan di rumah. Sehingga Evan sudah begitu rindu bisa memainkan setiap mainan yang dia miliki.
“Ya sudah … Evan mandi yuk. Mama sudah siapkan air hangat buat Evan. Bisa mandi sendiri kan?” tanya Sara kepada putranya itu.
Tampak Evan yang menganggukkan kepalanya dan tersenyum menatap Sara, “Iya Ma … Evan bisa kok mandi sendiri,” balasnya.
Evan pun segera bergegas ke kamar mandi. Sementara Sara segera membuatkan sarapan untuk putra dan suaminya. Sarapan ala kadarnya saja dengan memanfaatkan bahan yang ada di dalam lemari es. Sehingga pagi itu, Sara membuat Omelette telur, roti bakar, dan juga kopi untuk Belva. Sementara untuk Evan, Sara membuatkan segelas susu vanilla hangat untuk Evan.
__ADS_1
Hampir dua puluh menit berlalu, Belva dan Evan keluar dari kamar mandi dan menuju ke meja makan.
“Pagi Sayang,” sapa Belva sembari melabuhkan kecupan di kening Sara. Kebiasaan pagi seorang Belva Agastya yang selalu mengecup kening Sara di pagi hari. Kegiatan manis yang membuat wajah Sara merona-rona bahagia.
“Pagi Mas,” sahut Sara.
“Pagi Mama,” sapa Evan yang juga sudah duduk manis dan siap menikmati sarapan bersama Mama dan Papanya.
“Pagi Nak,” sahut Sara kepada putranya itu. “Kita sarapan seadanya yah … lagipula usai ini kita juga akan ke bandara,” sahut Sara.
“Iya Mama,” rupanya Evan dan Belva menyahut bersamaan. Papa dan anak itu terlihat begitu kompak. Sontak saja Sara tersenyum melihat interaksi suami dan putranya itu.
Usai sarapan, Sara kembali berkemas dan memastikan tidak ada barang-barangnya yang tertinggal. Setelah itu, mereka bertiga memasuki rumah Mama Diana dan berpamitan dengan keluarga mertuanya itu.
“Iya Belva … sering-sering datang ke mari. Seringlah datang ke Singapura untuk mengunjungi kami berdua,” ucap Mama Diana.
“Sara juga minta pamit ya Ma … terima kasih untuk semuanya,” ucap Sara kali ini sembari memeluk Mama Diana.
“Iya … Mama doakan segera ada kabar baik darimu dan Belva yah. Semoga Evan segera memiliki adik,” balas Mama Diana.
Usai berpamitan, seorang sopir mulai mengantarkan Belva, Sara, dan Evan untuk menuju ke Changi Internasional Airport. Ketiganya pulang ke Jakarta lebih dahulu, sementara Amara dan keluarganya masih tinggal sepekan di Singapura. Belva pulang terlebih dahulu karena akan ada projek property yang akan dikerjakannya bersama dengan Jaya Corp.
Begitu tiba di Changi, mereka segera memasuki ruang keberangkatan dan melakukan boarding. Perjalanan udara masih beberapa jam lagi, tetapi Belva, Sara, dan Evan memilih untuk menunggu di Changi saja. Sembari menunggu boarding, mereka memilih membeli roti lapis Subways yang sering muncul di berbagai drama Korea. Kali ini Sara yang terlihat begitu senang bisa membeli Subway di Singapura.
“Kamu senang sekali Sayang? Dulu di waktu kita ke Korea, kamu tidak membeli ini,” ucap Belva.
__ADS_1
Terlihat Sara yang tersenyum, “Aku sebenarnya di Korea dulu ingin membeli Soju. Hanya saja pasti tidak kamu izinkan,” balas Sara.
Terlihat Belva yang membelalakkan matanya dan menatap ke istrinya itu, “Kamu mau soju? Kamu tidak takut jika mabuk dan aku bisa hilang kendali atasmu?” tanya Belva setengah berbisik di telinga Sara.
Sara pun tertawa, dan memukul dada suaminya, “Isshss, nyebelin banget sih. Mikirnya cuma hilang kendali terus. Kan nyicip sedikit gak apa-apa,” balas Sara.
Akan tetapi, Belva justru terlihat menggelengkan kepalanya, “No, tidak boleh Sayang. Jangan mencoba meminum Soju. Lebih baik minum Frappuccino buatanmu saja,” sahut Belva.
Tentu saja Belva tidak akan mengizinkan Sara untuk mencicipi rasanya minuman alkohol khas negeri Gingseng itu. Sedikit saja Belva tak akan mengizinkan Sara untuk mencicipinya.
“Padahal kan cuma nyicip,” sahut Sara.
Belva kemudian melirik ke arah Sara, “Ya sudah … boleh nyicip. Namun, jika nanti terjadi sesuatu atasmu, jangan salahkan aku,” sahut Belva kemudian.
Obrolan mereka terhenti karena Evan yang menginterupsi untuk kembali ke ruang tunggu.
"Ayo Mama dan Papa kita kembali ke ruang tunggu. Kita makan di ruang tunggu saja," balas Evan kali ini.
Hingga sampai pada akhirnya Sara pun menganggukkan kepalanya dan menggandeng tangan Evan kembali ke ruang tunggu. Di sana Evan tampak lahap menikmati roti lapis pilihannya itu. Sementara Sara memegangi tissue dan siap menyeka mulut Evan yang belepotan.
"Makannya pelan-pelan, Nak," ucap Sara.
"Iya Ma ... cuma ini enak sekali," sahut Evan sembari mengunyah roti lapis di dalam mulutnya.
Belva pun melirik keakraban Evan dan Sara. Sungguh rasanya keduanya saling memiliki satu sama lain. Rasanya Belva benar-benar bersyukur memiliki Evan dan Sara di dalam hidupnya. Dua sosok berharga yang selalu memberikan warna tersendiri dalam hidupnya. Bersama Evan dan Sara, Belva yakin bahwa hidupnya akan kian bahagia. Kini Belva siap membawa pulang istri dan putranya itu untuk kembali ke Jakarta. Ke tempat mereka tinggal. Sekalipun harus berjibaku dengan rutinitas yang begitu padat, kini Belva tidak khawatir lagi karena sekarang dirinya memiliki keluarga yang lengkap yaitu Sara dan Evan.
__ADS_1