
Jika ada orang yang merasa bahwa kehamilan itu begitu menyenangkan, maka Sara adalah salah satunya. Selama kehamilannya, Sara sama sekali tidak merasakan lesu, lemah, bahkan mual dan muntah tidak Sara rasakan. Seakan-akan Tuhan begitu baik karena Sara merasa begitu sehat. Kendati demikian semakin mendekati hari persalinan rasanya kian menegangkan bagi Sara.
Sekarang, tidak terasa usia kehamilan Sara sudah memasuki 37 Weeks. Itu berarti, tidak lama lagi Sara akan segera melahirkan. Hanya menyisakan waktu kurang lebih tiga minggu untuk bisa bertemu dengan bayinya.
"Tidak terasa Nak, kita bisa bertemu ... hanya saja bukan Ibu yang akan memilikimu. Sebab ada Papa Belva dan Mama Anin yang memilikimu," ucap Sara dengan lirih.
Wanita itu meneteskan air matanya sembari mengusapi perutnya. Bayi yang bersemayam dalam rahimnya selama hampir 40 minggu, nyatanya kepemilikannya harus diserahkan kepada Belva dan Anin. Apakah hatinya hancur? Tentu saja. Hanya saja, di hadapan Belva dan Anin, Sara tetap berusaha untuk kuat dan menjalani semuanya dengan kerelaan.
Setelahnya, Sara bergerak mengambil handphonenya karena terdapat pesan yang masuk ke dalam aplikasi pesannya. Wanita itu mulai menyeka air matanya, dan membaca setiap pesan yang masuk, rupanya dari Belva.
[To: Sara]
[Nanti sore kita berdua akan kembali periksa kehamilanmu, ya...]
[Kamu ingat kan ini saatnya periksa?]
[Bersiaplah. Seperti biasa, usai pulang dari kantor, aku akan menjemputmu.]
Sara hanya menatap datar setiap pesan dari Belva. Wanita itu akhirnya memilih mandi, menyegarkan dirinya, dan bersiap-siap untuk memeriksakan kandungannya ke Rumah Sakit bersama Belva.
Kurang lebih selama 20 menit, Sara bersiap. Tidak lupa, Sara menyiapkan buku pemeriksaan kehamilannya supaya tidak tertinggal.
Menjelang setengah lima sore, Belva datang dan menjemput Sara.
"Sara, bisa kita berangkat sekarang?" tanya Belva kemudian.
Sara pun segera membuka pintu kamarnya, wanita itu tersenyum dan mengikuti Belva untuk keluar.
"Sudah membawa buku pemeriksaanmu?" tanya Belva.
__ADS_1
"Iya, sudah kubawa, Pak," jawabnya.
Belva kemudian mengangguk, pria itu lantas menaruh satu tangannya di pinggang Sara, dan satu tangan meraih tangan Sara berniat membantu Sara menuruni anak tangga.
"Hati-hatilah," ucap Belva dengan lembut.
Sara pun mengangguk samar, "Makasih Pak," jawabnya.
Setelahnya keduanya sama-sama keluar dari kediaman Belva, memasuki mobil, dan segera bergegas ke Rumah Sakit. Dalam perjalanan beberapa kali keduanya terlibat obrolan, tertawa bersama, sekali pun perasaan dalam hati mereka tidak terucap dan terungkap, tetapi keduanya rupanya bisa saling akrab dan hangat satu sama lain.
Hingga tidak terasa, mereka telah tiba di Rumah Sakit. Belva pun tak ragu melingkarkan tangannya ke pinggang Sara, "Hati-hati saja jalannya, kandungan kamu kian besar," ucapnya kali ini.
"Iya Pak, lagipula aku kan juga tidak lari-lari," balasnya sembari tertawa.
"Kamu bisa saja," sahut Belva dengan cepat.
"Selanjutnya ... pasien antrian ke 7, Ibu Sara Valeria silakan," ucap seorang perawat yang mempersilakan Sara memasuki ruangan Dokter Indri.
Sara dan Belva pun kemudian berdiri dan memasuki ruangan Dokter Indri bersama-sama.
"Selamat sore Dokter ...," sapa Sara dan Belva bersama.
"Sore Bu Sara dan Pak Belva. Bagaimana kabarnya?" respons Dokter Indri dengan ramah.
"Baik Dok," sahut keduanya hampir bersamaan.
Setelahnya Dokter Indri mulai mencatat tanggal pemeriksaan di dalam Buku Catatan Kehamilan milik Sara, menilik beberapa catatannya di sana. Setelah itu, Dokter Indri kembali berbicara.
"Wah, kalau sesuai dengan catatan ini sudah 37 Weeks. Artinya waktu bersalin kian dekat yah?" ucapnya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Dokter Indri, Sara pun kemudian mengangguk, "Iya Dok ... tidak terasa sudah memasuki 37 Weeks," jawabnya.
Dokter Indri pun tersenyum, "Benar Bu ... kehamilan jika dijalani dengan rasa bahagia itu rasanya berjalan begitu cepat. Baik, sekarang kita lakukan pemeriksaan dengan USG yah," ucap Dokter Indri.
Sara kemudian menaiki brankar, dan USG Gell diberikan di permukaan kulit perutnya. Sementara, Dokter Indri juga sudah bersiap dengan transduser di tangannya.
"Ya, usia kehamilan Bu Sara sekarang ini 37/38 minggu. Artinya waktu bersalin kian dekat ya Bu. Saya harap nanti Bu Sara kian peka dengan tanda-tanda datangnya persalinan seperti perut mules, pangkal paha yang terasa panas, pinggang yang terasa sakit dan nyeri. Sebab, persalinan bisa terjadi kapan saja. Bisa sebelum Hari Perkiraan Lahir (HPL) atau lewat dari HPLnya." Dokter Indri memberikan penjelasannya.
Setelahnya, Dokter Indri kembali menggerakkan transduser di perut Sara. Mulai mengukur ukuran kepala, panjang bayi, letak plasenta, hingga denyut jantung bayinya.
"Sekarang panjang baby dari kepala hingga kaki kurang lebih 48 centimeter. Beratnya sudah mencapai 3,2 kilogram. Jadi lebih baik mengurangi asupan karbohidrat dan gula ya Bu," jelas Dokter Indri lagi.
Sara pun mengangguk, "Bagaimana dengan posisi bayinya, Dok?" tanya Sara kini.
Dengan menanyakan posisi bayinya, Sara bisa tahu apakah nanti bisa melahirkan secara normal atau Caesar. Untuk itu, Sara pun bertanya kepada Dokter Indri.
"Bayi sudah masuk ke dalam panggul ya Bu. Plasenta juga tidak menutupi jalan lahir, jadi kalau Ibu mau melahirkan secara normal sangat bisa. Ini kepalanya sudah di bawah. Saya sarankan Ibu dan Bapak bisa melakukan hubungan suami istri yang bisa membuka jalan lahir lagi dan memberikan pacuan kontraksi. Hanya saja hindari mengeksplorasi area dada," jelas Dokter Indri.
Rasanya Sara kesusahan meneguk salivanya saat ini. Sudah sekian bulan berlalu dan dia sama sekali tidak berhubungan badan lagi dengan Belva. Sementara sekarang Dokter Indri justru menyarankan untuk melakukan hubungan suami istri yang bisa mempercepat persalinan nanti.
"Jadi Bu Sara mau melahirkan normal atau Caesar?" tanya Dokter Indri kini kepada Sara.
Wanita itu tampak menghela nafasnya perlahan dan mulai menjawab pertanyaan Dokter Indri, "Saya ingin mencoba melahirkan secara normal, Dok."
Ya, Sara menjawab dengan yakin. Dia memang ingin melahirkan secara normal.
Dokter Indri pun tersenyum, "Baik Bu... berarti Ibu lebih peka dengan berbagai tanda-tanda persalinan yang tadi sudah saya jelaskan. Jika merasa kontraksi dengan interval yang lebih sering, Ibu dan Bapak bisa ke Rumah Sakit, nanti saya sendiri yang akan mendampingi Bu Sara melahirkan," jelas Dokter Indri.
Belva dan Sara pun mengangguk, berharap bahwa beberapa minggu waktu yang tersisa bisa benar-benar dimanfaatkan dengan baik. Menyambut kelahiran babynya dengan penuh sukacita. Menjalani waktu bersalin dengan siap dan berharap bahwa putranya nanti akan sehat, selamat, dan juga sempurna. Ya, itulah yang Sara harapkan.
__ADS_1