Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Interaksi Dingin


__ADS_3

“Papa, pulang nanti saja yah … Evan masih mau sama Tante. Tantenya baik, Evan suka,” ucap Evan lagi.


Perlahan Belva mengangkat wajahnya, hingga matanya kini dengan leluasa bisa menatap Sara yang duduk di hadapannya, bahkan Evan masih bergelayut manja di lengan Sara. Melihat pemandangan seperti tentu langka, dalam empat tahun baru kali ini Belva melihat Evan bergelayut manja di tangan Sara.


“Mau kembali ke hotel jam berapa Van? Hari sudah semakin malam dan gerimis di luar,” ucap Belva.


“Evan maunya sama Tante Sara,” balas Evan.


Tiba-tiba Evan justru merebahkan dirinya di kursi sofa yang dia duduki dan menggunakan paha Sara sebagai tempat menaruh kepalanya. Bahkan Evan pun tertawa-tawa sendiri sendiri.


Bahkan secara refleks Sara pun mengusapi puncak kepala Evan, hingga perlahan Evan justru memejamkan matanya dan tertidur di pangkuan Sara. Sementara Belva dan Sara masih sama-sama diam. Tepatnya sesungguhnya mereka tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Lamanya waktu yang sudah berlalu membuat keduanya mendingin.


Hingga perlahan, Belva menatap Sara dalam diam.


“Bagaimana kabarmu Sara?” tanya Belva perlahan.


“Baik,” sahut Sara dengan singkat.


“Sudah lama waktu berlalu,” ucap Belva lagi.


“Hmm, iya,” sahutnya.


Menyadari bahwa komunikasi mereka berdua terasa begitu dingin, Belva lantas kembali menunduk dan melihat Evan yang sudah terlelap di pangkuan Sara. Mungkin juga karena bermain di Kebun Raya Bogor membuat Evan kecapekan, hingga tidak membutuhkan waktu lama, Evan pun tertidur.


“Dia Evan, Sara … Evan kamu,” ucap Belva kemudian.


Mendengar bahwa Belva mengatakan bahwa Evan adalah miliknya, Sara seakan membisu. Tentu dia tahu bahwa Evan adalah putranya, tetapi kenyataan pahit yang terjadi sekarang ini, justru putranya itu memanggilnya Tante dan bukan Bunda.


“Aku dan Anin memang selalu menceritakan kamu kepadanya, tetapi karena tidak bertemu secara langsung. Dia mengira kamu adalah orang lain,” jelas Belva.

__ADS_1


Lagipula begitulah ingatan anak-anak. Sekali pun orang tua sudah selalu memberitahukan yang sebenarnya, tetapi rupanya Evan tidak mengenali Sara sebagai Bundanya. Akan tetapi, melihat kedekatan Evan dengan Sara sekarang ini, Belva yakin bahwa melihat Sara membuat Evan tergerak hatinya. Sebab, biasanya begitu sukar akrab dengan orang lain, terlebih orang yang baru saja dia kenal. Akan tetapi, sekarang nyatanya dia justru dengan jujur mengatakan bahwa dia menyukai Sara. Jika bukan hati yang berbicara dan tergerak, maka semua itu tidak akan terjadi.


“Tidak apa-apa,” ucap Sara pada akhirnya.


Di sini pun Sara terlihat begitu dingin menanggapi setiap perkataan Belva. Sebab, Sara sendiri pun tidak mengira akan bertemu dengan Belva dan Evan secara tiba-tiba. Sara lebih memilih menatap wajah Evan yang terlelap di pangkuannya.


“Apa Coffee Bay ini punyamu?” tanya Belva perlahan.


“Iya,” sahut Sara singkat.


Belva tampak menghela nafasnya, rupanya meluluhkan Sara tidaklah mudah. Bahkan berkali-kali dia berusaha membuka obrolan, jawaban Sara hanya begitu singkat.


“Aku senang karena kamu berhasil dalam hidupmu. Ketahuilah Sara, bahwa aku selalu berdoa untukmu siang dan malam. Kini, melihatmu seperti ini rasanya aku begitu bahagia,” balas Belva.


Setidaknya Belva ingin mengungkapkan perasaannya secara implisit kepada Sara bahwa tanpa Sara ketahui Belva selalu berdoa untuknya dan berharap Sara akan selalu bahagia. Sekarang, melihat Sara di hadapannya dengan keadaan yang seperti ini membuat Belva bahagia.


“Terima kasih sudah mendoakanku,” balas Sara.


Deg!


Rasanya jantung Sara kian berdebar-debar seperti ini. Untuk apa Belva mengatakan kepadanya bahwa dia selalu menyebut namanya dalam setiap doanya. Mengetahui bahwa pria dari masa lalunya mengatakan hal tersebut, seakan Sara tengah menghadapi sosok Belva yang lain. Dulu, Belva seakan paling susah mengutarakan perasaannya, tetapi sekarang bahwa pria itu dengan mudah mengatakan bahwa dia selalu menyebut namanya dalam doanya.


Melihat Sara yang masih diam dan tidak memberikan respons. Belva lantas melihat ke Evan yang masih terlelap di pangkuan Sara.


“Evanmu tumbuh menjadi anak yang sehat dan bahagia, sama seperti keinginanmu kan? Aku heran, dia biasanya sukar untuk dekat dengan orang yang baru saja dia temui. Akan tetapi, dengan begitu mudahnya dia melekat denganmu. Ikatan hati dan darah tidak bisa dibohongi kan?” ucap Belva.


Perlahan Sara kembali melihat wajah Evan yang terlelap dengan begitu damai, lantas Sara berpikir benarkah Evan sukar untuk dekat orang baru, tetapi bukankah Sara pun orang baru baginya. Selama 4 tahun, mereka sama sekali tidak bertemu. Bahkan Sara melihat bagaimana wajah Evan setelah dewasa pun tidak.


“Rupanya memang seperti itu,” sahut Sara.

__ADS_1


“Jadi Frappuccino itu buatan kamu yah?” tanya Belva lagi.


“Apa?” tanya Sara.


“Tadi siang waktu rapat aku mendapatkan segelas cup Frappuccino dengan Whipe Cream, rasanya benar-benar autentik dan melekat di lidahku. Baru saja aku ingin mencari Coffee Bay sebagaimana yang tercetak di gelas itu. Rupanya justru Evan yang membawaku terlebih dahulu ke sini,” ucap Belva.


Sara agaknya benar-benar tidak mengenali Belva yang sekarang ini. Sebab, di hadapannya sekarang Belva menjadi pribadi yang lebih banyak bicara. Dulu, Belva adalah orang yang berbicara singkat dan berwajah datar, tetapi sekarang pria itu justru sudah mengucapkan ratusan kalimat padahal mereka baru saja bertemu.


Belva lantas melirik jam di pergelangan tangannya, lagipula hari sudah gelap, sudah waktunya untuk beristirahat. Belva berusaha berdiri dan menepuk kaki Evan.


“Evan … Evan, kita kembali ke hotel yuk Sayang … sudah malam sekali, waktunya untuk istirahat,” ucap Belva.


Akan tetapi, Evan justru kian terlelap dan menghiraukan tepukan tangan Papanya dan suara sang Papa yang membangunkannya.


Merasa bahwa Evan tidak menyahut, Belva lantas kembali mengulangi kegiatannya untuk membangunkan Evan.


“Evan … Evan, yuk kita pulang yuk Nak, kasihan Bunda harus istirahat juga,” ucap Belva kali ini.


Mendengar bahwa Belva menyebut dirinya sebagai Bunda, mata Sara kembali berkaca-kaca. Tidak mengira Belva akan mengucapkan panggilan itu kepada Evan sekarang ini juga.


“Tolong Sara, bangunkan dia … ini sudah malam. Kamu juga harus beristirahat,” ucap Belva pada akhirnya.


Perlahan Sara pun menganggukkan kepalanya, dia dengan lembut mengusapi puncak kepala Evan tentunya dengan penuh kasih sayang.


“Evan, Evan … bangun dulu yuk Nak, sudah malam Nak … Yuk, Evan pinter kan bangun dulu yuk,” ucap Sara kali ini.


Rupanya Evan pun mengerjap, dan dia justru menggenggam satu tangan Sara.


“Evan maunya sama Tante … Evan suka sama Tante,” ucapnya sembari menahan matanya yang terasa begitu berat.

__ADS_1


“Pulang dulu Nak … sudah malam,” ucap Sara kali ini.


Sejujurnya dia begitu senang bisa menghabiskan banyak waktu bersama Evan, tetapi hari ini sudah malam dan Evan juga membutuhkan istirahat.


__ADS_2