Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Keterkejutan


__ADS_3

“Mas,” sapa Sara dengan lirih begitu masuk ke dalam ruangan milik suaminya itu.


Belva tampak mengerjap dan kemudian menatap Sara. “Sayang, kamu datang?” tanyanya dengan masih memperhatikan Sara.


Akan tetapi, saat ini pandangan Sara justru fokus kepada hal yang lain. Tentu saja kepada wanita yang tadi tengah berusaha memegang-megang bagian dada suaminya. Tentu saja Sara merasa sangat terkejut. Tidak menyangka dengan apa yang terjadi di hadapannya sekarang ini.


Menyadari arah pandangan Sara, kemudian Belva kembali bersuara, “Dia sekretaris baruku, Sayang … tadi dia sengaja menumpahnya kopi ini dan membuat kemejaku basah dan kotor,” ucap Belva.


“Maafkan saya Bu,” ucap Anisa yang kini berdiri dengan tegang dan menundukkan wajahnya.


Namun kali ini, Sara hanya diam. Mengapa perasaannya menjadi tidak enak seperti ini. Mungkinkah itu karena dirinya tengah hamil atau memang dirinya cemburu dan mulai ragu dengan kesetiaan Belva.


“Nisa, kamu silakan keluar. Ingat, jangan sembrono seperti ini,” ucap Belva kali ini. Sang CEO itu mengingatkan kepada sekretarisnya supaya tidak bersikap sembrono seperti menumpahkan kopi seperti sekarang ini.


Anisa kemudian menganggukkan kepalanya, “Ma … Maafkan saya Pak,” ucapnya. Kemudian sekretaris itu pergi dari ruangan Belva.


Sepeninggal Anisa, kemudian Belva berjalan mendekati Sara dan hendak menyambut kedatangan istrinya itu. Akan tetapi, nyatanya kali ini Sara bersikap diam dan seolah tak merespons Belva.


“Kamu marah?” tanya Belva kemudian.


“Apa setiap hari seperti ini?” tanya Sara kepada suaminya itu.


Kemudian Belva mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Sara, “Tidak seperti yang kamu kira. Hanya saja, dia tidak sengaja menumpahkan kopi hingga mengenai kemejaku,” ucap Belva.


Seakan kali ini, Belva ingin meyakinkan Sara dan juga mengatakan bahwa apa yang Sara lihat tidak seperti yang dia sangka. Menurut Belva, memang Anisa datang untuk menyiapkannya kopi. Akan tetapi, kemudian keseimbangan Anisa goyah dan wanita itu akhirnya menumpah kopi hingga mengenai kemeja Belva. Itulah yang terjadi sebenarnya.

__ADS_1


“Sebentar yah … aku berganti baju dulu,” ucap Belva.


Akan tetapi, melihat Sara yang masih diam dan sama sekali tidak merespons, kemudian Belva menggandeng tangan Sara mengajaknya untuk menuju ke kamar mandi yang berada di dalam ruangan kerjanya dan kemudian mengganti kemejanya yang basah. Sara hanya berdiri dan enggan bertatap mata dengan suaminya itu.


“Sudah selesai,” ucap Belva begitu telah selesai berganti kemeja.


Pria itu kembali menggandeng tangan Sara dan mengajaknya duduk di sofa yang berada di depan meja kerjanya itu.


“Kamu marah? Maaf Sayang … hanya saja aku tidak berbohong, yang terjadi sebenarnya memang seperti itu,” sahut Belva.


Untuk lebih meyakinkan istrinya bahwa dirinya memang tidak berbohong sama sekali kemudian Belva mengambil tablet di mejanya. Membuka aplikasi yang terhubungan dengan rekaman CCTV dan menunjukkannya kepada Sara.


“Lihatlah sendiri … aku sama sekali tidak berbohong, Sayang,” ucap Belva.


Mata Sara pun perlahan mulai melihat rekaman CCTV itu. Kemudian memang terlihat jelas di sana bahwa Anisa yang tiba-tiba kehilangan keseimbangannya dan kemudian menumpahkan kopi hingga mengenai kemeja Belva. Setelah melihatnya pun Sara seakan lega, karena suaminya tidak seperti pria lain yang dia pikirkan baru saja. Sara pikir, terjadi sesuatu antara Belva dengan sekretarisnya.


Namun, hanya Sara justru kali ini Sara meneteskan air matanya. Perasaannya menjadi campur aduk rasanya, di saat dirinya mencurigai suaminya, di sisi lain juga dirinya tidak rela ada wanita lain yang meraba-raba suaminya walaupun itu dengan alasan karena kopi yang tercurah.


Melihat Sara yang menangis, Belva pun segera mencerukkan wajah istrinya itu ke dalam dadanya. “Kok malahan nangis … pertama kali ke kantor suaminya malahan nangis kayak gini sih,” ucap Belva sembari mengusapi puncak kepala Sara. Sesekali Belva juga menundukkan wajahnya dan mengecupi puncak kepala Sara. Berusaha menenangkan istrinya itu terlebih dahulu.


“Kamu jahat,” ucap Sara dengan terisak.


Air matanya yang tadi hanya berlinangan, kini nyatanya justru membuat Sara benar-benar terisak. Mungkin karena mood swing yang terkena dialami wanita hamil yang membuat Sara begitu sedih saat ini.


“Maaf,” ucap Belva.

__ADS_1


Belva kemudian mengurai wajah Sara, pria itu berusaha menyeka air mata yang berlinangan dari pipi istrinya dengan ibu jarinya. Kemudian pria itu menarik dagu Sara, memberikan pagutan yang lembut di bibir istirnya itu. Tidak peduli bagaimana istrinya terisak, tidak peduli dengan air mata istrinya yang berlinangan. Saat ini yang Belva pikirkan adalah cara untuk menenangkan istrinya itu.


Tangan Belva bergerak dan memberikan belaian di sisi wajah Sara, pria itu menekan gerakan bibirnya, dan begitu lembut melu-mat bibir Sara. Mencecap semua rasa yang tersaji di sana. Bahkan menyesap lipatan bibir bawah Sara dengan perasaan yang menggebu dan juga berharap bisa menenangkan istrinya itu.


Isakan yang semula membuat Sara menangis, kini tangisannya tiba-tiba reda. Sara seakan justru larut dalam buaian bibir yang dimulai oleh suaminya itu. Buaian bibir Belva yang benar-benar memabukkan dan membuatnya melayang.


Melihat isakan Sara yang sudah reda, kemudian Belva menarik wajahnya dan kemudian mengusap lipatan bibir bawah Sara.


“Jangan menangis lagi. Ibu hamil gak boleh bersedih, Ibu hamil harus bahagia. Aku kan sudah berjanji kalau aku benar-benar memasrahkan diriku dan hatiku hanya untukmu,” ucap dengan sungguh-sungguh.


Seakan kecurigaan Sara telah reda, kemudian wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya dan juga melingkarkan tangannya di pinggang suaminya itu.


“Jangan deket-deket sama cewek. Aku enggak suka,” ucap Sara kemudian.


Pria yang sedari tadi menatap lekat wajah istrinya itu kemudian tersenyum, “Iya Sayang … jadi, kamu cemburu?” tanya Belva kemudian.


“Menurutmu?” sahut Sara dengan cepat.


Belva seakan gemas dan langsung memeluk tubuh istrinya itu, “Ya sudah … penting jangan menangis lagi. Jangan bersedih lagi. Aku janji bahwa hanya kamu pemilik hati, tubuh, dan hidupku. Hanya kamu saja,” balas Belva dengan sungguh-sungguh.


Sara menganggukkan kepalanya, kemudian dia mengurai wajahnya dari dada suaminya. “Aku datang dan bawakan masakan buat kamu,” balas Sara kemudian.


“Mana Sayang? Aku laper banget. Untung Istriku ini datang di saat yang tepat," jawab Belva.


Rupanya ini adalah sidak mendadak dari istrinya. Hanya saja memang waktunya yang tidak tepat. Hanya saja, kejadian yang terjadi baru saja justru membuat Sara hingga curiga dan menangis. Sungguh, Belva merasa lega karena sekarang ini Sara sudah tidak lagi curiga padanya dan juga sudah memaafkannya.

__ADS_1


Akan tetapi, justru Sara tampak mengernyitkan keningnya menatap suaminya itu, "Kalau suatu hari kamu berlaku serong, aku tidak mau lagi, Mas," ucap Sara dengan kemudian. Seakan ucapan layaknya sebuah ancaman bagi Belva hingga Belva bergidik ngeri mendengarnya.


__ADS_2