
Dengan mengemudikan mobilnya sendiri, Belva membelah hiruk-pikuk lalu lintas kota Jakarta. Pria itu fokus untuk mengemudi, selain itu Belva juga rasanya ingin segera tiba di rumah bersantai sore bersama dengan Sara dan juga Evan. Agaknya memang kondisi yang sangat berbeda, di mana Sara yang tengah hamil merasa sehat dan baik-baik saja. Justru Sara tidak merasakan ngidam yang berlebihan, hal yang berbanding balik justru ditunjukkan Belva yang seakan tidak bisa jauh-jauh dari Sara. Rasanya hanya ingin menempel dengan sang Istri.
Walaupun demikian, Belva masih mengingat ucapan Sara untuk bisa membagi waktu dan perhatiannya untuk Evan. Jangan sampai Evan merasakan diabaikan karena calon adiknya. Untuk itu, Belva juga banyak memberikan waktu untuk Evan. Sampai pada akhirnya, berkendara kurang lebih setengah jam kini Belva telah sampai di rumah. Kurang lebih jam 15.00, Belva sudah tiba di rumahnya. Begitu memasuki rumah, rupanya rumah tampak sepi. Kemudian Belva lebih memilih melihat ke kamar Evan terlebih dahulu.
Begitu membuka kamar Evan, rupanya putranya itu masih tidur. Untuk itu, Belva pun segera menuju kamarnya sendiri yang tidak jauh dari kamar milik Evan. Pria itu membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Begitu membuka pintu, rupanya Sara tengah menonton televisi, dengan menggenggam remote di tangannya.
“Sayang, baru ngapain?” tanya Belva begitu memasuki kamar.
“Loh, kok sudah pulang Mas?” tanya Sara dengan cukup kaget. Sebab, sekarang belum waktunya jam pulang kerja, tetapi suaminya itu sudah berada di rumah.
Pria itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya perlahan, “Iya, aku kangen kamu,” balas Belva. “Boleh minta cium?” tanya Belva kepada istrinya itu.
Akan tetapi Sara dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Sampai rumah, mandi dulu Papa … jangan asal minta cium,” balas Sara dengan gerakan tangan yang seolah mengusir suaminya itu untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Belva pun tertawa, pria itu rupanya cukup taat dengan istrinya, sehingga Belva bergegas ke kamar mandi. Membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, setelah bersih, segar, dan wangi tentunya, Belva pun bergabung dengan Sara yang duduk di sudut sofa dan melihat siaran televisi itu.
“Sini,” ucap Belva mengisyaratkan kepada Sara untuk masuk ke dalam pelukannya. Tentu saja Sara senang karena suaminya itu ingin memeluknya.
Sara pun beringsut, dan segera masuk dalam pelukan suaminya. Wanita itu mencerukkan wajahnya ke dada Belva dan menghirupi aroma Sandal Wood yang segar, parfum maskulin yang begitu disukai Sara itu.
__ADS_1
“Wangi banget sih,” gumam Sara.
“Wangi dong … lagian aku selalu wangi kok,” balas Belva dengan percaya diri.
Sara hanya tersenyum, menikmati pelukan hangat suaminya, mendengarkan detak jantung suaminya yang berdetak seirama, serta aroma Sandal Wood yang sangat segar dan menenangkan.
“Tumben sih Mas, jam segini udah pulang? Emang gak apa-apa tuh pulang duluan?” tanya Sara.
Belva pun menganggukkan kepalanya, “Iya, gak apa-apa dong. Kan aku yang punya perusahaan itu. Jadi ya tidak apa-apa sesekali pulang duluan. Habis gimana lagi, Sayang. Aku kerja gak bisa konsentrasi, selalu ingat kamu. Pengen peluk dan cium kamu,” balas Belva.
Sara hanya bisa tergelak dalam tawa mendengar perkataan suaminya yang terdengar begitu percaya diri itu. Kemudian Sara menengadahkan wajahnya, guna menatap wajah suaminya.
“Padahal dulu kamu itu seperti beruang. Ekspresi kamu seperti apa, perasaan kamu seperti apa, tidak ada yang tahu. Layaknya beruang kutub yang menghabiskan hidup kamu di kutub utara. Begitu dingin, sampai rasanya tak tersentuh. Sekarang, aku bisa berbicara manis seperti ini,” balas Sara.
Mendengar ucapan Sara, nyatanya Belva justru tertawa. Pria itu mencubit ujung hidung Sara. “Kamu ini … nyamain suami sama beruang sih. Emangnya aku salah satu dari We Bare Bear?” sahut Belva dengan memincingkan matanya.
“Bukan gitu … cuma kamu dulu itu dingin, tertutup, tanpa ekspresi. Sekarang kamu sudah benar-benar berubah. Mungkin ketebalan es di kutub utara sana juga turut mencair seiring dengan perubahanmu,” balas Sara.
“Aku bela-belain pulang loh. Kangen kamu, malahan suaminya disamakan sama beruang, tapi gak apa-apa sih … aku kangen dan cinta sama kamu. Mau gimana lagi,” balas Belva.
__ADS_1
Wajah Sara kembali menengadah, wanita itu kemudian mencuri beberapa kecupan di pipi suaminya. “Aku juga cinta sama kamu, Pak Belvaku,” balas Sara.
Rasanya ingin bernostalgia dengan kembali menyebut panggilan Sara yang dahulu yaitu Pak Belva. Mendengar Sara memanggilnya demikian, Belva pun melirik dan pria itu segera mencumbu bibir Sara, tidak memberikan kesempatan bagi Sara untuk membela diri. Sebab, saat bibir Belva memagut bibir Sara, Belva benar-benar menekan pergerakkan, membawa ujung lidahnya untuk menekan dan menyapa permukaan bibir Sara, bahkan pria itu memberikan gigitan di bibir Sara, lidahnya menyeruak masuk dan membelit lidah Sara.
Beberapa saat cumbuan panas itu berselang, sampai pada akhirnya, Belva menarik wajahnya dan kemudian menatap dengan lekatnya wajah Sara yang merona di sana. Dengan lipatan bawah bibir Sara yang sedikit bengkak karena ulahnya, “Kalau kamu panggil aku Pak Belva, aku cium kamu habis-habisan,” jawab Belva.
Ya Tuhan, mendengarkan ucapan Belva itu membuat Sara merasa merinding. Ucapan suaminya itu justru terdengar layaknya sebuah ancaman baginya.
“Jahat banget sih,” balas Sara.
“Hukuman terenak itu, Sayang … lebih dari ciuman, aku juga gak masalah,” balas Belva lagi.
Kemudian Belva memeluk tubuh Sara dengan begitu eratnya, mengusapi puncak kepala Sara dengan lembut. “Sudah, jangan ngambek … aku pulang cepat karena aku rindu kamu. Aku gak tahan jauh-jauhan dari kamu. Sayang, kenapa aku malahan jadi seperti ini. Baru saja tiba di kantor, aku sudah kepikiran untuk pulang. Aku gak bisa deh jauh-jauh dari kamu,” ucap Belva dengan jujur kali ini.
“Bucin,” respons Sara dengan singkat.
“Iya … kamu yang bikin aku jadi bucin. Namun, tidak apa-apa. Bucin sama istri sendiri kan enggak salah. Tumben juga Evan masih tidur, jadi Mama dan Papanya bisa santai berdua seperti ini,” balas Belva.
Kemudian Sara melihat jam analog di handphonenya, “Paling setengahan jam lagi Evan bangun sih. Rutinitasnya Evan kan teratur, Mas. Nanti main sebentar habis itu mandi sore, terus nanti main-main, makan malam, dan tidur lagi. Kamu Papa yang hebat loh Mas, karena kamu bisa membentuk rutinitas pada Evan yang masih kecil. Di saat anak seumuran Evan kegiatannya masih random, tetapi Evan sudah bisa rutin dan tertata,” ucap Sara kali ini.
__ADS_1
Perlahan Belva pun menganggukkan kepalanya, “Itu karena aku orang juga begitu. Aku mempraktikkannya ke Evan,” balas Belva.
Hingga akhirnya, sore itu Sara dan Belva banyak berbicara mengenai hubungan mereka dan juga Evan. Sara lebih banyak mendengarkan bagaimana Belva bisa menjadi Papa yang baik untuk Evan dalam dua tahun terakhir. Membesarkan Evan sendirian dan juga mengajarkan rutinitas yang baik bagi Evan.