Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Menyalahkan Diri Sendiri


__ADS_3

Menyadari begitu lemahnya kondisi Sara saat ini, Belva seakan merutuki dirinya sendiri. Mungkin Sara menjadi sakit seperti ini karena dirinya yang kurang perhatian kepada Sara.


Pria itu menatap Sara dengan rasa bersalah yang lebih mendominasi sekarang ini.


"Maafkan aku ya Sayang … semua ini pasti gara-gara aku," ucap Belva sembari menggenggam erat tangan Sara.


Ya, Belva merasa bahwa dirinya begitu salah. Seharusnya dia tetap memberikan perhatian kepada Sara yang tengah hamil. Seharusnya dia tidak abai begitu saja saat pekerjaannya sedang banyak-banyaknya. Ada banyak hal yang Belva sesali sekarang ini.


"Tidak Mas, mungkin aku yang memang sakit," balas Sara dengan suaranya yang masih lemah.


"Kamu pasti kecapekan mengurus Evan sendiri. Kamu juga stress berlebih selama aku lembur dan menyelesaikan pekerjaan sana-sini. Maaf yah," ucap Belva lagi.


Ada gelengan kepala dari Sara, "Tidak. Jangan menyalahkan diri sendiri. Mungkin memang aku aja yang baru sakit dan mendadak tekanan darahku rendah dan kekurangan kalium," jawab Sara.


Sebab, Sara sama sekali tidak menyalahkan suaminya itu. Dia bisa memahami dan menerima Belva. Termasuk dengan pekerjaan suaminya itu yang begitu banyak. Sara juga bisa menghandle pengasuhan Evan. Sama sekali Sara tidak menyalahkan suaminya itu. Kali ini Sara lebih mengedepankan untuk berpikir logis daripada mengedepankan hatinya. Jika menggunakan hati, yang ada pasti Sara merasa terabaikan oleh suaminya sendiri saat pekerjaan suaminya sedang banyak-banyaknya.


"Tapi, Sayang," balas Belva.


Dengan cepat Sara menggelengkan kepalanya dan menutup bibir suaminya itu dengan telapak tangannya. "Enggak Mas, memang aku yang sedang sakit dan kondisiku kurang baik saja. Jangan menyalahkan diri sendiri. Kamu bekerja keras buat aku, Evan, dan baby kita juga. Apa yang sudah kamu lakukan sudah tepat. Selain itu ada ratusan karyawan yang menggantungkan hidupnya kepadamu. Jadi, kamu itu seorang CEO yang keren," balas Sara yang menguatkan hati suaminya itu.


Belva menghela nafas dan menatap wajah Sara.


"Makasih Sayang, hanya saja aku merasa semua ini gara-gara aku. Padahal niatku, aku mau menyelesaikan semuanya dulu, setelah itu aku akan meluangkan waktuku untukmu dan Evan. Aku akan menebus semuanya. Akan tetapi, justru sekarang ini kamu sakit, aku jadi merasa semakin bersalah," balas Belva.


"Mas, cuma nanti minta tolong ke Dokter supaya aku bisa bilang usai cairan infus ini habis. Evan pasti menungguku," pinta Sara kali ini kepada Belva.

__ADS_1


Pria itu pun menatap wajah Sara dan tangannya menggenggam tangan Sara yang lepas dari jarum infus.


"Kenapa tidak di sini dulu? Kamu bisa fokus untuk pemulihanmu. Kalau di rumah, Evan pasti menempel denganmu," balas Belva. Setidaknya Belva mengatakan kenyataan, bahwa jika Sara di rumah yang ada justru Evan akan selalu menempel dengan Mamanya itu.


"Aku kangen Evan … tidak tega meninggalkan dia dalam keadaan menangis seperti tadi," balas Sara.


Rasa keibuannya begitu mendominasi. Sebatas melihat tangisan Evan saja membuat Sara merasa tidak tenang. Lagipula, Evan bisa memahami bahwa dirinya kurang sehat dan harus bedrest.


"Jangan pikirkan Evan … fokus sama pemulihanmu dulu," pinta Belva kali ini kepada Sara.


Kali ini Belva meminta kepada Sara untuk fokus pada pemulihan dirinya sendiri. Akan tetapi, sebagai seorang Ibu sekalipun mereka sakit, ibu akan tetap peduli dengan anaknya. Begitu juga dengan Sara. Sekalipun tubuhnya begitu lemas, tetapi bayang wajah Evan selalu ada di matanya.


"Kamu istirahat dulu yah, aku tungguin di sini," ucap Belva lagi.


"Sakit Mas," balasnya kali ini dengan merintih.


"Iya, aku tahu kamu pasti sakit… istirahat dulu yah, dipakai buat tidur dulu. Jangan mikir macam-macam, aku akan di sini buat jagain kamu," balas Belva.


Pria itu kemudian mengulurkan tangannya dan memberikan usapan di kepala Sara. Tidak membuka mulut sama sekali. Membiarkan keheningan yang memenuhi kamar perawatan itu dan ada usapan tangan Belva di kepala Sara. Hingga akhirnya Sara bisa tertidur. Mungkin efek obat yang disuntikkan melalui selang infusnya juga yang membuat Sara lebih cepat tertidur kali ini.


Begitu telah tertidur, Belva masih duduk di kursi yang berada di tepi brankar dengan masih sesekali memberi usapan di tangan Sara yang tidak dipasangi infus. Pria itu bergumam lirih dalam hatinya.


"Sembuhlah Sayang … aku menyesal. Tiga hari aku lembur dan kamu sampai seperti ini. Walau kamu sudah mengatakan tidak masalah, tetapi aku tetap merasa bersalah. Walau kamu mengatakan baik-baik saja, tetapi aku tidak. Aku merasa bersalah untuk semua ini. Cepat sehat Saraku, aku terlampau pedih melihatmu seperti ini," gumamnya dalam hati.


Menit berganti dengan menit, jam pun berganti dengan jam, tetapi Sara masih tertidur. Sara memang membutuhkan istirahat, dan Belva membiarkan istrinya itu untuk beristirahat. Kendati demikian, Belva masih merasa panik karena kondisi janin Sara.

__ADS_1


Terlebih saat diperiksa, ada bercak darah yang keluar. Semoga saja obat penguat janin yang diberikan oleh Dokter Indri bisa menguatkan janin dalam rahim Sara. Namun, Sara sudah tidak terlihat pucat. Keringat dingin yang semula keluar dari tubuhnya, juga sudah berhenti.


Sampai pada akhirnya, wanita itu mengerjap. Kelopak matanya bergerak-gerak, dan kemudian Sara membuka matanya perlahan.


"Mas," ucapnya memanggil suaminya itu. Suara Sara masih begitu lirih, tetapi itu cukup mendapatkan atensi dari Belva.


“Hmm, ada apa Sayang?” tanya Belva kepada istrinya itu.


“Jam berapa Mas?” tanya Sara kepada suaminya itu.


“Jam 18.00 sore, Sayang … kenapa?” tanya Belva lagi.


“Cairan infusnya belum habis ya Mas? Aku pengen pulang,” pinta Sara kali ini kepada suaminya.


Belva menengadahkan wajahnya dan kemudian melihat cairan dalam botol infus itu. “Masih sedikit Sayang,” jawabnya.


“Pulang saja yuk Mas … aku perawatan di rumah saja,” pinta Sara.


Belva kemudian menatap istrinya itu. Seakan ada beberapa hal yang mengganggu pikiran Sara sekarang ini.


“Rawat inap satu malam dulu saja Sayang … besok pagi kita pulang,” balas Belva.


“Gimana dengan Evan, Mas?” tanyanya kali ini kepada Belva.


“Tidak apa-apa … ada Bibi yang menjaganya. Semalam saja,” balas Belva.

__ADS_1


Sara hanya bisa pasrah kali ini. Lagipula, Sara merasa bahwa tubuhnya sudah lebih baik. Pandangan matanya juga tidak berkunang-kunang seperti sebelumnya. Sara ingin pulang supaya bisa melihat Evan yang masih berada di rumah. Akan tetapi, Belva menginginkan hal yang lain. Sehingga Sara kali ini agaknya harus menuruti permintaan dari suaminya itu untuk rawat inap semalam di Rumah Sakit.


__ADS_2