
Waktu yang ditentukan pun tiba. Hari ini Belva dan Sara akan bertolak ke London, menikmati waktu waktu berkualitas sebagai seorang suami dan istri. Bukan lantaran meninggalkan anak, tetapi pasangan suami istri ada kalanya juga membutuhkan waktu untuk berdua, merajut keharmonisan, dan juga menumbuhkan kembali kehidupan percintaan.
Kali ini dalam perjalanan udara menuju London, rute perjalanan yang harus mereka lalui adalah perjalanan 9 jam menuju Abu Dhabi, kemudian transit selama 3 jam, barulah dilanjutkan dengan Heathrow Airport, London.
“Naik pesawat paling lama ini Mas … dulu kan ke Korea Selatan sama kamu, baru kali ini ke luar negeri lagi,” ucap Sara.
“Iya Sayang, kamu masih ingat yah saat kita ke Korea Selatan dulu?” tanya Belva.
Sara pun dengan cepat menganggukkan kepalanya, “Iya … ingat dong. Terus ke Jeju, itu yang paling aku ingat,” balas Sara dengan menundukkan wajahnya.
Tentu saja momen di Jeju akan Sara ingat, kala itu Sara berusaha keras menenangkan dirinya saat suaminya itu hendak menanamkan benihnya di dalam rahimnya. Rasanya, begitu deg-degan, takut, dan juga sungkan, tetapi semuanya harus dijalani. Jikalau tidak, mereka tidak akan memiliki Evan.
“Di London nanti, kita akan tinggal di hotel mana Mas?” tanya Sara.
“Ada … yang pasti hotel yang bagus, dengan view yang bagus juga,” balas Belva.
Sara pun menghela nafas dan juga menganggukkan kepalanya, “Aku ngikuti Pak Bos aja,” balas Sara.
“Tiga hari di London, dan tiga hari di Paris, cukup kan Sayang?” tanya Belva kepada istrinya itu.
“Cukup Mas … itu kan masih perjalanan kita 19 jam. Jangan kelamaan, nanti aku kangen Evan dan El,” balasnya.
“Iya … ya sudah, tidur dulu saja. Perjalanan udara masih panjang. Sini, bersandar di bahu aku … tidur dulu, jangan sampai jetlag dan kecapekan,” balas Belva.
***
Heathrow International Airport, London ….
__ADS_1
Kini, Sara dan Belva sudah landing di Heathrow International Airport. Beberapa koper mereka bawa dan juga mereka hendak menuju Houndsditch, London. Di sebuah hotel berbintang lima yang berada di sana. Musim dingin di London begitu dingin, dengan suhu udara 9℃ dan dengan suhu terendah mencapai di bawah 3℃. Terpaan angin musim dingin dan juga salju yang membuat beberapa pepohonan memutih, jalanan yang memutih karena salju yang turun.
“Salju,” ucap Sara dengan tersenyum melihat salju untuk kali pertama.
“Sudah tercapai keinginannya melihat salju Bu Bos?” tanya Belva dengan terkekeh geli.
“Iya … cuma ini dingin banget. Gak kebayangan kalau puncak musim dingin, sudah pasti salju akan kian lebat,” balas Sara.
Dalam perjalanan dari Heathrow menuju ke hotel, mereka menggunakan sebuah taksi. Sembari melihat keindahan kota London. Berbagai bangunan berdiri dengan epik. Terasa masa-masa kerajaan silam, dan perpaduan kota modern yang indah. Begitu tiba di hotel, Belva melakukan cek in dan juga mengajak Sara menuju kamarnya yang berada di lantai delapan.
Begitu terpananya Sara melihat kamar yang begitu bagus, dengan jendela kaca besar yang berhiaskan pemandangan kota London. Ranjang ukuran kingsize berwarna putih yang bersih, dan kamar mandi dengan fasilitas bath up. Tidak hanya itu, dalam laci nakas tersedia aneka cokelat dan di meja sudah tersedia sampanye dan bunga mawar berwarna merah.
“Ini kamu yang memesan atau dari pihak hotelnya Mas?” tanya Sara.
“Sudah disediakan Sayang … hotel berbintang lima ya seperti ini kalau di luar negeri. Mereka akan menyiapkan sampanye,” balas Belva.
“Kalau mau makan saja, nanti masalah biaya jangan dipikirkan. Ingat, kamu pergi sama aku. Semua uangku semuanya buat kamu,” balas Belva.
Sara tersenyum, musim salju yang dingin di luar, tetapi di kamar hotel ini cukup hangat karena tersedia room heater (penghangat ruangan) yang bisa diatur dengan sedemikian rupa.
“Tidur dulu sebentar boleh enggak Mas? Agak pusing, kelamaan naik pesawat,” ucap Sara.
“Tentu boleh … istirahat saja. Jalan-jalannya besok saja ya Sayang? Kita istirahat dulu hari ini,” balas Belva.
“Iya Mas, biar pusingnya agak hilang dulu,” balas Sara.
Akhirnya keduanya memilih istirahat sejenak. Sebelum esok, mereka akan jalan-jalan dan mengeksplor kota London. Sebenarnya Sara hanya ingin melihat salju, tetapi jika memungkinkan dia juga ingin melihat ikon kota London yaitu Big Ben. Semoga saja selama tiga hari di London, dia bisa melihat Big Ben bersama suaminya itu.
__ADS_1
Beberapa jam berlalu, dan Sara akhirnya terbangun. Pelan-pelan dia beranjak dari tempat tidur. Meregangkan tubuhnya sesaat dan kemudian dia memilih untuk menyegarkan dirinya dengan mandi. Agaknya mandi air hangat bisa merelaksasi diri dan ototnya yang cukup cakep. Tidak membutuhkan waktu lama Sara segera mandi, dan ingin duduk di sofa dan menikmati pemandangan kota London. Hanya membutuhkan waktu hampir 20 menit, dan Sara sudah keluar dari kamar mandi dengan rambut yang setengah basah.
“Sudah bangun Mas?” tanya Sara yang melihat Belva sudah duduk dan bersandar di headboard sembari mengusap wajahnya.
“Sudah … kamunya hilang, jadi tidur lelapku berakhir,” balasnya.
Sara hanya terkekeh geli. Dia memilih untuk mengaplikasi serum dan beberapa krim perawatan di wajahnya, kemudian dia mengeringkan rambutnya. Sementara Belva masih berada di ranjang dan mengamati Sara. Sungguh, waktu berdua seperti ini akhirnya datang juga.
“Kamu mandi kok enggak ngajak-ajak aku sih Sayang?” tanya Belva.
“Habis, pengen bersih dan segar, Mas. Mandi air hangat enak, capeknya hilang,” balas Sara.
“Ya sudah, aku mandi dulu … nanti mau makan apa?” tanya Belva kepada istrinya itu.
“Enggak tahu, aku ngikut kamu saja. Mau keluar hotel untuk makan atau pesan saja tidak masalah,” balas Sara.
Belva pun mengangguk setuju, “Baiklah … ya sudah, aku mandi dulu yah. Masak kamunya sudah cantik dan wangi kayak gini, aku masih bau bantal,” sahut Belva.
Sara pun tersenyum, “Mandi sana Papa … aku mau lihatin pemandangan itu. Lihat salju dari kaca jendela itu,” balas Sara.
Belva kemudian beranjak dari ranjangnya, “Enggak mau nemani Papa mandi, Ma?” tanyanya dengan berdiri di belakang Sara.
Dengan cepat Sara menggelengkan kepalanya, “Enggak ah, Papa mandi sendiri saja. Mama tungguin di sini,” balas Sara.
“Iya, penting ditungguin … jangan minum sampanye-nya loh Sayang. Kalau mau minum, tunggu aku dulu,” balas Belva.
Dengan cepat Sara pun tertawa, “Udah sana … mandi saja dulu. Enggak usah yang aneh-aneh. Aku juga tidak akan memegang apa-apa. Aku tungguin Mamasku tercinta ini,” balas Sara.
__ADS_1
Begitu geli dan menyenangkan rasanya bisa staycation bersama suami tercinta. Menikmati sejenak waktu bersama. Membakar kembali gairah cinta, dan mengeratkan keharmonisan antara suami dan istri. Sungguh, ini adalah waktu yang sebenarnya sama-sama mereka berdua inginkan.