Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Pecel Lele Nasi Uduk


__ADS_3

“Kamu ingin mampir ke suatu tempat?” tanya Belva kepada Sara.


Kali ini keduanya sudah keluar dari Rumah Sakit. Usai membayar biaya pemeriksaan dan menebus obat di apotek.


“Boleh, mampir sebentar di suatu tempat, Pak?” tanya Sara kepada Belva.


“Kemana emangnya?” sahut Belva kali ini.


“Uhm, rasanya aku ingin makan Pecel Lele,” sahutnya.


Entah, rasanya kali ini Sara begitu menginginkan bisa makan Pecel Lele dengan Nasi Uduk yang hangat. Rasanya tentu akan sangat enak.


Tidak langsung mengiyakan, Belva justru mengernyitkan keningnya, “Makan Pecel Lele? Dibungkus?” tanyanya kini kepada Sara.


Sara kemudian menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku ingin makan di sana,” jawabnya kini.


Belva pun menghela nafasnya, tidak menyangka bahwa Sara menginginkan untuk makan Pecel Lele saat ini. Jika sekadar, membelinya dan membungkus, Belva tidak masalah. Akan tetapi, jika dimakan di sana, Belva yang tidak bisa menerimanya sebenarnya.


Melihat raut wajah Belva yang terlihat datar, Sara pun ingin mengurungkan niatnya. Lagipula, pasti Belva juga capek karena pria itu masih mengenakan pakaian kerjanya. Tidak istirahat sama sekali dan langsung mengantarkan Sara ke Rumah Sakit. Pastilah Belva sangat kecapean.


“Jika keberatan tidak usah, Pak,” ucap Sara kali ini.


“Tidak apa-apa, tetapi kamu saja yang makan,” sahut Belva pada akhirnya.


Sara tidak menjawab, dia hanya mengikuti Belva saja. Lagipula, dia sudah cukup senang karena Belva setuju untuk mengantarkannya ke Warung Tenda Pecel Lele. Hingga Belva pun menghentikan mobil mewahnya di salah satu warung tenda Pecel Lele di pinggir jalan.


“Kamu yakin ingin makan di sini?” tanya Belva sebelum turun dari mobil.

__ADS_1


Sara pun tersenyum lebar, “Iya … aduh, sudah berapa lama aku tidak makan Pecel Lele,” sahut Sara dengan mengusapi perutnya yang terasa sangat lapar dan ingin segera menyantap Pecel Lele.


Segera Sara memesan dua porsi Nasi Uduk, dua porsi Pecel Lele, dan dua gelas Es Teh. Dia memang sengaja memesan dua porsi, pikirnya dia juga ingin Belva mencicipi Pecel Lele yang enak dan harganya merakyat itu. Usai memesan, Sara memilih duduk di tikar yang sudah digelar di atas trotoar dengan pemandangan mobil dan sepeda motor yang tampak lalu lalang.


Belva lantas menatap wajah Sara sejenak, “Kamu serius makan di tempat seperti ini?” tanya Belva kepada Sara.


“Iya, Pak … kenapa, Pak Belva tidak nyaman yah makan di sini?” tanyanya balik kepada Belva.


“Ah, tidak … hanya saja, apa makan di sini kebersihannya terjamin? Lagipula, asap dari kendaraan bermotor ini tidak baik bagi kesehatan,” sahut Belva lagi.


Ya, sebagai taipan kaya raya, memang nyaris Belva tidak pernah membeli makanan di pinggir jalan dengan asap kendaraan bermotor yang lalu lalang seperti ini. Higienis suatu makanan juga menjadi pilihan bagi Belva.


Hingga kurang lebih 15 menit, pesanan Sara pun tersaji.


“Silakan Mbak,” ucap penjual itu mempersilakan Sara.


Belva lantas mengernyitkan keningnya, “Kenapa pesan semuanya dua porsi? Aku kan tidak makan,” sahutnya lagi.


Setelah itu, seakan menghiraukan Belva, Sara mencuci tangan kanannya terlebih dahulu. Dia kemudian mengambil Lele yang sudah digoreng dan juga sambal, kemudian dia makan dengan menggunakan tangannya. Perpaduan Nasi Uduk, dengan Lele goreng, dan sambal terasa begitu enak. Terlebih Sara terlihat lahap memakan Nasi Uduk Pecel Lele itu.


“Apa seenak itu?” tanya Belva pada akhirnya.


Sara mengangguk, kemudian dia mengulurkan tangannya berisi Nasi Uduk, Lele, dan Sambal ke hadapan mulut Belva. “Mau coba, Pak?” tanyanya lagi.


Lagi-lagi Belva menggelengkan kepalanya, “Hmm, aku tidak pernah makan Ikan Lele. Katanya dia makanannya jorok,” ucapnya kali ini.


Akan tetapi, ucapan Belva justru terdengar oleh penjual Lele, sontak saja salah seorang penjual lele pun datang menghampiri Belva, “Lele kami makanannya organik Pak, bukan dari kotoran manusia, dari aman,” jelas penjual itu sembari menunjukkan tambak ikan Lele yang dimilikinya secara pribadi.

__ADS_1


Merasa tidak enak, Sara lantas mengangguk, “Maaf Pak, bukan maksudnya berbicara begitu. Maaf ya Pak,” ucap Sara yang merasa tidak enak dengan si penjual Lele.


Kemudian Sara menyorot Belva yang duduk di sampingnya, “Jika tidak mau tidak apa-apa, Pak … jangan berbicara sembarangan,” ucap Sara kali ini.


Belva hanya diam, pria itu memilih sibuk dengan handphone, tetapi tiba-tiba saja perut Belva pun berbunyi, seolah-olah perut itu kosong dan menginginkan untuk diisi. Untuk itu Sara kemudian mengambil sendok, mengisinya dengan Nasi Uduk, suwiran Lele, dan Sambal.


“Ayo, Pak … dimakan. Sesuap saja,” bujuknya kali ini.


Saat Belva membuka mulutnya dan hendak mengeluarkan suaranya, rupanya Sara sudah terlebih dahulu menyuapkan makanan itu ke dalam mulut Belva sehingga mau tidak mau, Belva pun mengunyahnya perlahan dan menelannya.


“Gimana, enak kan Pak?” tanya Sara kali dengan tertawa.


Setelah beberapa saat diam, Belva pun mengangguk, “Iya, enak … bisa suapi aku lagi?” pintanya kali ini.


Sara kemudian merotasi bola matanya dengan malas, hanya sekadar memakan saja, rupanya Belva menginginkan dirinya yang menyuapinya.


“Makan sendiri saja, Pak … kan sudah besar, bisa makan sendiri,” sahut Sara.


Sehingga, Belva pun segera mencuci tangan kanannya dengan air, dan perlahan-lahan mulai memakan Pecel Lele itu. Pemandangan wajah datar Belva yang tengah mengunyah makanan itu justru membuat Sara berulang kali tersenyum.


“Sudah saya bilang, makanan seperti ini enak, Pak … dulu saja, hampir tiap malam saya makan Pecel Lele,” ucap Sara sembari terus memakan makanannya.


“Hampir tiap malam?” tanya Belva pada akhirnya.


Sara kemudian mengangguk, “Iya, karena makanan ini enak … bayangkan saja uang 15 ribu Rupiah sudah bisa makan Nasi Uduk Pecel Lele. Murah dan enak,” jawabnya sembari mengenang masa lalunya.


Memang saat Sara masih bekerja di bar dahulu, setiap kali pulang malam, Sara menyempatkan untuk membungkus Nasi Uduk Pecel Lele. Bahkan Sara tidak keberatan untuk memakannya setiap malam. Sebab, gajinya hanya sebesar Upah Minimum Karyawan saja saat itu. Untuk membayar kost, dan makan, maka Sara harus benar-benar berhemat.

__ADS_1


Mendengar cerita Sara, kemudian Belva menatap wajah Sara sejenak, “Sekarang kamu tidak perlu makan seperti ini setiap hari. Kamu harus makan makanan sehat dan penuh nutrisi, biar kamu dan bayi kita sehat. Ah, iya … jika kamu ingin makan enak, jangan segan-segan untuk bilang padaku. Aku akan membelikan apa pun yang kamu mau,” ucap Belva kali ini.


Bagi Belva, cukuplah kenangan pahit Sara di masa lalu. Sekarang, Sara tidak perlu memusingkan kebutuhan hidupnya karena Belva yang akan bertanggung jawab penuh atas Sara.


__ADS_2