Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Keinginan Protes


__ADS_3

Begitu keluar dari ruangan Belva, rupanya Evan sudah menunggu Mamanya di ruang tamu. Evan dengan cepat mengajakan berbagai pertanyaan kepada Mamanya.


“Papa masih bekerja Ma? Makanannya sudah dimakan Papa ya Ma? Evan kangen sama Papa tuh, Ma … pengen main bersama Papa,” ucap anak itu dengan mengajukan berbagai pertanyaan kepada Sara.


Sara tersenyum, memang anak seusia Evan sedang kritis-kritisnya. Banyak hal yang dia tanyakan dan rasa ingin tahunya begitu besar, sehingga Sara menghadapi Evan dengan senyuman di wajahnya. Kemudian, Sara membawa Evan yang saat itu masih berdiri untuk duduk di sampingnya.


"Evan tanyanya banyak banget sih … Mama bingung dong jawabnya. Papa masih bekerja, Nak. Tadi Papa juga sudah makan. Maaf ya Van, untuk hari ini sampai tiga hari ke depan Papa akan banyak bekerja dulu. Sebagai gantinya, Evan mainnya sama Mama dulu yah," jelas Sara kepada putranya itu.


Memberikan penjelasan kepada anak dengan lembut dan sederhana adalah hal yang penting. Sebab anak juga memiliki hak untuk tahu apa yang sedang dilakukan orang tuanya. Lebih baik bisa mengatakan kebenaran kepada anak, sehingga anak juga akan berusaha untuk memahami apa yang sedang dilakukan orang tua. Sama seperti Sara yang jujur mengatakan bahwa Belva sedang sibuk dan juga Evan juga akan belajar memahami bahwa Papanya masih bekerja untuk untuk dirinya. Ada solusi juga yang Sara sampaikan yaitu dia akan menemani Evan bermain. Sekalipun Papanya sedang begitu sibuk, tetapi ada Sara yang akan selalu menemani Evan.


“Papa kenapa bekerja terus sih Ma?” Sebuah pertanyaan yang tak ubahkan adalah bentuk protes dari seorang Evan.


“Iya Nak … kalau Papa tidak bekerja, nanti Evan tidak bisa makan dan beli buku dong. Papa bekerja kan juga buat Evan. Menabung untuk sekolah Evan nanti,” balas Sara.


Evan diam. Seolah Evan tengah mencerna semua ucapan Mamanya itu. Untung saja, Sara memberikan jawaban yang lembut dan bisa dicerna dengan baik oleh Evan, sehingga Evan pun berusaha memahami ucapan Mamanya itu.


“Ya sudah deh … yang penting Mama temani Evan yah.” Evan kali ini melembut, tetapi sebagai gantinya dia meminta kepada Sara untuk menemaninya.

__ADS_1


Sehingga malam sebelum waktunya tidur, Sara kembali menemani Evan bermain. Setelahnya, Sara juga menidurkan Evan terlebih dahulu. Sampai Evan telah terlelap, barulah Sara kembali ke dalam kamarnya.


Malam sudah menunjukkan jam 22.00, tetapi belum ada tanda-tanda bahwa Belva akan menyelesaikan pekerjaannya dan masuk ke kamar. Untuk itu, Sara memilih mengalah. Wanita itu membaringkan dirinya sendiri di atas tempat tidur, dan meringkuk di balik selimut. Walau sebenarnya Sara sendiri tidak bisa tidur tanpa Belva, apa daya suaminya sedang sibuk-sibuknya.


***


Keesokan harinya …


Sara bangun, tangannya bergerak meraba bagian sisi ranjang yang biasa ditempati suaminya. Rupanya bagian sisi ranjang itu kosong. Masih rapi, seolah tidak ada jejak yang Belva tinggalkan semalam.


Kali ini Sara bangun dengan perasaan kosong. Tidak ada sapaan hangat di pagi hari dari suaminya. Tidak ada pelukan hangat dari suaminya. Tidak ada senyuman manis dari seorang Belva Agastya yang selalu menyapanya dengan hangat layaknya sapaan hangat mentari.


Mungkinkah bahwa suaminya itu terjaga semalaman untuk menyelesaikan pekerjaannya. Apakah lembur juga harus melewatkan waktu untuk beristirahat di malam hari. Sara menghela nafas sepenuh dada, kemudian wanita itu merapikan rambutnya yang acak-acakan di pagi hari. Sara memilih membersihkan dirinya terlebih dahulu. Setelahnya Sara akan turun dan membuatkan sarapan untuk suaminya.


Menyelesaikan semuanya, Sara kemudian membawa Roti Bakar, Scramble Egg, dan juga Teh hangat untuk suaminya itu. Sekaligus Sara ingin menengok apakah suaminya masih berada di dalam ruang kerjanya. Dengan perlahan Sara memasuki ruang kerja itu, tanpa mengetuknya. Rupanya Belva masih duduk di meja kerja, wajahnya begitu lusuh, kacamata yang dia kenakan saat bekerja masih bertengger di hidungnya.


“Mas,” sapa Sara dengan lirih.

__ADS_1


“Eh, yah Sayang … kamu sudah bangun?” tanya Belva kepada istrinya itu.


“Sudah … sarapan dulu,” ucap Sara.


Wanita itu menaruh sarapan yang dia bawa di atas meja, kemudian masih berdiri sejenak dan menatap ke arah suaminya yang masih kelihatan begitu serius itu. Bahkan di pagi hari pun tidak ada sapaan hangat dari seorang Belva. Tidak hanya mengedepankan perasaan di hatinya, sudah pasti Sara akan menjadi sangat bersedih. Akan tetapi, Sara sepenuhnya sadar bahwa pekerjaan dan mendapatkan projek kerja sama dengan Jaya Corp adalah prioritas Belva sekarang ini, sehingga Sara akan menekan perasaannya. Menunggu sampai Belva menyelesaikan semuanya.


Beberapa menit berdiri dan tidak ada ucapan yang Belva ucapkan, akhirnya Sara kali ini akan pergi saja. Toh, juga dirinya justru akan memecah konsentrasi suaminya. Sara akhirnya memilih untuk pergi, biarlah hari ini banyak hal yang terlewatkan. Biarlah pagi ini sekadar sapaan selamat pagi dari suaminya saja tidak dia dapatkan, Sara akan mengalah dan mencoba memahami posisi Belva sebagai seorang CEO Perusahaan yang cukup besar. Lagipula, memang di luaran sana para CEO terbiasa lembur dan menyelesaikan projek dengan serius dan teliti. Mengingat semua itulah, Sara akan memberikan waktu kepada suaminya itu.


“Jangan lupa sarapan, Mas,” ucap Sara. Setidaknya Sara sudah melakukan tugasnya sebagai Istri yang memberikan perhatian kepada suaminya. Mengingatkan suaminya untuk sarapan. Dirinya tidak abai, tetapi tetap mengingat kebutuhan suaminya itu.


Wanita itu melangkahkan kakinya, bahkan sebelum Belva mengucapkan terima kasih kepadanya. Sedih sebenarnya, tetapi bagaimana lagi. Jika, mood dan perasaannya berubah sebagai wanita yang tengah hamil, justru itu akan mengganggu konsentrasi Belva. Sara memilih untuk menyimpan semuanya dalam hati. Tidak ingin mengganggu semuanya, walau sebenarnya dia sangat merindukan suaminya saat ini. Mereka tinggal di satu atap, tetapi karena Belva terlalu sibuk hingga untuk sekadar memeluk suaminya saja tidak bisa.


Rasa-rasanya Sara juga ingin melayangkan protes, tetapi juga semuanya akan sia-sia. Sudah ada Evan yang terlebih dahulu protes, dan sekarang Sara tidak ingin ikut-ikutan protes pada suaminya itu.


Sepeninggal Sara, Belva menghela nafas. Pria itu mengusap kasar wajahnya, hati nuraninya seakan tersentil karena dia tidak bisa memberikan perhatian untuk Sara saat ini. Belva melepas sejenak kacamata yang masih dia kenakan, dan memejamkan mata.


“Maafkan aku, Sara … masih banyak yang harus aku kerjakan. Usai semua ini selesai, aku akan langsung mencurahkan kasih sayang dan perhatianku kepadamu,” ucap Belva dengan lirih.

__ADS_1


Tidak dipungkiri hati Belva pun terasa berat karena harus mengedepankan yang lebih prioritas, dan kali ini projek dengan Jaya Corp memang membutuhkan penangan khusus, sehingga Belva akan menyelesaikan semuanya terlebih dahulu. Dalam hatinya, Belva berjanji bahwa setelah semua selesai, dia akan memberikan kasih sayang dan perhatian untuk Sara dan juga putranya.


__ADS_2