Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Baby E Junior!


__ADS_3

“Welcome Baby Boy Junior,” ucap Belva dengan menitikkan air mata.


Kelahiran bayi selalu memberikan sukacita bagi seluruh keluarga, pun bagi Sara dan Belva yang saat itu berada di ruang operasi. Sangat haru rasanya saat melihat Dokter Indri mengangkat bayi itu, mendengar tangisan si bayi untuk pertama kali, rasanya sampai begitu merinding dan juga terharu.


"Mirip Evan enggak Mas?" tanya Sara kali ini.


Terlihat Belva tersenyum, "Dia mirip kita berdua Sayang ... seorang putra yang mewarisi semua hal dari kita," balas Belva.


Memori seakan membawa Sara kembali pada empat tahun lalu di mana Belva juga meneteskan air mata saat kali pertama mendengar tangisan Evan. Sebab, saat bayi dilahirkan dan dia menangis, itu adalah detik yang mengesahkan Sara dan Belva menjadi orang tua.


"Lihat Sayang, si Baby Boy sudah pinter banget itu menghisap sumber kehidupan pertamanya," ucap Belva sembari menautkan jarinya di tangan mungil putra keduanya itu.


Sementara di balik tirai hijau yang dibentangkan, Dokter Indri tengah mengeluarkan plasenta, dan juga kembali menjahit kembali epidermis kulit di bagian perut yang sebelumnya disayat itu.


Hingga akhirnya proses melahirkan dengan metode Caesar pun selesai, dan Sara mulai tertidur karena efek bius yang baru terasa efeknya begitu melahirkan telah usai.


***


Tiga Jam Setelahnya ....


Sara mulai sadar dari operasi Caesar yang baru saja dijalaninya. Sebagaimana operasi caesar pada umumnya, Sara akan merasakan sakit terutama di bagian perut yang mendapatkan luka sayatan dan juga area tulang belakang tempat disuntikkannya anestesi epidural. Kendati sudah menggunakan teknik ERACS, tetap saja ada rasa sakit yang tersisa dan harus dirasakan oleh Sara.


"Mas," ucapnya lirih begitu dia sadar dan memanggil nama suaminya itu.


Pandangan matanya mengedar melihat di sekelilinginya, rupanya kamar kelas VVIP yang kini ditempati oleh Sara dan Belva yang duduk di samping brankar. Pria itu terlihat begitu setia menjaga Sara.


"Ya Sayangku, aku di sini," jawab Belva yang sedari tadi tidak beranjak dari sisi Sara.


Rasanya begitu lega, saat Sara tersadar dan pria yang dia cari adalaha suaminya. Mendengar sahutan Belva yang ada di sampingnya, membuat Sara sangat lega.


"Sudah sadar Sayang?" tanya Belva dengan lembut.


Perlahan Sara menganggukkan kepalanya, "Iya ...."


Suara wanita itu masih terdengar lemah.

__ADS_1


"Akhirnya kamu sudah sadar ... kamu wanita dan Mama yang sangat hebat. Kalau mau minum nunggu kalau kamu sudah buang angin dulu yah. Sabar dulu," ucapnya memberitahu kepada istrinya.


"Iya Mas," sahut Sara. "Baby Boy kita di mana Mas?" tanya Sara lagi.


"Di inkubator dulu selama enam jam, katanya Dokter ... diobservasi. Cuma kalau sebelum enam jam kondisinya sudah bagus dan stabil, nanti akan dipindahkan di sini kok," jelas Belva.


Sara merespons dengan menganggukkan kepalanya, dan kemudian menjawab suaminya itu, “Iya Mas … Mas, bisa peluk aku sebentar?” tanya Sara kini kepada suaminya itu.


Setelah menjalani pengalaman melahirkan secara caesar untuk kali pertama, rasanya Sara membutuhkan suntikan semangat berupa pelukan dari suaminya itu. Belva pun tersenyum, pria itu kini duduk di tepian brankar dan mulai memeluk Sara dengan begitu eratnya.


“Kamu hebat, Sayangku … wanita yang hebat untukku, dan Mama yang hebat untuk Evan dan Junior,” ucapnya.


Ada air mata yang mengalir dengan sendirinya saat suaminya itu memeluknya. Ada jantung yang berdebar kian cepat. Sara memejamkan matanya dan menikmati pelukan dari suaminya itu. Itu adalah pelukan yang hangat. Pelukan yang menguatkannya dan memberikannya kekuatan.


Saat Sara dan Belva tengah berpelukan, rupanya terdengar suara ketukan dari pintu, sehingga Belva pun segera mengurai pelukannya.


“Permisi Ibu Sara,” sapa seorang pasien yang datang dengan membawa box bayi.


Rupanya memang tidak sampai enam jam, Baby boy junior itu sudah diantarkan ke dalam kamar perawatan milik Sara. Sara yang tadi menangis, kini masih terisak dan berusaha untuk menyeka air matanya.


“Putraku,” ucap Sara dengan lirih.


“Terima kasih,” sahut keduanya dengan bersamaan.


“Baik Bu Sara … jika ada membutuhkan bantuan, silakan pencet tombol yah, ada perawat yang berjaga 24 jam,” ucap perawat itu.


Sara menganggukkan kepalanya, dan kini Sara melihat bayi laki-laki yang lahir dengan berat 3,3 Kilogram, dan panjang 51 centimeter itu. Bayi yang berkulit putih bersih, bibirnya terlihat merah, begitu menawan.


“Cakep banget ya Mas,” ucap Sara kini.


“Papanya ke geser ya Sayang?” tanya Belva dengan tertawa.


“Enggak … Papanya tetap nomor satu kok di hatinya Mama. Aku punya tiga pria tampan di dalam hidupku,” balas Sara.


Belva pun tertawa, “Kamu bisa saja,” balasnya.

__ADS_1


Sungguh begitu bahagia melihat wajah yang teduh dari putra kecil yang baru lahir beberapa jam yang lalu. Rasanya melihat baby itu ada di kamar perawatan itu membuat Sara semakin lega.


“Oh, iya … kita belum memberikan nama untuk si Junior loh Sayang,” ucap Belva kali ini.


Itu adalah fakta yang sesungguhnya karena sedari tadi memang keduanya belum mengucapkan nama untuk putra kecilnya itu. Sara pun menganggukkan kepalanya karena memang belum terpikirkan nama untuk putranya. Bukannya tidak mempersiapkan, hanya saja saat hamil dirinya mencari, tetapi rasanya masih belum cocok di hati.


“Mas, dulu kan aku yang memberikan nama kepada Evan karena kupikir aku bisa menyematkan doaku untuk putraku yang tidak akan menjadi milikku. Sekarang, kamu saja yang memberikannya nama ya Mas,” ucap Sara kali ini.


Ya, saat melahirkan Evan dulu, Sara memang sudah meminta jauh-jauh dari kepada Belva bahwa dia akan memberikan nama untuk putranya. Walau hanya nama, tetapi tersemat doa dan harapan Sara untuk bayi kecil yang akan menjadi putra Belva dan mendiang Anin saat itu.


“Yakin, aku yang memberikannya nama?” tanya Belva kali ini.


“Iya,” sahut Sara.


Terlihat Belva beberapa kali bergumam, hanya mulutnya saja yang terlihat komat-kamit seperti mengucapkan sesuatu, tetapi tidak terucap. Sampai akhirnya, Belva bersuara. “Kakaknya kan Evander … Evan, berawal huruf E. Jadi, lebih baik adiknya berawal huruf E juga saja,” ucapnya.


“Terserah kamu aja sih Papa … yang penting artinya bagus. Memberikan nama untuk buah hati kan tidak boleh sembarangan,” sahut Sara.


“Elkan … ya Elkan saja Sayang. Artinya Dia milik Tuhan, Elkan!” ucap Belva dengan begitu yakin.


Sara mendengarkan nama yang baru saja disebutkan oleh suaminya itu, kemudian melihat ke wajah teduh putranya. Kemudian Sara merespons dengan menganggukkan kepalanya.


“Boleh, nama yang bagus,” jawabnya.


“Kamu mau tambahin nama tengah atau apa gitu enggak?” tanya Belva kali ini.


“Tidak … biar aku yang menamai putra kita,” jawab Sara dengan tersenyum.


“Ya sudah, kalau gitu … Elkan Agastya saja,” balasnya. “Dia hadir dalam hidup kita karena Tuhan yang menganugerahkannya kepada kita berdua. Jadi, dia milik Tuhan. Harapannya, saat dia dewasa kelak dia bisa menjadi orang yang menjadi dampak yang baik untuk orang-orang yang ada di sekitarnya, menjadi pelipur lara, dan memberi rona untuk rumah tangga kita,” ucap Belva kini dengan panjang lebar.


“Iya Mas, setuju … Elkan Agastya,” balas Sara.


Kemudian Sara melihat wadah teduh putranya kembali, “Hai Baby Elkan … putranya Mama dan Papa, adiknya Kak Evan … sehat-sehat ya Sayang. Mama, Papa, dan Kak Evan sangat sayang kamu … selamat datang di keluarga Agastya … ada banyak cinta dan cerita di keluarga ini putraku. Yuk, berpetualang bersama Mama, Papa, dan Kakak yah,” ucap Sara kini.


Belva pun tersenyum mengamati interaksi Sara yang tengah berbicara (sounding) dengan bayinya itu, “Selamat datang Baby Elkan … Papa sangat bersyukur Papa memiliki kamu dari wanita yang benar-benar Papa cintai. Wanita yang datang ke dalam hidup Papa dengan pesonanya sendiri, wanita yang membuat Papa menjadi sosok yang lebih hangat. Mama kamu memang bukan yang pertama untuk Papa, tetapi Elkan perlu tahu bahwa Papa sangat mencintai Mama. Kita hidup bersama dengan bahagia ya Elkan,” ucap Belva kini.

__ADS_1


Sara hanya tersenyum, sepenuhnya Sara tahu bahwa dia memang bukan cinta pertama untuk suaminya. Akan tetapi, Belva berkali-kali berkata bahwa Sara akan menjadi yang terakhir. Sara tersenyum, semoga saja hari-hari yang mereka lalui akan kian merona bersama dengan lahirkan Elkan Agastya.


Welcome to the world Elkan!


__ADS_2