Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Hari Penuh Kejutan


__ADS_3

Sepulang rapat, Belva memilih kembali ke hotel pikirnya dia akan menunggu Amara mengantarkan Evan yang masih bermain di Kebun Raya Bogor bersama Jerome. Belva pun tidak keberatan. Justru Belva menyadari bahwa mumpung Evan ikut serta ke Bogor, Evan bisa mengunjungi tempat-tempat yang asri seperti Kebun Raya Bogor. Hal itu wajar karena di Jakarta tidak ada tempat seperti itu.


Di Jakarta, Evan hanya mengunjungi Mall saja. Bermain di playgorund yang ada berada di pusat-pusat perbelanjaan, atau hanya melihat Monas dari jalan raya, tetapi belum pernah memasukinya. Bagi anak-anak yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, pilihan tempat bermain bisa dikatakan terbatas. Oleh karena itulah, Belva justru senang saat Amara mengajak putranya itu ke Kebun Raya Bogor, tentu supaya Evan lebih dekat dengan alam dan belajar hal baru di sana.


Begitu tiba di hotel, Belva memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Kemudian dia akan mempelajari lagi kontrak kerja sama dengan pihak di Bogor. Memastikan tidak ada kesalahan dalam kerja sama kali ini. Sesekali Belva juga memantau handphone miliknya, menunggu kabar dari Amara yang masih berada di luar mengajak Evan.


Saat tengah mengecek beberapa laporan, Belva mengedarkan matanya di kamar hotel itu. Pria itu kemudian menaruh file-file kertas di tangannya dan berjalan menuju nakas. Barulah Belva ingin bahwa minuman Frappuccino yang diberikan saat rapat tadi ternyata dia bawa kembali ke hotel.


Belva mengangkat Frappuccino dalam gelas plastik cup itu, mengamati desain yang tercetak di gelas plastik itu.


“Coffee Bay … Coffee Bay? Kenapa rasanya dari Frappuccino ini sangat autentik yah … seakan aku sudah pernah merasakannya sebelumnya. Dari sisi pengemasannya juga unik. Dengan pengemasan yang unik dan cita rasa yang seperti ini sangat wajar jika minuman dari Coffee Bay sangat laris,” gumamnya sendiri.


Setelahnya, Belva kembali menaruh gelas cup itu ke atas nakas, tetapi dia kembali meminum Frappuccino itu. Merasakannya perlahan. Lagi-lagi, Belva mengernyitkan keningnya, rasanya seolah begitu familiar di lidahnya, harum dari Frappuccino itu juga begitu khas. Belva sampai memejamkan matanya untuk mengingat-ingat di mana dia pernah meminum minuman seperti ini.


“Di mana yah aku pernah meminum Frappuccino seperti ini? Baru sekali mencicipi, seolah rasanya begitu lekat di lidahku,” gumam Belva lagi dan lagi.


Seakan tidak mendapatkan jawaban dari ingatannya, Belva lantas memilih kembali bekerja. Paling tidak esok urusannya di kantor harus sudah selesai dan lusa dia bisa kembali ke Jakarta dan mengurusi berbagai pekerjaan di Agastya Properti. Lagipula masih ada serangkai projek kerja sama dengan Jaya Corp dan berbagai perusahaan konstruksi lainnya, jadi Belva harus mempersiapkan semuanya dengan matang.


***


Sementara itu di Kebun Raya Bogor …


Mengingat bahwa hari semakin sore, Amara pun mengajak Jerome dan juga Evan untuk keluar dari Kebun Raya Bogor. Masih ada satu tempat yang akan Amara kunjungi sebelum mengantarkan Evan kembali ke hotelnya.


“Evan, ikut Tante minum cokelat dulu yah? Evan suka cokelat tidak?” tanya Amara kepada keponakannya itu.


“Iya … suka Tante. Mau minum cokelat dan makan Croffle, boleh enggak Tante?” tanya Evan kepada Tantenya itu.


Rupanya kali ini Evan tidak hanya menginginkan untuk minum cokelat, tetapi dia juga menginginkan untuk bisa memakan Croffle. Croffle sendiri adalah makanan yang sedang hits dan viral baru-baru ini, Croffle adalah gabungan dari croissant dan wafle. Amara pun tertawa karena tidak mengira keponakannya yang masih kecil itu tahu juga tentang Croffle.


“Croffle apa Ma?” tanya Jerome kepada Mamanya.


“Makanan Sayang … gabungan dari Croissant dan Wafle. Croissant itu kue kesukaannya Oma. Jerome pernah makan kan?” tanya Amara kepada anaknya itu.


“Iya Ma … suka. Jerome mau juga dong Croffle sama seperti Kak Evan,” sahutnya.

__ADS_1


“Oke … kita mampir untuk minum cokelat dan beli Croffle yah. Sebentar Mama kirim pesan ke Uncle Belva dulu yah, supaya Uncle tidak nyariin Evan,” jelas Amara kepada Jerome.


Hingga akhirnya, Amara dengan cepat mengirimkan pesan kepada Belva. Memberitahu kepada kakaknya itu bahwa dia masih akan mampir untuk membeli Croffle karena Evan menginginkan makanan itu. Setelah mengirimkan pesan kepada kakaknya, Amara dengan perlahan mengemudikan mobilnya keluar dari Kebun Raya Bogor. Dengan hati-hati dia menyusuri jalan yang saat itu tengah gerimis. Bogor memang kota hujan, sehingga gerimis atau pun hujan bisa turun kapan saja di kota itu.


“Tante, kok tiba-tiba gerimis yah?” tanya Evan.


Evan tumbuh menjadi anak yang aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Oleh karena itu, sekalipun usianya baru 4 tahun, tetapi Evan begitu suka bertanya.


“Iya Van … Bogor ini punya julukan sebagai kota hujan sehingga sering kali turun hujan atau gerimis di kota ini,” jawab Amara.


Evan pun menganggukkan kepalanya mendengarkan penjelasan dari Amara. “Jakarta kalau terus-menerus hujan kata Mama bisa banjir loh, Tante,” sahutnya lagi.


“Rumah Kak Evan kebanjiran tidak?” tanya Jerome yang tiba-tiba menyahut Evan.


“Tidak dong … rumahku tidak banjir. Kata Papa karena rumahnya berdiri di kawasan bebas banjir,” jawab Evan.


Amara pun tersenyum, rupanya selain aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, Evan juga termasuk anak yang mudah belajar. Itu terlihat dari Evan yang bisa mengingat setiap penjelasan yang diberikan oleh kedua orang tuanya.


Hingga tidak berselang lama, Amara memarkirkan mobilnya di sebuah Kedai Kopi yang berjarak kurang lebih sepuluh menit berkendara dengan mobil dari Kebun Raya Bogor.


“Aku Ma,” sahut Jerome dengan mengangkat tangan.


“Aku Tante,” sahut Evan yang juga mengangkat tangannya.


Lagi-lagi Amara pun tertawa karena kekompakan Jerome dan Evan. Sesama sepupu, walaupun jarang bertemu, tetapi Evan dan Jerome begitu kompak. Lantas, Amara menggandeng Evan dan Jerome memasuki kedai kopi itu.


“Silakan, bisa dibantu ingin pesan apa?” tanya seorang karyawan di coffee shop itu dengan ramah.


“Cokelat susu hangat dua, Es Moccacino satu, sama Crofflenya dua ya Kak,” pesan Amara.


“Mau take away atau diminum di sini?” tanya karyawan itu lagi.


“Diminum di sini saja,” jawab Amara.


Setelahnya Amara segera membayar pesanannya dan kemudian mengajak Evan dan Jerome untuk duduk sembari menunggu pesanan mereka di antar.

__ADS_1


“Yuk, Jerome kita duduk di sana yuk … ayo, Van,” ajak Amara.


Saat Amara menyebut nama ‘Van’, seorang wanita yang sedang duduk di dekat tempat pick up tampak mengamati anak laki-laki yang dipanggil ‘Van’ itu.


“Kenapa Kak Sara?” tanya seorang karyawan di sana.


“Pesanan Kakak yang tadi, biar nanti aku saja yang bawakan,” sahut Sara.


Dalam diam, rasanya jantung Sara berpacu dengan begitu cepatnya. Perasaan yang aneh menyeruak begitu saja hingga dadanya terasa begitu sesak. Bahkan hanya sekadar mengamati anak kecil itu dari jauh, kedua mata Sara begitu pedih karena air mata akan berlinangan begitu saja.


“Kenapa perasaan ini aneh … selama 4 tahun, baru kali ini aku merasakan hal demikian,” gumam Sara dalam hatinya.


Selang 15 menit, Sara kemudian datang dengan membawa nampan yang berisi pesanan berupa dua cokelat susu hangat, satu es moccacino, dan dua croffle. Dengan hati-hati, Sara mengangkat nampan itu.


“Pesanan atas nama Kak Amara,” sapa Sara begitu mendekati kursi tempat duduk Amara.


“Ya saya,” balas Amara.


Lantas Sara menyajikan pesanan itu di atas meja. Sedikit Sara melirik kepada sosok anak kecil yang rupanya sejak tadi juga terlihat tertegun melihatnya.


“Ayo Evan, diminum cokelatnya … kok sejak tadi kamu lihatin Tantenya terus sih,” celetuk Amara.


Mendengar pembeli bernama Amara itu memanggil nama Evan, degup jantung Sara kian berpacu, bahkan dengan susah payah Sara menahan air matanya. Supaya tidak menangis dengan tiba-tiba. Setelah menyajikan semuanya, Sara kemudian pamit undur diri.


Beberapa saat Amara, Evan, dan Jerome menikmati minuman dan makanan di tempat itu. Hingga kemudian Amara mendapat pesan bahwa mertuanya tengah sakit. Dengan segera Amara menghubungi kakaknya untuk menjemput Evan sekarang juga supaya dia bisa cepat pulang.


“Kak, sorry … mendadak mertuaku tengah sakit. Kakak bisa enggak menjemput Evan di Coffee Bay?” tanya Amara melalui panggilan teleponnya.


“Iya, aku akan ke sana sekarang. Minta tolong Evan tidak kemana-mana dan titipkan ke salah seorang karyawan di sana,” sahut Belva di seberang sana.


“Evan … sorry, Tante harus segera pulang karena Omanya Jerome sakit. Evan tunggu Papa di sini sendiri berani kan? Lima menit lagi Papa akan sampai,” jelas Amara kepada keponakannya itu.


Evan pun mengangguk kemudian menoleh ke arah Sara yang beberapa saat tampak memperhatikan dirinya.


“Iya Tante … aku mau main sama Tante itu yah. Aku suka dia,” ucap Evan dengan tiba-tiba.

__ADS_1


Amara pun menganggukkan kepalanya, “Baiklah … maafkan Tante ya Van … besok kami akan mengunjungimu lagi. Bye Evan,” pamit Amara dengan membawa Jerome bersama dengannya. Tidak lupa Amara menitipkan Evan ke kasir yang berada di depan bahwa lima menit lagi keponakannya akan dijemput. Dengan demikianlah Evan akhirnya menunggu Papanya di Coffee Bay sore itu.


__ADS_2