
“Maaf Zaid … aku tidak bisa,” ucap Sara pada akhirnya.
Tentu saja Sara terkesiap saat mendengar bahwa pria itu mengatakan bagaimana perasaannya terhadap Sara. Kendati demikian, Sara sudah sampai pada keputusannya, dia harus menolak Zaid dengan alasan khusus yang hanya diketahui oleh Sara.
“Kenapa Sara? Bukankah kita bisa memulai semuanya dari awal?” tanya Zaid perlahan.
“Tidak Zaid … maaf. Aku memiliki banyak pertimbangan dalam hidup. Sekarang, bisa mengantarkanku pulang?” tanya Sara kepada pria itu.
Zaid pun mengangguk, dia tidak akan menekan Sara. Lantas Zaid mulai menginjak gas dengan kakinya, dan mengemudikan stir kemudi di tangannya, mengantarkan Sara kembali pulang sama seperti permintaan Sara sebelumnya.
Agaknya ungkapan perasaan Zaid yang tidak terbalas membuat atmosfer di dalam mobil itu terasa begitu hening, kecanggungan menyelimuti keduanya. Sara memilih memalingkan wajahnya ke arah kaca jendela. Sementara Zaid sendiri fokus mengemudikan mobilnya. Hingga lima belas menit berlalu, mobil Zaid telah sampai di depan Coffee Bay lagi.
“Terima kasih sudah mengantarkanku, Zaid … aku pamit,” ucap Sara dan wanita itu bersiap untuk turun dari mobil.
Akan tetapi dengan cepat Zaid menahannya, “Dengarkan aku sebentar Sara,” ucap Zaid.
Sara kembali mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil dan kembali menoleh ke arah Zaid. “Ada apa?” tanyanya.
“Sara, mungkin kamu memiliki berbagai pertimbangan dalam hidupmu. Merasa dirimu janda yang menikah secara kontrak (mut’ah), dan juga memiliki anak. Akan tetapi, semua itu tidak berpengaruh bagiku Sara … karena, aku benar-benar menyukaimu,” ucap Zaid dengan sungguh-sungguh.
“Zai, terima kasih sudah memahamiku. Menerima semua kekurangan itu, tetapi aku tidak bisa, Zaid … maaf,” balas Sara lagi.
Mungkin di hadapannya ini benar-benar ada pria yang tidak mempermasalahkan masa lalunya sebagai wanita yang pernah menjalani pernikahan mut’ah dan juga dirinya pun telah memiliki anak. Namun, hatinya sendiri mengatakan bahwa Sara tidak bisa, benar-benar tidak bisa.
Sara kemudian keluar dari mobil Zaid dan berpamitan dengan pria itu.
“Baiklah, aku pulang … makasih Zaid,” balasnya.
__ADS_1
Tanpa menoleh kembali ke belakang, Sara memilih terus berjalan menjauh dari mobil Zaid. Sementara di dalam mobilnya, Zaid bisa melihat punggung Sara yang kian menjauh dari kaca spion mobilnya.
Kenapa kamu tidak bisa menerimaku, Sara? Padahal aku serius dan sungguh-sungguh dengan ucapanku. Aku tidak mempermasalahkan statusmu, bahkan aku tidak masalah dengan bayimu. Karena apa Sara? Karena perasaan itu memang begitulah adanya … perasaan ini tumbuh dengan sendirinya. Sementara kamu, memilih untuk menolakku secara langsung.
Zaid bergumam sembari menatap punggung Sara yang kian menjauh. Pria itu menghela nafasnya yang terasa begitu berat dan menyandarkan keningnya di stir kemudi. Tidak menyangka kali pertama mengungkapkan perasaannya, Zaid justru ditolak dan merasakan pedihnya patah hati.
Nyatanya bagaimana Sara, jika kali pertama melihatmu dulu saja aku sudah tertarik kepadamu …
Ini semua adalah perasaanku, Sara …
Perasaan yang muncul dengan sendirinya dalam hatiku …
***
Pertemuan pertama di Kopi Lab beberapa waktu yang lalu …
Ada Kopi Aceh Gayo yang beraroma begitu tajam dan tidak memberi bekas rasa pahit di lidah begitu usai meminumnya. Ada pula Kopi Lampung yang memiliki tekstur yang halus, tetapi rasanya begitu kuat. Kopi Toraja memiliki aroma yang sangat khas dan harum, yang membuat Kopi Toraja begitu disukai karena tingkat keasamannya yang rendah, selain itu terdapat rasa floral dan fruity tiap kali mencicipi kopi ini. Ada juga Kopi Bali Kintamani yang menghasil aroma yang fresh seperti citrus, aromanya dianggap eksotis dan warnanya begitu light. Ada pula Kopi Flores Bajawa yang memiliki tingkat keasaman yang medium dan memiliki karakteristik sensasi manis dan cita rasa kacang-kacangan dan herbal di dalamnya.
Pemuda itu tampak memperhatikan si Ibu hamil yang mencatat dengan menggunakan ponselnya, dan beberapa mencium setiap aroma dari berbagai kopi khas Nusantara itu. Hingga perlahan, pemuda itu memberikan diri untuk mendatangi si Ibu hamil.
“Hei, halo … kenalkan, aku Zaid.” Rupanya ada seseorang pemuda yang juga mengikuti pelatihan itu yang datang dan mengajak Sara berkenalan.
Si wanita hamil yang tidak lain adalah Sara pun merespons baik pemuda itu. “Aku Sara,” jawabnya menyebutkan namanya.
“O … Sara yah? Kamu sedang hamil kan? Itu terlihat banget perut kamu yang membuncit, yakin Ibu Hamil ikutan kelas seperti ini?” tanya Zaid.
Jujur saja Zaid begitu penasaran dan ingin tahu bagaimana bisa seorang Ibu Hamil justru mengikuti pelatihan meracik minuman berbahan dasar kopi seperti ini. Di mata Zaid, Sara terlihat begitu unik saat ini.
__ADS_1
Sara pun lantas mengangguk, "Iya, hanya sekadar mencari kesibukan mengisi waktu luang," jawab Sara.
Pada kenyataannya memang dirinya mengikuti kelas ini hanya sekadar menghilangkan jenuh semata. Bukan bermaksud serius sebenarnya. Sebab, berdiam diri di rumah untuk waktu yang lama terkadang juga membosankan.
Zaid pun mengangguk, "Unik sih, tetapi kan Ibu Hamil gak boleh banyak minum kopi loh," sahutnya kali ini.
Mendengar ucapan Zaid, nyatanya kali ini Sara justru teringat kepada Belva. Sebab, kemarin pun Belva juga sudah memperingatkannya untuk tidak minum kopi banyak-banyak.
"Iya, aku tahu ... lagipula aku datang untuk belajar meracik minuman sih, bukan untuk minum kopinya," jawab Sara sembari tersenyum.
Pria itu mengangguk, "Ah, iya... benar juga. Semoga kita bisa jadi teman dan belajar banyak di kelas ini yah," ucapnya.
Sara pun mengangguk, "Iya, semangat belajarnya," sahutnya.
"Kamu juga, kok aku rasanya tertarik sih sama kamu. Sudah hamil masih cari kegiatan meracik minum," ucap Zaid lagi.
Sementara Sara hanya tersenyum, tak ingin terlalu banyak menanggapi. Sebab, tujuannya mengikuti kelas ini memang untuk sebatas mengisi waktu luang saja. Lagipula bagi Sara, Ibu Hamil pun boleh mengikuti training yang dia mau dan inginkan.
***
Kini …
Zaid hanya bisa berdiam diri dan mengenang kembali bagaimana pertemuannya dengan Sara untuk kali pertama. Berawal dari merasa tertarik karena Sara terlihat unik, dan beberapa waktu berjalan justru Zaid merasa penasaran dan suka dengan wanita itu.
Bukannya Zaid tidak menyadari bahwa Sara tengah hamil, tetapi perasaan di hatinya tumbuh dengan sendirinya. Perasaan itu muncul secara alamiah, dan dia tidak menghentikan perasaannya yang justru kian hari kian tumbuh untuk wanita bernama Sara itu.
“Apa tidak bisa bagimu menerimaku, Sara? Padahal aku tidak mempermasalahkan semuanya tentangmu. Tidak adakah peluang, sekali pun hanya 0,001 % saja?” Zaid berbicara dengan dirinya sendiri. Pria itu agaknya masih belum bisa menerima kenapa Sara tidak menerimanya, padahal dia sama sekali tidak mempermasalahkan tentang Sara dan masa lalunya.
__ADS_1