Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Kejutan Pagi Masih Berlanjut


__ADS_3

Sara menundukkan wajahnya, sedikit mengulas senyuman di wajahnya ketika melihat kakung dengan liontin diamond itu itu melingkar di lehernya. Wanita itu juga mengangkat tangannya, melihat cincin yang melingkar di jarinya. 


"Makasih Mas, cuma ini pasti mahal banget … ini kan brand kenamaan dari Paris," ucapnya. 


"Buat kamu tidak ada yang mahal, Sayang. Kamu lebih mahal dari semua ini. Kamu lebih berharga dari semua ini," ucap Belva dengan masih merangkul bahu Sara. 


Tangan pria itu memberikan usapan di bahu hingga lengan Sara yang tak tercover busana. Sesekali wajahnya menunduk dan melabuhkan kecupan di bahu Sara. 


"Makasih banyak ya Mas, aku terharu … baru kali ini aku mendapatkan hadiah seindah ini dari pria," balas Sara dengan jujur.


Belva pun tersenyum, "Masak aku pria pertama yang memberikan hadiah buat kamu sih?" tanya Belva lagi. 


"Kamu itu serba pertama buat aku, Mas," aku Sara dengan jujur. 


Belva adalah pria yang pertama untuknya. Pria yang menyentuh hatinya, pria yang mencuri hatinya. Serba pertama di dalam hidup Sara adalah Belva Agastya. Tidak ada yang lain. 


Pria itu tersenyum. Mendengar apa yang baru saja diucapkan Sara membuat Belva merasa begitu bangga. 


"Makasih juga sudah menjadikan aku yang serba pertama di hidupmu," balas Belva. 


Jiwanya sebagai seorang pria sangat senang mendengar pengakuan dari Sara. Semoga saja, dalam hidup ini banyak kenangan indah yang bisa mereka buat bersama. Semoga dalam kehidupan berumahtangga ini, Belva bisa melakukan banyak hal untuk Sara. Bisa membahagiakan Sara, sudah membuat Belva begitu bahagia. 


"Mau tidur?" tanya Belva kemudian kepada istrinya itu.


Tampak Sara menganggukkan kepalanya, karena usai percintaan dengan durasi yang panjang dan bertahap membuat Sara sudah merasa lelah dan rasanya ingin segera menutup matanya. Tirai di sana masih sepenuhnya terbuka. Ini pengalaman yang luar biasa, karena kali ini keduanya bercinta tanpa menutup tirai. Lampu-lampu di area Champ den Mars justru menciptakan kesan romantis. Rona cahaya berpadu dengan rona cinta. 


"Dipeluk yah," pinta Sara kali ini. 


"Pasti," balas Belva. 


Sara beringsut, memposisikan dirinya di tempat yang nyaman. Dengan masih mempertahankan selimut yang menutupi dadanya, wanita itu berpindah tempat dari yang semula di depan Belva, kini berpindah ke samping Belva. 


Pria itu sudah membuka satu tangannya, menyambut Sara yang hendak masuk ke dalam pelukannya. Akan tetapi, saat Sara mendekat, satu tangan Belva justru meraih selimut yang masih mengcover dada Sara, sehingga selimut itu tersibak dan memperlihatkan area dada Sara yang ranum dan selalu saja tampak sempurna. 

__ADS_1


"Mas," ucap Sara membelalakkan matanya. Keduanya tangannya secara refleks bergerak dan menutupi kedua buah persik miliknya yang kali ini berlukiskan tanda merah di berbagai sisi. 


Belva mengurai tangan Sara, pria itu tersenyum menatap wajah Sara turun ke bibirnya yang manis dan sedikit bengkak di sana, turun ke lehernya dengan kalung dan diamond yang menghiasi area leher itu, kemudian turun ke buah persiknya dengan beberapa tanda merah yang sengaja dia buat di sana. 


"Cantik," ucapnya. 


Belva menarik kembali selimut tebal berwarna putih itu dan mengcover tubuh Sara, lantas dia membawa Sara untuk tidur di sebelahnya. Mendaratkan kecupan di kening wanita itu dan memeluknya erat. 


"Kamu cantik banget. Kamu duduk sesaat di hadapanku dengan pandangan yang malu-malu gitu saja aku sudah sepenuhnya tergoda," balas Belva. 


"Udah Mas, tidur. Ini udah malam banget, besok bangun pagi," balas Sara. 


"Ya sudah, besok bangun pagi terus mandi pagi bareng yah," ajak Belva. 


Sara hanya tersenyum, tak memberi jawaban, wanita itu memilih memejamkan matanya dan memeluk Belva. Tubuh tanpa busana yang masih memeluk, musim dingin di luar, tetapi sangat hangat di dalam kamar ini. 


***


Ketika pagi menjelang ….


Keduanya sama-sama mengerjap dan membuka kelopak matanya perlahan, hingga akhirnya mata yang terbuka saling bertaut, senyuman pun mengembang di bibir keduanya. 


"Pagi, Cinta," sapa Belva kepada istrinya itu. 


"Pagi, Mamas," sahut Sara. Senyuman di wajah Sara mengembang, sungguh senang menyambut pagi bersama suami tercinta.


"Mandi yuk," ajak Belva. Pria itu dengan segera menyibak selimutnya. Membawa Sara untuk mengikutinya ke dalam kamar mandi.


Saat Sara mencuci mukanya dan menggosok giginya, Belva tengah menyiapkan air hangat dalam bath up dengan bath bomb yang beraroma floral yang begitu lembut dan manis. Cukup memasukkan bath bomb saja, sudah menghasilkan busa yang melimpah di bath up itu. Belva kemudian mencuci wajahnya, dan menggosok giginya. Sesekali Belva masih melirik Sara yang berdiri di sampingnya.


"Yuk berendam, Sayang," ajak Belva yang sudah menggandeng tangan Sara.


"Cuma berendam ya Mas, gak usah ngapa-ngapain," pinta Sara dengan menatap wajah suaminya itu.

__ADS_1


"Ya sudah, paling pelukin kamu aja. Gesek dikit gak masalah," balas Belva dengan cukup frontal.


Sara yang mendengarkan jawaban Belva rasanya sudah merinding terlebih dahulu. Belva masuk terlebih dahulu ke dalam bath up, kemudian dia membawa Sara untuk turut mengikutinya masuk ke dalam bath up. Belva membuka kedua pahanya, dan meminta Sara duduk di depannya, di antara pahanya itu. Tangan pria itu memberi usapan di tubuh Sara yang licin karena campuran air dan busa.


Jika rencana hanya sebatas berendam, maka itu hanya rencana saja. Faktanya di dalam bath up itu, keduanya kembali bercinta dan mereguk manisnya madu sampai mengoyak air dan busa di dalam bath up itu.


"Mau ke mana hari ini?" tanya Belva. Keduanya telah selesai mandi dan sudah duduk di sofa yang menghadap langsung ke Menara Eiffel.


Pria itu melihat handphone di tangannya dan bertanya kepada Sara ingin jalan-jalan ke mana hari ini. 


"Di hotel dulu saja, Mas. Aku belum tahu pengen ke mana," balas Sara.


"Baiklah, jika ingin ke suatu tempat beritahu aku," balas Belva. 


Beberapa waktu berlalu, keduanya memilih beristirahat. Sara juga bermain sejenak dengan handphonenya. 


"Pesanku untuk Evan kok belum masuk sejak kemarin ya Mas?" tanyanya kepada suaminya itu. 


"Mungkin kuotanya habis, Sayang," balas Belva alakadarnya. 


"Kan di rumah tersedia WiFi, Mas. Gak perlu pakai kuota," sahut Sara. 


"Oh, mungkin Evan belajar," balas Belva lagi. 


Sara memilih diam sejenak, "Padahal aku kangen sama Evan," balasnya. 


Tidak dipungkiri sudah sepekan Sara menikmati jalan-jalan dari London dan sekarang ke Paris. Rasanya begitu rindu dengan putranya itu. 


Sampai terdengar ketukan di pintu kamar keduanya. Sara pun mengerjap. 


"Siapa Mas? Apakah mungkin layanan hotel?" tanya Sara kepada suaminya. 


"Buka saja Sayang … tolong yah, aku cek email dari perusahaan dulu," pintanya. 

__ADS_1


Sara pun segera bangkit dan membukakan pintu. Betapa terkejutnya dia ketika membuka pintu. Dua anak laki-laki berdiri dan berseru di hadapannya. 


"Mama!"


__ADS_2