Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Terbenam dalam Pekerjaan


__ADS_3

Menjelang sore, saat Belva, Sara, dan Evan baru saja tiba di Jakarta. Terlihat Belva yang segera meminta izin kepada istrinya untuk bekerja dan menyelesaikan semua pekerjaannya.


“Sayang, aku langsung bekerja yah?” izin Belva kepada istrinya itu.


“Iya Mas,” balas Sara sembari menganggukkan kepalanya.


Sara memilih menemani Evan bermain, sementara Belva langsung menuju ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan semuanya. Lebih cepat selesai, lebih baik. Sehingga, saat Belva bekerja, Sara memilih menyibukkan dirinya dengan bermain bersama Evan. Lagipula, Sara begitu rindu dengan putranya itu. Saat bermain dengan Evan pun waktu pun bisa berlalu dengan lebih cepat.


Hari sudah hampir petang, Evan sekarang disuapin Sara makan malam. Akan tetapi, Belva masih belum menunjukkan batang hidungnya.


“Papa enggak makan ya Ma?” tanya Evan kepada Mamanya itu.


“Pekerjaan Papa sangat banyak, Van … nanti biar Mama antarkan makan malam untuk Papa. Sekarang Evan makan dulu yah … makan yang banyak biar sehat,” balas Sara sembari menyuapkan satu sendok demi satu sendok makanan ke dalam mulut Evan.


“Oke Ma … Mama juga makan yah,” sahut Evan yang rupanya juga meminta Mamanya itu untuk makan.


Sara menganggukkan kepalanya, “Iya, nanti Mama pasti akan makan kok. Asalkan Evan sudah makan, perutnya sudah kenyang, Mama udah lega banget,” balas Sara.


Demikianlah seorang Ibu. Tidak masalah perutnya kosong dan menunda lapar, asalkan putranya bisa makan terlebih dahulu. Mengisi perutnya dan makan sampai kenyang. Para ibu akan merasa lega jika anak-anak mereka kenyang dan tidur malam dengan perut yang terisi.


Evan mengangguk sembari terus mengunyah makanannya, sampai Bibi Tini pun bergabung dan bertanya kepada majikannya itu.


“Mbak Sara tidak makan sekalian?” tanyanya.


“Nanti Bi … nyuapin Evan dulu,” balas Sara.


“Ibu hamil harus makan teratur loh Mbak Sara … jangan sampai tidak makan,” Bibi Tini berusaha untuk mengingatkan Sara supaya tidak telat makan.


“Makasih Bi … iya, nanti habis Evan makan, Sara akan makan,” balasnya.

__ADS_1


Benarlah saat Evan sudah selesai makan, kemudian Sara juga mengisi piringnya sendiri. Dia menikmati nasi putih dan aneka sayur serta lauk pauk untuk mengisi perutnya.


“Mama makan yang banyak Ma,” ucap Evan yang tiba-tiba mendatang Sara lagi. Seakrang justru Evan duduk di kursi yang berada di samping Sara. Seakan Evan ingin menemani Sara dan tidak akan membiarkan Mamanya untuk makan sendirian.


“Makasih, Nak,” balas Sara sembari mengusap puncak kepala Evan perlahan.


Tidak membutuhkan waktu lama, makanan di piring Sara telah tandas. Kemudian Sara mengambil satu piring. Mengisinya dengan sayuran dan lauk pauk, kali ini dia akan mengantarkan makan malam untuk suaminya. Biarkan suaminya mengisi perut dan tenaganya terlebih dahulu, supaya Belva bisa kembali berpikir jernih dan menyelesaikan pekerjaannya.


Dengan membawa nampan yang berisi makanan dan air putih, Sara memasuki ruang kerja Belva. Tangannya mengepal dan mengetuk pintu kayu itu.


Tok … Tok … Tok …


“Mas Belva,” sapanya sembari mengetuk pintu kayu itu.


“Hmm, iya … masuk saja Sayang,” balas Belva.


“Mas, makan dulu,” ucapnya.


“Makasih Sayang … cuma kerjaan aku banyak banget. Agaknya aku kerja dulu saja deh,” sahut Belva.


Sara kemudian menarik sebuah kursi dan kemudian wanita itu duduk tidak jauh dari Belva.


“Kamu kerja saja Mas … aku suapin,” ucapnya.


Tangan Sara kini memegang sendok dan mulai mengisi sendok itu dengan makanan, dan berniat untuk menyuapi suaminya itu. Mendengar ucapan Sara, Belva menghela nafas melihat wajah istrinya itu.


“Eh, Sayang,” ucap pria itu merasa terkesiap dengan perlakuan Sara sekarang ini.


“Buka mulutnya, Mas … yuk, aku suapin,” ucap Sara.

__ADS_1


Sebenarnya Belva merasa tidak yakin, terlebih merasa tidak enak karena harus dilayani istrinya sampai seperti ini. Akan tetapi, Belva pun tidak bisa melepas pekerjaannya untuk sekadar makan. Lebih baik, pria itu menunda makan dan segera menyelesaikan pekerjaannya.


“Ayo, buka mulutnya saja. Tidak perlu menghiraukan aku … kamu bisa terus bekerja,” ucap Sara.


Belva menganggukkan kepalanya, kemudian dia menerima suapan demi suapan yang Sara berikan kepadanya. Sesekali Belva melirik ke arah Sara. Baru semalam masalahnya dengan Sara rampung, hari ini justru Belva harus membenamkan dirinya dalam pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Untuk projek dengan jaya Corp, Belva tidak akan main-main. Segala daya akan dia lakukan untuk mendapatkan projek tersebut.


“Kamu sudah makan?” tanya Belva kepada Sara.


Belva juga merasa khawatir jika Sara justru sibuk mengurus Evan dan sekarang mengurusinya, sampai membuat istrinya itu melupakan untuk mengisi perutnya sendiri.


“Sudah kok Mas,” balas Sara.


Sara begitu telaten menyuapi Belva, bahkan Sara pun sesekali menyeka sudut bibir Belva yang kotor karena nasi dan lauk yang dia suapkan. Sampai tidak terasa sepiring nasi lengkap dengan sayur dan lauk pauk itu pun tandas. Kemudian Sara menyodorkan segelas air putih kepada Belva.


“Diminum Mas,” ucap Sara kali ini kepada Belva.


Pria itu menganggukkan kepalanya, tangannya terulur menerima gelas kaca dari Sara dan perlahan meminum air putih itu. Rasanya begitu lega. Tenggorokannya lebih puas dan segar sekarang. Usai melayani suaminya dengan mengisi perut suaminya kosong. Kemudian Sara berbalik dan hendak keluar dari ruang kerja Belva, tetapi sebelum Sara benar-benar berbalik Belva meraih pergelangan tangan Sara dan memegangnya dengan begitu erat.


“Sayang, makasih banyak yah … kamu sudah mau repot-repot nyuapin aku. Maaf, aku harus selesaikan ini dulu yah. Setelah selesai, aku akan menyusulmu,” ucap Belva.


Sebenarnya, Belva juga ingin menikmati waktu dan bermesra-mesraan dengan Sara. Hanya saja, mengingat pentingnya projek ini membuat Belva harus benar-benar bekerja keras. Belva kemudian berdiri, pria itu mengikis jarak wajahnya, dan mendaratkan kecupan di kening Sara. Bibirnya masih bertengger di kening Sara untuk sekian waktu lamanya. Sementara Sara sendiri memejamkan matanya merasakan kecupan hangat bibir Belva di keningnya.


“Makasih banget Sayang … makasih sudah sangat peduli padaku,” ucap Belva.


Sara kemudian memberikan anggukan samar, tangannya kemudian mendorong dada Belva.


“Iya Mas … sudah, silakan kerja lagi. Sekarang perutnya sudah terisi, jadi bisa berpikir dengan jernih kembali. Semangat bekerjanya,” ucap Sara.


Usai mengatakan semuanya itu, Sara berjalan dan meninggalkan Belva seorang diri di dalam ruang kerja itu. Sara memilih untuk terus berjalan dan memberikan waktu kepada suaminya itu untuk menyelesaikan pekerjaanya. Kali ini, Sara juga tidak akan mengambek, karena jika dia mengambek justru Belva yang akan dirugikan. Untuk itu, Sara memilih segera keluar dari ruangan kerja Belva, memberi waktu kepada suaminya itu untuk menyelesaikan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2