
Rupanya sosok wanita bernama Kalina itu masih berlari dan sedikit mengejar Belva yang sudah berjalan bersama Sara dan juga Evan. Bahkan kini Kalina tak segan untuk memegang tangan Belva untuk menghentikan pria itu.
"Tunggu aku, Belva," ucap Kalina dengan masih memegangi pergelangan tangan Belva.
Namun, tidak berlangsung lama, Belva segera menghempaskan tangan Kalina itu.
"Maaf, tidak perlu memegangku," ucap Belva.
Sekaligus menolak, terlihat Belva menolak dengan sopan. Terlebih sekarang mereka berada di tempat umum, sehingga tidak mungkin memancing keributan di tempat itu.
"Belva, tunggu aku ... masih ada yang ingin aku bicarakan," ucap Kalina pada akhirnya.
Mendengar ucapan Kalina dan gestur tubuh wanita cantik itu, Sara memilih mengalihkan perhatian Evan. Sebab, Sara sendiri juga tidak ingin putranya justru terpengaruh dengan pemandangan yang ada di depan matanya.
"Evan, mau jalan-jalan sama Mama dulu?" tanya Sara.
Akan tetapi, upaya Sara sia-sia karena Evan hanya ingin melanjutkan perjalanan bersama dengan Papanya sekaligus.
Memahami ketidaknyamanan Sara, akhirnya Belva akan memberi waktu sebentar bagi Kalina untuk berbicara.
"Baiklah, waktumu lima menit ... setelahnya aku harus pergi dengan Istri dan Putraku," balas Belva.
Wanita itu kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Belva, dulu... Mama kamu sempat hendak menjodohkan aku denganmu karena Mamamu khawatir bahwa anaknya menduda di usia muda dan memiliki seorang bayi. Tak ku sangka kamu sudah menikah," ucap Kalina lagi.
Kalina lantas melirik ke arah Sara dan mengamati perut Sara yang terlihat menyembul. Bisa dipastikan bahwa kini Sara telah mengandung.
__ADS_1
"Belva, kalau kamu ingin menyewa rahim di masa depan, kamu bisa menyewaku. Aku tidak keberatan. Mendiang Anin pernah bercerita, kamu menyewanya lima milyar kan?" tanya Kalina.
Tentu saja apa yang diucapkan oleh Kalina, samar-samar Sara juga mendengarnya. Mendengar fakta sewa rahim, rasanya hati Sara bagai dicubit. Sara adalah pelakunya. Sudah pasti banyak orang mengira bahwa Sara melakukan itu untuk menerima uang dalam jumlah besar dari Belva Agastya, sang CEO itu.
Dalam benaknya, Sara pun berpikir apakah memang ada pihak-pihak tertentu yang mengetahui sewa-menyewa rahim antara dirinya dan Belva dulu? Bukan hanya perihal hatinya yang Sara pedulikan, tetapi tentang Evan. Evan sedang berada di fase kritis, sehingga sangat mungkin Evan menanyakan banyak hal kepadanya. Untuk itu, Sara pun harus menjaga perasaan Evan.
"Anin tidak mungkin mengatakan demikian?" sahut Belva kali ini.
Akan tetapi, justru Kalina tersenyum sinis dan menatap Belva. "Aku sudah mengenal Anin sejak lama. Banyak hal yang dia ceritakan kepadaku, termasuk sewa menyewa rahim itu," balas Kalina.
Belva tidak sepenuhnya percaya, dia sangat tahu bagaimana mendiang istrinya dulu. Bisa saja yang Kalina ucapkan hanya sebuah bualan semata.
Kalina kemudian menatap Sara, memperhatikan wanita cantik, tapi terlihat begitu sederhana itu.
"Tidak kukira selera seorang Belva Agastya sesederhana itu. Kukira lepas dari Anin, kamu akan memilih menikahi seorang model yang cantik dan sexy. Namun, rupanya kamu hanya menikahi wanita yang begitu sederhana," ucap Kalina. Perkataannya seakan Kalina tengah memandang rendah Sara sekarang ini.
Lagi-lagi Kalina justru tersenyum, "Aku akan pergi Belva, hanya saja jika kamu ingin menyewa rahim, kamu bisa menghubungiku," ucap Kalina dengan berlalu begitu saja.
Saat Kalina pergi, Sara memilih menekan perasaannya. Tak ingin terlihat bersedih dan terluka di hadapan Evan saat ini. Jujur saja, hatinya sedih. Namun, sewa rahim di masa lalu sudah berakhir. Tidak ada lagi sewa menyewa rahim. Namun, orang-orang masih menghakiminya berdasarkan apa yang mereka ketahui di masa lalu.
"Mama, Mama tidak apa-apa kan?" tanya Evan kini kepada Mamanya yang terlihat bersedih dan mata yang tampak berkaca-kaca di sana.
"Iya Evan, Mama tidak kenapa-napa kok. Tenang saja," balas Sara.
"Ya sudah, Ma ... belikan boneka satwa itu boleh Ma?" pinta Evan sekarang ini.
"Boleh, yuk ... Mama belikan apa yang kamu sukai," balas Sara.
__ADS_1
Kemudian Sara dan Evan berhenti sejenak di counter hiasan dan aneka suvenir itu. Banyak barang yang dijual di sana mulai dari baju-baju, boneka dengan motif Satwa, juga berbagai gantungan kunci yang lucu dan unik. Sementara Belva mengekori istri dan putranya itu.
Kali ini Belva memilih diam, di resort nanti dia akan menjelaskan semua kepada istrinya itu. Memberikan penjelasan sekarang juga, rasanya juga enggak enak. Di tempat umum, dan membahas rumaht angga bersama rasanya ada hal yang kurang pantas.
"Mama, belikan Evan pinguin dan gajah yah?" pinta Evan saat berada di toko suvenir itu.
"Iya, boleh... belikan untuk Jerome juga ya Kak Evan. Nanti kalau kita jalan-jalan ke Bogor, kita berikan oleh-oleh untuk Jerome," balas Sara.
Sampai akhirnya Evan pun memilih beberapa boneka di sana, dan Evan juga memilihkan untuk Jerome. Untung saja Mamanya mengingatkan kepada Evan untuk membelikan untuk Jerome juga.
"Buat Jerome dibelikan monyet dan koala saja Ma," balas Evan.
Merasa bahwa yang dibeli Evan sudah cukup banyak, kemudian Sara membawa boneka aneka satwa itu ke kasir dan segera membayarnya. Saat hendak membayar rupanya Kalina juga berada di sana, dan mengucapkan perkataan yang tidak berkenan.
"Hei, Sara ... Wanita Lima Milyarnya Belva Agastya," sapanya.
Tentu saja disapa dan disebut identitasnya dengan ucapan yang syarat akan cibiran membuat Sara benar-benar geram. Lima Milyar dari Belva nyatanya dia gunakan untuk membeli rumah, mobil, dan mengembangkan Coffee Bay. Hasil jualan kopi saja, Sara deposito kan supaya dirinya bisa turut menyiapkan tabungan rencana pendidikan untuk Evan dan adiknya nanti.
Saat Belva dan Anin hendak memberikannya uang lagi usai melahirkan Evan pun, Sara menolaknya karena kasih sayangnya yang begitu tulus untuk Thania.
"Sama seperti Anin yang sudah berbuat baik kepadaku, aku tidak mempersalahkan ucapan darimu itu," balas Sara.
Kalina mendengkus kesal. Sungguh-sungguh tidak menyangka bahwa ucapannya tidak berpengaruh bagi Sara. Ingin rasanya Kalina bisa menghidupkan api kecemburuan bagi dua pasangan itu. Akan tetapi, nyata-nyata tidak berhasil. Kalina berjanji akan membuat Sara cemburu di lain waktu.
"Kamu terlalu percaya diri," sahut Kalina.
Tak ingin terpengaruh, Sara segera menyelesaikan untuk membayar boneka-boneka satwa yang dipilih Evan. Setelahnya dia akan pergi dengan membawa serta Evan juga. Biarlah anjing menggonggong dan khafilah berlalu. Dengan cara itu juga Sara akan membiarkan ucapan pedas seorang Marsha.
__ADS_1