
"Kamu kan secara ibu hamil, kenapa tertarik kelas seperti ini sih?" tanya Zaid yang turut duduk bergabung dengan Sara.
Agaknya waktu istirahat benar-benar dimanfaatkan pria itu untuk semakin mengenal Sara. Di hadapannya kini, Zaid menilai bahwa Sara adalah wanita yang unik dan cantik. Sara memiliki wajah yang cantik, sementara sisi keunikannya adalah karena sekali pun wanita itu tengah hamil, tetapi Sara terlihat tertarik untuk belajar meracik minuman.
Biasanya mereka yang turut mengambil kelas meracik kopi dan minuman adalah para pria, dan kali ini ada Sara yang terlihat begitu menikmati kelas di Kopi Lab ini.
Menyadari Zaid yang duduk di sebelahnya, Sara lantas sedikit menggeser duduknya. Tidak ingin terlalu dekat dengannya. Kendati demikian, Sara tetap menjawab pertanyaan Zaid.
"Hanya mengisi waktu luang," jawab Sara singkat.
Jawaban Sara memang hanya sebatas ala kadarnya. Sebab, sejujurnya Sara sukar untuk dekat dengan orang yang baru dia temui. Sehingga, kali ini pun jawabannya hanya singkat.
Di satu sisi, tampak Zaid masih ingin berlama-lama mengobrol dengan Sara. Pria itu nyatanya masih duduk di samping Sara.
"Setelah kelas ini berakhir mau enggak ke kafe depan bareng aku?" tanya Zaid kepada Sara.
Akan tetapi, Sara segera menggelengkan kepalanya, "Ah, tidak ... tidak perlu. Lagipula, aku sudah dijemput," jawab Sara.
Setidaknya memang Belva sudah mengatakan sebelumnya bahwa dia yang akan menjemput Sara usai kelas meracik minuman di Kopi Lab. Selain itu, Sara baru sekian menit mengenal Zaid, sehingga dirinya juga tidak ingin bersama pria itu ke kafe.
"Suamimu ya menjemput?" tanya Zaid lagi.
Rasanya saat ini Sara merasa bahwa pria itu tampak terlalu mendekatinya dan sikap seperti itu membuat Sara merasa tidak nyaman. Kendati demikian Sara pun mengangguk, "Iya, suamiku," jawab Sara.
Tidak terasa Traineer kembali memanggil para peserta untuk kembali mengikuti sessi berikutnya. Kali ini, Sara juga memperhatikan apa yang disampaikan oleh Traineer tersebut.
Namun, saat tengah memperhatikan materi dari Traineer, Sara teringat bahwa Belva juga ingin dibuatkan minuman yang diraciknya di Kopi Lab. Rasanya, wanita tersenyum dalam hati. Seolah-olah bahwa dirinya memang ingin menjadikan Belva sebagai kelinci uji coba. Ya, Sara akan membuatkan minuman bagi Belva dan meminta pria itu untuk mencobanya.
Hingga tidak terasa kelas pun telah usai, dan Sara berjalan keluar menunggu Belva yang akan menjemputnya. Baru kali ini Sara merasakan Belva yang menjemputnya. Apakah ini hanya perlakuan baik belaka? Atau memang Belva yang mulai memperhatikannya?
Kini, Sara tengah menunggu di luar dan berharap Belva akan segera datang. Langit di luar sudah mulai menggelap, kendati baru jam 17.30. Mungkin saja akan turun hujan. Untuk itu, Sara memang berharap Belva akan segera menjemputnya.
__ADS_1
Akan tetapi, saat Sara tengah menunggu rupanya Zaid pun turut berdiri tidak jauh dari Sara.
"Hei, Sara ... kamu masih di sini? Belum dijemput ya?" tanya Zaid kepada Sara.
"Iya, aku masih menunggu jemputan," balas Sara.
Wanita itu lantas sedikit bergeser, supaya tidak terlalu dekat dengan Zaid. Perasaannya menjadi tidak enak saja.
"Atau mau ku anterin sekalian? Rumahmu di mana? Keliatannya langitnya mendung dan akan turun hujan," ucap Zaid yang ternyata menawarkan untuk mengantar Sara.
Dengan cepat Sara pun menggelengkan kepalanya, "Tidak. Lagipula aku sudah dijemput, cukup menunggu saja." Ya, Sara hanya sekadar menunggu, lagipula Belva sendiri yang sudah mengatakan akan menjemputnya.
Zaid pun mengangguk, pria itu lantas melihat jam di pergelangan tangannya dan kemudian sedikit melirik ke arah Sara, "Yakin? Sudah lebih dari sepuluh menit," ucap Zaid lagi.
"Iya, aku akan menunggunya datang," jawab Sara pada akhirnya.
Zaid kemudian tersenyum, "Sara, aku jujur ya ... ada hal yang unik dalam dirimu, tetapi aku tidak tahu apa. Bukan maksudmu membuatmu tidak nyaman, hanya saja mulai hari ini bisakah kita berteman?" tanya Zaid.
Tampak Sara yang mengerjap, berteman yang seperti apa yang dimaksud oleh Zaid. Bukankah tadi di dalam, mereka sudah berkenalan. Apakah perlu harus berteman.
"Bagaiamana Sara, mau berteman denganku?" tanya Zaid lagi dan dia tampak mengulurkan tangannya kembali.
Sebenarnya enggan, tetapi Sara kemudian mengangguk. Wanita juga turut mengulurkan tangannya, menjabat tangan Zaid.
Betapa bahagianya Zaid saat melihat Sara yang merespons uluran tangannya. "Wah, keren ... mulai hari ini kita berteman ya," ucapnya dengan mengembangkan senyuman di wajahnya.
Tidak disangka rupanya beberapa meter di depan sana mobil Belva telah tiba di depan Kopi Lab. Dari kaca jendela mobilnya, Belva melihat Sara yang tampak berjabat tangan dengan seorang pria. Rasanya Belva tidak ingin ada pria lain yang memegang tubuh Sara, sekali pun hanya tangannya. Oleh karena itu, Belva segera mematikan mesin mobilnya dan menghampiri Sara dengan segera.
Namun, saat Belva hendak membuka pintu mobilnya, nyatanya hujan turun rintik-rintik. Maka dari itu, Belva harus menahan diri dan mencari payung terlebih dahulu, setelahnya barulah Belva segera turun dan menghampiri Sara.
Pria itu sedikit berdehem dan menatap wajah Sara.
__ADS_1
"Ehem, Sara ... ayo kita pulang," ucap Belva.
Sontak saja kedatangan Belva dan sapaan dari Belva membuat Sara refleks melepaskan tangan Zaid. Lantas, Sara pun berpamitan terlebih dahulu kepada Zaid.
"Baiklah, aku pulang dulu, Zaid." Sara berpamitan sembari sedikit menganggukkan kepalanya kepada pria yang baru saja yang menjadi temannya.
Belva tampak mengulurkan tangannya, membuka payung yang dia bawa, dan membawa Sara untuk lebih mendekat padanya.
"Hati-hati Sara, jalannya licin," ucap Belva yang sedikit melirik ke arah Zaid.
Saat Sara berjalan, rupanya Belva segera merangkul bahu Sara. Pria itu membiarkan sisi lengannya sedikit basah terkena air hujan. Sebab, Belva memberikan payungnya lebih banyak untuk Sara. Tidak membiarkan Sara kebasahan. Bahkan begitu tiba di depan mobil, Belva pun membukakan pintu bagi Sara terlebih dahulu. Setelahnya barulah pria itu mengitari mobil dan memasuki mobil.
Baru duduk di dalam mobil, Belva sudah menatap tajam pada Sara.
"Jadi, itu tadi siapa Sara?" tanya Belva. Pertanyaan yang seakan menginterogasi Sara.
"Teman baru, Pak ... namanya Zaid," jawab Sara dengan jujur.
Akan tetapi, nyatanya wajah Belva menunjukkan bahwa dirinya tidak menyukai dengan pria itu. Belva pun juga merasa dirinya tidak suka Sara berdekatan dengan pria lain selain dirinya.
"Apa harus pegang-pegangan tangan seperti itu?" tanya Belva pada akhirnya.
Seakan tak percaya, Sara pun mengerjap, "Maksudnya apa Pak? Kami cuma berkenalan. Jabat tangan berkenalan dengan teman baru," sahut Sara.
Rasanya aneh, Belva menunjukkan ketidaksukaannya seperti ini. Sehingga Sara tak menoleh dan melihat wajah Belva yang terlihat tengah mengeraskan rahangnya.
Lantas Belva mengambil hand sanitizer dan menyemprotkannya begitu saja ke tangan Sara, "Banyak kuman ... ibu hamil harus lebih menjaga kebersihan," ucapnya.
Bahkan tangan Belva sendiri yang bergerak membersihkan kedua telapak tangan Sara. Rasanya memang pria itu tengah berusaha menghilangkan jabat tangan pria bernama Zaid itu di telapak tangan Sara.
Sara membolakan matanya, melihat tangan besar Belva yang tampak membersihkan telapak tangannya dengan hand sanitizer, bahkan pria itu tampak menyemprotkan hand sanitizer beraroma lemon itu beberapa ke tangan Sara.
__ADS_1