
Keesokan paginya, usai Belva berangkat ke kantor. Di rumah besar itu hanya menyisakan Anin dan Sara. Sementara Mbok Tinah tengah sibuk di dapur dan juga mengurus jemuran. Lantaran merasa membutuhkan teman untuk mengobrol, Anin kemudian menyambangi kamar Sara.
“Sara, kamu sedang ngapain di dalam?” tanyanya kepada Sara.
“Masuk saja Kak,” sahut Sara sedikit berteriak.
Tidak menunggu waktu lama, Anin pun membuka pintu kamar Sara, wanita itu kemudian duduk di sofa melihat Sara yang tengah membaca sebuah buku.
“Apa aku mengganggumu?” tanyanya kepada.
Merasa bahwa Anin datang dan membutuhkan atensinya, karena itulahnya Sara menaruh sejenak buku yang sedang dia baca. “Ah, tidak Kak … Kakak tidak menggangguku kok. Ada apa Kak?” tanyanya kini kepada Anin.
“Bagaimana pemeriksaanmu semalam?” tanya Anin pada akhirnya.
Sara kemudian menatap wajah Anin sejenaknya. “Oh, pemeriksaan. Baik Pak, janinnya sudah berusia 4 minggu. Kata Dokter sih ukurannya sekarang kira-kira sebesar biji kacang hijau. Masih kecil sekali,” jawab Sara.
Anin pun tersenyum, tidak dipungkiri dalam hatinya dia juga merasa bahagia karena akhirnya Sara telah mengandung. Hanya tinggal menunggu waktu lagi bagi Anin untuk bisa menimang bayi, dan itu adalah bayi dari Sara.
“Kamu sendiri sehat?” tanya Anin kini kepada Sara.
Sara kemudian mengangguk, “Sehat Kak … rasanya aku tidak mengalami gejala-gejala kehamilan sama sekali. Akan tetapi, mungkin Pak Belva yang terkena Couvade Syndrom atau kehamilan simpatik,” jelas Sara kali ini kepada Anin.
“Oh, begitu … jadi Belva ya yang ngidam?” tanya Anin lagi. Agaknya memang, Anin lebih banyak bertanya dan ingin tahu seputar kehamilan Sara. Oleh karena itulah, sejak tadi Anin banyak memberikan pertanyaan kepada Sara.
“Iya, yang mual dan muntah adalah Pak Belva,” sahut Sara.
Kemudian Anin tampak berpikir sejenak, wanita itu kemudian tersenyum menatap Sara. “Oh, kalau begitu … apa sebaiknya tiap malam biar Belva tidur di sini bersamamu? Biar dia tidak mual dan muntah.” Tiba-tiba saja Anin berbicara seperti itu.
Sara menerka-nerka apakah Anin serius dengan ucapannya. Wajah Anin terlihat biasa saja, tetapi bagaimana dengan hatinya? Wajah bisa menutupi raut ekspresi, lidah bisa bersilat dan berbohong, tetapi hati manusia selalu jujur dan tanpa rekayasa bukan?
__ADS_1
Untuk menjaga perasaan Anin, Sara pun menggelengkan kepalanya, “Ah, tidak Kak … tidak perlu,” jawabnya. Sebab, bagaimana pun Sara merasa tidak enak hati dengan hati.
Anin kemudian tertawa, “Kenapa, kamu tidak enak hati padaku?” tanyanya kali ini secara langsung.
“Tidak perlu sungkan, aku dengar Ibu hamil lebih membutuhkan perhatian dari suaminya. Oleh karena itu, tidak masalah jika Belva akan bermalam di sini dulu. Aku melakukannya semata-mata bukan untuk dirimu, tetapi buah hatimu juga membutuhkan Papanya bukan?” tanya Anin kini kepada Sara.
Ya Tuhan, barulah Sara terkesiap. Ada rasa nyeri yang menjalari hatinya. Jadi semua orang sekarang bersikap baik padanya hanya semata-mata bayi Belva yang sedang tumbuh dalam rahimnya. Tentu saja Sara senang orang-orang di rumah ini memperhatikannya, tetapi tetap saja bagi Sara semua itu terjadi karena dirinya tengah hamil. Tidak ada yang benar-benar tulus baik kepadanya.
Bahkan sejak dulu pun, jikalau ada orang yang bersikap baik kepadanya, semata-mata hanya karena sebuah hubungan timbal balik. Dalam hal ini, Sara hanya bisa menggigit bibir bagian dalamnya. Hidupnya memang pelik, hanya saja Sara juga mengharapkan bahwa ada orang yang akan tulus kepadanya.
“Tidak perlu, Kak … aku dan anak ini akan baik-baik saja. Aman Kak,” sahutnya kini.
Anin kembali tersenyum, “Terserah padamu, Sara … hanya saja kamu tidak perlu sungkan kepadaku. Suamiku juga adalah suamimu,” sahutnya.
Memang benar Belva yang adalah suami Anin juga adalah suami Sara. Akan tetapi, bagaimana pun Sara harus tahu diri karena bagaimana pun istri pertamalah yang memiliki hak lebih. Untuk itu, Sara tidak akan berusaha melanggar batas itu. Biarlah dirinya yang harus berusaha menekan perasaannya. Lagipula, kasih sayangnya untuk buah hatinya cukup, sehingga tanpa harus bermalam dengan Belva pun, semua bisa berjalan dengan sebagaimana mestinya.
Wanita yang tengah hamil muda itu pun mengernyitkan keningnya, “Pemotretan lagi Kak? Bukankah Kakak baru saja datang dari Semarang?” tanya Sara.
“Iya, memang menjadi model seperti ini Sara. Kapan pun agensi memberikan jadwal untuk pemotretan harus siap,” jawab Anin.
Mendengar ucapan Anin, Sara hanya bisa mengangguk. Tiba-tiba saja Sara membayangkan bagaimana Belva kesepian di rumah, jika Anin memiliki jam terbang yang begitu tinggi. Karier modellingnya memang cemerlang, karena itulah banyak sessi pemotretan yang dijalani Anin.
“Baik Kak, jaga diri Kakak baik-baik … bagaimana dengan jadwal terapi selanjutnya Kak? Ayolah Kak, bersemangatlah … aku yakin Tokophobia itu akan sembuh. Oh, iya … Kakak bisa juga berbagi cerita Kakak kepadaku,” pinta Sara kali ini.
Anin kemudian tersenyum hambar, “Makasih Sara … kamu sudah menyemangatiku. Oke, nanti aku akan jadwalkan terapi lagi. Temani aku yah?” pintanya kali ini.
“Siap Kak, kapan pun kamu terapi, aku akan menemanimu. Aku benar-benar berharap bahwa Kakak akan sembuh,” ucap Sara.
Bukan sekadar ucapan, tetapi Sara memang sangat mengharapkan Anin bisa sembuh. Lagipula semua wanita pasti ketakutan menjelang persalinan, bahkan sekarang aja hypnobirth yang bisa membantu mereka yang ketakutan melahirkan dengan memanfaatkan metode hipnotis.
__ADS_1
“Iya Sara … aku titip Belva ya, selama aku ke Bali nanti,” pinta Anin kali ini.
“Ii … iya Kak,” sahut Sara dengan merasa tidak enak hati.
***
Malam harinya …
Di meja makan malam itu, Belva, Anin, dan Sara seperti biasa menikmati makan malam mereka. Sekali pun, keheningan masih menyelimuti di sana, tetapi Sara hanya perlu bertahan sekian menit untuk memasukkan makanan ke dalam perutnya saja. Sungkan, memang … hanya saja mau tidak mau dia tetap harus makan malam bersama Belva dan Anin.
“Ayo, makan yang banyak Sara … kamu hamil kan? Jadi makan yang banyak, karena si bayi juga membutuhkan nutrisi,” ucap Anin sembari mengambilkan sayuran untuk Sara.
“Eh, sudah Kak … ini terlalu banyak. Aku tidak akan habis,” ucap Sara yang berusaha menutupi piringnya dengan tangan karena Anin akan menambahkan sayuran dan lauk ke atas piringnya.
“Baiklah, hanya saja makan yang cukup ya,” ucap Anin lagi.
“Kamu ingin menambah lauk? Biar aku yang mengambilkan.” Kali ini Anin menawarkan kepada Belva apakah pria itu ingin menambah lauk di piringnya.
Akan tetapi, Belva menggelengkan kepalanya, “Tidak … sudah, terima kasih,” sahutnya kali ini dengan wajahnya yang datar.
“Sayang, kamu malam ini tidur bersama Sara saja ya … kasihan, dia dan anaknya pasti membutuhkan dirimu,” ucap Anin dengan tiba-tiba.
Sara hanya bisa menunduk mendengarkan ucapan Anin, sungguh dia tidak menyangka bahwa Anin yang terang-terangan meminta Belva untuk bermalam di kamarnya.
“Eh, Kak … tidak perlu. Aku bisa tidur sendiri,” sela Sara karena dia merasa tidak enak hati dan juga sungkan.
Belva lantas melirik sejenak kepada Sara, “Aku akan mampir ke kamarmu sebentar, dan aku akan kembali ke kamarku setelah kamu tidur,” ucapnya.
Ya Tuhan, situasi apa ini. Mengapa Anin justru meminta Belva bermalam di kamarnya, sementara kini Belva sendiri mengatakan akan mampir sebentar. Benar-benar situasi rumah tangga yang membuat Sara pusing sendiri dibuatnya.
__ADS_1